youngster.id - Perusahaan penyedia solusi manajemen hubungan pelanggan (CRM) berbasis kecerdasan buatan (AI), Salesforce, mengumumkan kesepakatan definitif untuk mengakuisisi platform keterlibatan pelanggan (customer engagement), Braze. Nilai akuisisi tersebut diperkirakan mencapai US$5,66 miliar (sekitar Rp89 triliun) dengan penawaran tunai sebesar US$47,50 per saham bagi pemegang saham Kelas A Braze.
Langkah korporasi ini dirancang untuk menggabungkan kapabilitas real-time event-streaming dan kecerdasan buatan BrazeAI ke dalam ekosistem Salesforce—meliputi Data 360, Customer 360, Agentforce, dan SIForce. Penggabungan ini ditujukan untuk membantu perusahaan global, termasuk pelaku industri di Indonesia, dalam merespons perilaku konsumen secara langsung (real-time) lintas kanal seperti aplikasi seluler, surel, SMS, hingga WhatsApp.
President, Applications and Marketing Salesforce, Patrick Stokes, menyampaikan bahwa kemampuan Braze dalam mengolah data perilaku konsumen secara langsung akan memperkuat pengalaman interaksi pelanggan.
“Setiap interaksi adalah kesempatan untuk memukau pelanggan Anda. Sebagian besar kekaguman itu berasal dari pemahaman tentang pelanggan dan respons di saat yang tepat. Braze dibangun untuk mengubah perilaku pelanggan langsung menjadi keterlibatan terpersonalisasi dalam skala besar,” ujar Patrick, dikutip Kamis (22/10/2026).
Integrasi Teknologi untuk Personalisasi Skala Besar
Braze saat ini melayani sekitar 2.770 pelanggan global, termasuk platform digital populer yang juga banyak digunakan di Indonesia seperti Canva dan Instacart. Melalui arsitektur asinkron berbasis cloud-native, platform ini mampu mengelola triliunan pesan serta memperbarui profil perjalanan pelanggan (customer journeys) secara instan.
CEO dan Co-Founder Braze, Bill Magnuson, menyambut baik sinergi dengan Salesforce guna mempercepat inovasi bagi para pemasar (marketers) di seluruh dunia.
“Salesforce memiliki komitmen yang sama terhadap para pemasar, dan kami akan terus membangun Braze serta berinvestasi pada komunitas pelanggan dan mitra yang telah membangun perusahaan ini bersama kami,” ungkap Bill Magnuson.
Setelah transaksi rampung—yang ditargetkan pada tahun fiskal 2028 Salesforce—kolaborasi ini difokuskan pada tiga pilar utama bagi dunia usaha. Pertama, kemampuan merespons perilaku konsumen secara seketika (real-time) dengan memanfaatkan sinyal data langsung dari gudang data (data warehouses) untuk mengoordinasikan pesan terpersonalisasi saat konsumen sedang menjelajahi atau membeli produk.
Kedua, penyediaan pengalaman yang lebih kaya lintas kanal dengan memperkuat kapabilitas pesan dalam aplikasi (in-app messages), umpan konten terpersonalisasi, pembaruan langsung, hingga integrasi yang mulus dengan berbagai kanal perpesanan konvensional.
Ketiga, peningkatkan personalisasi berbasis AI melalui integrasi BrazeAI dengan sistem konteks pelanggan serta agen otomatis Salesforce (Agentforce) guna mengoptimalkan penyampaian konten, penawaran, penentuan waktu, hingga pemilihan kanal secara presisi.
Dampak bagi Lanskap Pemasaran Digital Indonesia
Bagi ekosistem teknologi dan pemasaran digital di Indonesia, akuisisi bernilai fantastis ini menandai pergeseran tren industri menuju otomatisasi pemasaran berbasis agen AI (agentic solutions).
Dengan semakin ketatnya tuntutan konsumen digital lokal terhadap kecepatan respons dan personalisasi layanan, integrasi teknologi Salesforce dan Braze diproyeksikan bakal menjadi standar acuan baru bagi korporasi di Tanah Air dalam merancang strategi omnichannel yang lebih efektif, akurat, dan berorientasi pada hasil bisnis jangka panjang. (*AMBS)
