Kompleksnya Tantangan di Industri Logistik Indonesia

Sukan Makmuri, CTO KUDO, dalam presentasinya di gelaran International Retailing Expo Asia 2017 (Foto: KUDO/Youngsters.id)

youngster.id - Kondisi geografis Indonesia bukan hanya menjadi tantangan besar para pemain industri logistik, namun juga perusahaan rintisan Indonesia. Pasalnya, estimasi waktu pengiriman yang dirasa pelanggan, terutama mereka yang tinggal dipelosok, mempengaruhi keputusan mereka berbelanja online.

Demikian dikemukakan Sukan Makmuri, CTO KUDO, dalam presentasinya di gelaran International Retailing Expo Asia 2017, yang menghadirkan banyak pelaku industri bisnis retail dan teknologi dari seluruh penjuru Asia.

Menurut Sukan, kompleksnya tantangan pergudangan makro yang dihadapi merchants KUDO turut memberi andil dalam mempengaruhi akumulasi harga akhir produk online itu sendiri.

“Pelaku pergudangan mikro dan makro Indonesia patut mempertimbangkan segi manajemen resiko disaat barang dikirimkan oleh mitra logistiknya, melakukan inspeksi tepat untuk mengantisipasi human error dan menghindari deduksi kualitas dan kuantitas barang yang terjadi selama pengiriman, perusahaan juga harus transparan dalam menyampaikan status pengiriman barang kepada pelanggan dengan mempekerjakan tim customer service yang baik,” saran Sukan.

Menurutnya, memiliki customer service yang baik sama pentingnya dengan pelayanan yang diberikan produk itu sendiri.

Baca juga :   Grab dan Kudo Hasilkan Kinerja Positif

Sementara itu, Roolin Njotosetiadi, Head of Product KUDO dalam sesi panel “How Leading Retailers are Getting Gips with the Latest Economoy Growth” mengungkapkan bahwa KUDO sangat memahami kondisi dari 300.000 lebih agennya yang tinggal di pelosok daerah, di seluruh wilayah Indonesia.

Oleh karena itu, diklaim Roolin, KUDO konsisten selalu melakukan penyempurnaan. Di antaranya adalah peningkatan kualitas fitur yang bertujuan agar aplikasi KUDO dapat tetap dibuka lewat telpon genggam beresolusi rendah, optimalisasi UX agar gambar produk dapat dilihat dengan jelas oleh mereka.

“Dan, tidak lupa pemberian komisi menarik yang terbukti justru membuat pelanggan para agen ingin pula belajar mempergunakan teknologi sebagai usaha dagang digitalnya,” ujarnya.

 

R. DIBI IRNAWAN