youngster.id - Riset terbaru dari Populix mengungkap adanya pergeseran makna baju Lebaran di kalangan Gen Z dan Milenial. Mayoritas anak muda kini lebih mengutamakan kelayakan pakaian dan kondisi keuangan dibandingkan keharusan membeli baju baru.
Meskipun Idulfitri identik dengan simbol pembaruan, hanya 29% responden yang masih menganggap baju baru sebagai keharusan. Selebihnya, 30% responden lebih mementingkan faktor kelayakan baju yang sudah ada, sementara 26% lainnya baru akan membeli baju baru jika kondisi finansial memungkinkan.
Tren baju seragam atau “sarimbit” tetap mendominasi, di mana 7 dari 10 keluarga di Indonesia berencana mengenakan pakaian senada. Motif utamanya adalah untuk menciptakan kesan rapi saat foto bersama dan sebagai simbol kebersamaan keluarga besar maupun inti.
Media sosial menjadi sumber inspirasi utama bagi 82% responden, disusul oleh platform live streaming (39%).
Research Director Populix, Susan Adi Putra, menjelaskan bahwa pengaruh platform digital sangat kuat dalam menentukan pilihan fesyen masyarakat saat ini.
Untuk Lebaran tahun ini, Gen Z dan Milenial cenderung memilih gaya berpakaian yang minimalis, rapi, dengan potongan sederhana.
“Terdapat tren pakaian fungsional yang praktis agar dapat dipakai kembali untuk aktivitas lain di luar Idulfitri,” ungkap Susan, Rabu (18/3/2026).
Dari sisi selera warna, terdapat perbedaan yang cukup kontras: Perempuan, mayoritas menyukai warna earth tone (beige, olive, cokelat) dan warna pastel. Sedangkan Laki-laki, cenderung memilih warna putih, warna earth tone, atau warna gelap yang netral.
Terkait anggaran, mayoritas responden mematok harga Rp500.000 atau kurang untuk satu set baju Lebaran. Namun, kelompok Milenial cenderung memiliki daya beli lebih tinggi dengan anggaran mencapai lebih dari Rp1.000.000 dibandingkan kelompok Gen Z.
HENNI S.
