youngster.id - Pameran otomotif GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 menandai pergeseran fokus industri otomotif nasional. Tidak lagi sekadar mengadu performa mesin dan efisiensi bahan bakar, daya saing utama kendaraan kini berpusat pada kecanggihan teknologi keselamatan aktif yang mampu mengenali dan mencegah risiko kecelakaan.
Mengusung tema “Eye of the Future”, GIIAS 2026 menekankan bahwa kemajuan teknologi otomotif masa depan diukur dari kemampuannya melindungi pengemudi serta pengguna jalan lainnya.
“Perkembangan teknologi terus mendorong budaya berkendara yang semakin aman, nyaman, dan efisien. Tantangan industri ke depan adalah memastikan manfaat teknologi canggih ini dapat dipahami dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat,” ujar Vice Compartment Future Automotive Technology & Renewable Energy GAIKINDO, Ardhana Wiranata, dikutip Sabtu (8/8/2026).
Skema Sense, Think, Act: Masa Depan Sistem Keselamatan
Melalui kolaborasi di Booth Safety & Advanced Technology, GAIKINDO bersama Bosch Indonesia mendemonstrasikan cara kerja ekosistem sensor dan kecerdasan komputasi sebagai satu sistem perlindungan pintar. Sistem ini bekerja melalui tiga tahapan utama, diawali dengan tahap Sense (Melihat), di mana kombinasi Multi-Purpose Camera, Radar Sensor, dan Ultrasonic Sensor bertindak sebagai “mata” tambahan untuk memindai marka jalan, pejalan kaki, hingga titik buta (blind spot).
Selanjutnya pada tahap Think (Berpikir), perangkat lunak komputasi mengolah seluruh data sensor dalam hitungan milidetik guna menganalisis potensi bahaya secara real-time. Proses ini diakhiri dengan tahap Act (Merespons), ketika sistem Integrated Power Brake memberikan pengereman presisi dan instan saat risiko benturan meningkat tanpa menghilangkan kendali penuh dari pengemudi.
Director of Mobility Solution Bosch Indonesia, Bernard Simanjuntak, menjelaskan bahwa penerapan teknologi keselamatan modern kini tidak hanya mereduksi dampak kecelakaan, tetapi juga membantu mengantisipasi bahaya sejak lebih dini.
Pengembangan teknologi kendaraan berbasis keselamatan ini sekaligus mendukung pencapaian Global Road Safety Target 5 PBB serta pilar Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Lalu Lintas di Indonesia menuju standar transportasi aman pada 2030. (*AMBS)
