youngster.id - Di tengah langkah Indonesia meletakkan fondasi menuju visi Indonesia Emas 2045, sektor biosolusi diproyeksikan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta transformasi industri nasional. Hal tersebut terungkap dalam laporan terbaru bertajuk Nilai Biosolusi: Pertumbuhan dan Kemakmuran – Edisi Indonesia (The Value of Biosolutions: Growth and Prosperity – Indonesia Edition) yang diluncurkan di Jakarta.
Laporan yang diterbitkan seiring penyusunan peta jalan bioekonomi nasional oleh Kementerian PPN/Bappenas dan pelaksanaan RPJPN 2025–2045 ini menyoroti bagaimana kekayaan sumber daya hayati Indonesia dapat menempatkan Tanah Air sebagai salah satu pemimpin bioekonomi di Asia Tenggara pada masa mendatang.
Berdasarkan studi tersebut, sektor biosolusi di Indonesia berpotensi menghasilkan nilai ekonomi sebesar US$2,23 miliar pada 2035, dengan jumlah lapangan kerja yang tercipta diperkirakan meningkat hampir tiga kali lipat dalam periode yang sama. Nilai ekonomi ini setara dengan lebih dari dua kali lipat nilai ekspor kopi Indonesia saat ini.
Efek Berganda dan Kontribusi Lintas Sektor
Temuan laporan menunjukkan bahwa setiap lapangan kerja baru di sektor biosolusi diperkirakan mampu mendukung penciptaan 3,8 lapangan kerja tambahan di sektor ekonomi lainnya, terutama di bidang pertanian dan sistem pangan. Efek berganda (multiplier effect) ini tercatat hampir 60% lebih tinggi daripada rata-rata global.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menekankan pentingnya peran strategis biosolusi dalam mengintegrasikan kemakmuran ekonomi dengan pelestarian lingkungan.
“Biosolusi merupakan peluang penting bagi Indonesia untuk memanfaatkan kekayaan sumber daya hayatinya guna mendukung kemakmuran ekonomi, pelestarian lingkungan, dan ketahanan nasional. Seiring dengan pengembangan strategi bioekonomi Indonesia, kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan mitra pembangunan akan menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi ini,” ujar Leonardo, dikutip Kamis (29/10/2026).
Pemanfaatan biosolusi dinilai mampu mempercepat pencapaian berbagai prioritas pembangunan nasional, mulai dari ketahanan pangan, diversifikasi energi, transformasi industri, penerapan ekonomi sirkular, hingga penguatan ketahanan jangka panjang.
Dukungan Industri dan Kemitraan Internasional
Country Manager Indonesia Novonesis, Yonny Setiady, menambahkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya dan ambisi besar untuk menjadi pemimpin bioekonomi regional.
“Di berbagai belahan dunia, biosolusi membantu negara-negara menghasilkan lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit, memperkuat ketahanan pangan dan energi, mengurangi emisi, serta membangun industri yang lebih tangguh. Laporan ini menunjukkan bagaimana biosolusi, dengan dukungan kebijakan yang tepat, dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja berkualitas tinggi,” kata Yonny.
Dalam pengembangan strateginya, laporan ini turut menekankan pentingnya pertukaran pengetahuan dan kolaborasi internasional, termasuk mengadaptasi pengalaman negara seperti Denmark dalam pengembangan bioteknologi dan transisi hijau.
Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Timor-Leste, Papua Nugini, dan ASEAN, Yang Mulia Sten Frimodt Nielsen, menyatakan bahwa inovasi berbasis hayati terbukti mampu menciptakan nilai ekonomi nyata sekaligus mendukung transisi berkelanjutan.
“Seiring dengan penyusunan strategi bioekonomi nasional Indonesia, terdapat peluang besar untuk menyatukan berbagai elemen ini dan memastikan bahwa biosolusi menjadi bagian dari pembangunan ekonomi jangka panjang negara,” ungkap Sten. (*AMBS)
