youngster.id - Diperkirakan sebanyak 37 juta warga Indonesia saat ini hidup dengan gangguan penglihatan. Ironisnya, survei komunitas terbaru menunjukkan bahwa 45,8% responden belum pernah sekalipun menjalani pemeriksaan mata secara profesional. Masalah utama bukan pada kurangnya kepedulian masyarakat—mengingat 94,8% menganggap kesehatan mata sebagai prioritas pribadi—melainkan akibat keterbatasan akses dan sumber daya medis yang belum merata.
Menjawab tantangan besar tersebut, gerakan kolaboratif #MelihatMasaDepan hadir sebagai sinergi menyeluruh yang menggabungkan penyaluran hibah, partisipasi publik, dan riset ekosistem. Inisiatif strategis ini didukung langsung oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Ishk Tolaram Foundation, dengan startup sosial Campaign for Good sebagai mitra keterlibatan komunitas.
Melalui skema partisipasi publik yang unik di platform Campaign, sebanyak 1.720 anggota masyarakat terlibat aktif tanpa perlu mendonasikan uang. Cukup dengan menonton video edukasi dan mengisi survei, setiap aksi yang terverifikasi otomatis membuka dana hibah Rp50.000 dari sponsor. Gerakan ini sukses mengumpulkan total dana hibah sebesar Rp71.500.000 untuk organisasi kesehatan mata yang lolos seleksi ketat.
Tiga organisasi sosial berhasil melampaui target partisipasi publik di aplikasi Campaign, yakni Yayasan Pelayanan Anak dan Keluarga (LAYAK) yang mencapai 142%, serta Yayasan Tanpa Batas dan Yayasan Para Mitra Indonesia yang masing-masing mencatatkan angka 127%. Atas capaian tersebut, mereka terpilih untuk menerima dana hibah yang ditingkatkan menjadi Rp95.000.000 per organisasi.
“Bergabung dengan #MelihatMasaDepan bukan hanya membuka akses terhadap dukungan pendanaan, tetapi juga memperluas jaringan berbagi pengalaman untuk memperdalam pemahaman kami mengenai isu kesehatan mata di Indonesia,” ungkap Evie Tarigan, Ketua Umum Yayasan LAYAK, dikutip Sabtu (23/5/2026).
Dana hibah yang terkumpul dari aksi publik di platform Campaign ini langsung dialokasikan untuk membiayai berbagai program berdampak nyata di beberapa wilayah, dimulai dari skrining masif berupa pemeriksaan kesehatan mata ke lebih dari 700 siswa di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT, dan Jabodetabek.
Selain itu, program ini juga merealisasikan pembagian kacamata gratis melalui distribusi 225 pasang kacamata untuk anak-anak dan keluarga di Kupang, Sidoarjo, Trenggalek, dan Purworejo.
Selain menyalurkan bantuan fisik, gerakan ini berhasil menyusun salah satu kumpulan data komunitas terbesar untuk studi ekosistem kesehatan mata di Indonesia. Riset yang menggandeng Universitas Negeri Malang dan PKBI Lampung ini melibatkan 35 organisasi serta lebih dari 1.700 responden di 29 provinsi.
HENNI S.


















Discussion about this post