youngster.id - Di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat, rasa aman secara finansial masih menjadi tantangan bagi banyak masyarakat Indonesia. Dalam Sun Life Asia Financial Resilience Index 2026 yang menunjukkan bahwa hanya 14 persen masyarakat Indonesia yang merasa sangat aman secara finansial.
Temuan ini muncul di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memperkuat kondisi keuangan mereka, dengan proporsi individu yang memiliki ketahanan finansial tinggi naik dari 30 persen pada 2025 menjadi 34 persen pada 2026.
President Director Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo mengatakan, rasa aman finansial bagi masyarakat Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pribadi, tetapi juga kemampuan memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga.
“Bagi banyak masyarakat Indonesia, rasa aman finansial tidak hanya berkaitan dengan diri sendiri, tetapi juga dengan kemampuan untuk memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga dan orang-orang terdekat,” ujarnya dikutip Selasa (23/6/2026).
Studi yang dilakukan terhadap 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas di Indonesia itu menunjukkan bahwa tekanan biaya hidup, tanggung jawab finansial terhadap keluarga, serta kekhawatiran terhadap kenaikan biaya hidup masih menjadi tantangan utama dalam membangun rasa aman finansial jangka panjang.
Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan kondisi yang mulai membaik. Sebanyak 45 persen responden mengaku mampu memenuhi kebutuhan hidup selama lebih dari enam bulan tanpa penghasilan, sementara tingkat kepercayaan diri dalam mencapai tujuan keuangan jangka panjang meningkat menjadi 68 persen.
Namun, 23 persen responden mengaku menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sedangkan 26 persen lainnya memilih mengurangi atau menunda sejumlah pengeluaran.
Studi tersebut juga menemukan bahwa masyarakat yang memiliki perencanaan keuangan jangka panjang cenderung lebih percaya diri dalam mencapai target finansial mereka. Sebanyak 86 persen responden yang memiliki rencana keuangan merasa optimistis dapat mencapai tujuan keuangannya, jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki perencanaan yang jelas, yaitu 25 persen.
“Temuan ini menunjukkan bahwa literasi keuangan masih menjadi salah satu faktor penting dalam membangun ketahanan finansial. Individu dengan pemahaman keuangan yang lebih baik tercatat memiliki tingkat kepercayaan diri finansial yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang kurang memahami pengelolaan keuangan,” kata Albertus.
Studi tersebut menemukan bahwa 68 persen responden telah menggunakan generative AI untuk mencari informasi dan panduan terkait keuangan. Tidak hanya itu, 67 persen responden memperkirakan penggunaan teknologi AI untuk kebutuhan finansial akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan.
Menurut Albertus, kemudahan akses informasi melalui teknologi dapat membantu masyarakat mengambil keputusan finansial yang lebih baik. Namun, kemampuan memahami dan mengevaluasi informasi tetap menjadi faktor penting.
“Teknologi telah membuka akses yang lebih luas terhadap informasi keuangan, namun literasi keuangan dan perencanaan yang baik tetap menjadi fondasi utama dalam membangun rasa aman finansial,” katanya.
Temuan ini menunjukkan bahwa di era digital, kemampuan mengelola keuangan tidak lagi hanya bergantung pada besarnya penghasilan. Literasi keuangan, perencanaan jangka panjang, serta kemampuan memanfaatkan teknologi seperti AI kini menjadi kombinasi penting untuk membantu generasi muda menghadapi ketidakpastian ekonomi dan membangun masa depan finansial yang lebih sehat.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post