youngster.id - Studi terbaru dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengungkapkan bahwa kehadiran Kecerdasan Buatan Generatif (Generative Artificial Intelligence/GenAI) akan memengaruhi kehidupan kerja hampir 80 juta orang atau sekitar 22,9% dari total tenaga kerja di kawasan ASEAN. Dari jumlah tersebut, Indonesia mencatatkan tingkat paparan teknologi yang cukup signifikan.
Berdasarkan laporan bertajuk “Generative AI and labour markets in ASEAN: Significant exposure, limited disruption, uneven preparedness”, sebanyak 21,7% pekerja di Indonesia kini berada dalam okupasi pekerjaan yang terpapar potensi penggunaan GenAI. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi ketiga di Asia Tenggara setelah Singapura (42,2%) dan Filipina (28,1%).
Kendati tingkat paparan di wilayah ASEAN tergolong tinggi, ILO menegaskan bahwa potensi disrupsi massal atau pemutusan hubungan kerja (PHK) berskala besar akibat AI belum terlihat di lapangan. Pekerjaan di sektor yang paling terpapar justru tercatat terus mengalami perluasan.
Kesenjangan Gender dan Kesiapan Regional yang Timpang
Riset tersebut menyoroti adanya kesenjangan gender yang sangat mencolok dalam pemanfaatan teknologi baru ini. Pekerja perempuan di kawasan ASEAN memiliki peluang dua kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki untuk berada di lingkup pekerjaan yang terpapar GenAI. Hal ini mencerminkan tingginya konsentrasi pekerja perempuan di sektor klerikal, administrasi kantor, dan peran profesional.
Selain masalah gender, terdapat “kesenjangan kesiapan” (preparedness gap) yang timpang di Asia Tenggara. Singapura saat ini memimpin sebagai ekosistem AI yang kompetitif secara global berkat infrastruktur digital yang canggih dan kesiapan talenta. Sementara itu, adopsi AI di negara ASEAN lainnya masih berada di tahap awal dan cenderung terkonsentrasi hanya pada sektor padat teknologi.
Ekonom Senior sekaligus penulis utama laporan ILO, Christian Viegelahn, menekankan bahwa dampak AI di masa depan akan sangat bergantung pada respons kebijakan pemerintah setempat.
“Memanfaatkan manfaat GenAI membutuhkan lebih dari sekadar akses ke teknologi. Peningkatan produktivitas bergantung pada investasi modal manusia dan perlindungan sosial. Hasil pasar kerja masa depan akan sangat bergantung pada pilihan kebijakan untuk membangun kesiapan serta ketahanan pekerja, perusahaan, dan institusi,” jelas Christian, dikutip Rabu (15/7/2026).
Guna memastikan implementasi AI dapat berdampak inklusif, ILO merekomendasikan beberapa prioritas regional bagi negara anggota ASEAN. Langkah tersebut meliputi tata kelola AI yang berpusat pada manusia (human-centred), perluasan program upskilling dan reskilling untuk perempuan dan anak muda, serta dukungan digitalisasi bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). (*AMBS)
