Investor Incar Sektor Pendidikan Swasta di Asia Pasifik

Pendidikan jadi peluang investasi di Asia Pasifik. (Foto: Ilustrasi/youngster.id)

youngster.id - Populasi yang bertambah di Asia Pasifik dan meningkatnya pendapatan rumah tangga mendorong permintaan kebutuhan untuk sekolah internasional. Hal ini menarik minat investor untuk menggarap sektor pendidikan swasta di kawasan ini.

Menurut penelitian JLL, pasar pendidikan swasta di Asia Pasifik diperkirakan bernilai US$ 370 miliar. Industri ini telah mengalami lonjakan permintaan dikarenakan pergerakan demografi makro ekonomi dan tren demografi yang menguntungkan, seperti meningkatnya kesejahteraan ekonomi rumah tangga dan pertumbuhan populasi yang cepat.

“Dengan kelas menengah lokal yang sedang berkembang, jumlah anggota keluarga yang tidak banyak, dan bertambahnya rumah tangga yang berpenghasilan ganda, orang tua sekarang mencari pilihan akademik tingkat pertama yang diajarkan dalam bahasa Inggris untuk memberikan anak-anak mereka peningkatan dalam masyarakat yang semakin terglobalisasi,” kata Ms Noeleen Goh, Director of Alternatives, Capital Markets JLL Asia Pasifik dalam keterangannya Kamis (20/9/2018) di Jakarta.

Di Hong Kong, sekolah menengah internasional Inggris meningkat jumlahnya dari 92 pada tahun 2000 menjadi 177 pada tahun 2017, dan jumlah pelajar juga meningkat lebih dari dua kali lipat selama periode tersebut. Negara-negara tanpa kurikulum nasional bahasa Inggris yang memadai seperti Vietnam, Thailand, Jepang dan Cina, juga telah melihat lonjakan popularitas di kalangan orang tua terhadap sekolah-sekolah berbasis bahasa Inggris.

Baca juga :   Go-Jek Raih Investasi Lagi

“Berkembangnya sekolah-sekolah internasional di wilayah ini menandakan bahwa persaingan diantara para pelajar cukup sengit, sehingga kualitas pendidikan sekarang lebih tinggi dari sebelumnya. Ketika memilih tempat berdasarkan biaya sekolah untuk anak-anak mereka, orang tua banyak menekankan pada reputasi akademis keseluruhan, kurikulum, kualitas pengajaran, dan bahkan tingkat penerimaan universitas,” tambah Ms Goh.

JLL juga mengungkapkan bahwa sekolah internasional pada umumnya telah mengalihkan fokus mereka kepada masyarakat lokal kelas atas. Hal tersebut dikarenakan menurunnya keluarga ekspatriat yang mendapatkan tanggungan perusahaan. Negara-negara seperti Malaysia dan Thailand tidak memiliki batasan apa pun dalam pendaftaran masuk sekolah internasional, sementara Vietnam, juga telah melonggarkan peraturan dalam Decree 86 yang baru saja dikeluarkan, hal tersebut memungkinkan peningkatan hingga 50 % pelajar lokal.

Investasi telah meningkat pada perusahaan-perusahaan yang menjalankan sekolah internasional. Mereka memiliki dukungan dari investor perusahaan, perusahaan ekuitas swasta dan dana pensiun.

“Di sektor pendidikan swasta, adalah hal biasa bagi pengurus untuk memisahkan perusahaan yang menangani real estate (gedung sekolah) dari perusahaan yang menjalani operasi pendidikan – karena hal ini dapat memberikan pilihan terhadap investor untuk menanamkan modal mereka ke dalam operasi pendidikan atau aset gedung sekolah,” kata Ms Goh.

Baca juga :   UCWeb Investasi Rp 400 Miliar Untuk Indonesia

Namun, laporan ini menunjukkan bahwa terdapat tantangan dalam memasuki pasar di beberapa negara karena adanya lisensi mengajar yang ketat, atau penduduk setempat yang diwajibkan untuk memiliki pendidikan dasar nasional dan dibatasinya kepemilikan aset untuk orang asing.

“Biasanya, investor asing memasuki pasar dengan membentuk usaha bersama atau kemitraan dengan pengusaha lokal, karena mereka memiliki pemahaman yang baik tentang persaingan dan peraturan lokal secara keseluruhan,” tutup Ms Goh.

STEVY WIDIA