Program Literasi Keuangan Visa Jangkau Perempuan Pelaku UMKM

Peluncuran #IbuBerbagiBijak 2019, Selasa (23/7/2019) di Jakarta. (Foto: Stevy Widia/youngster.id)

youngster.id - Literasi keuangan di Indonesia masih rendah. Berdasarkan Survei Nasional Literasi Keuangan OJK yang dilaksanakan pada tahun 2016, literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 29,7%. Bahkan perempuan Indonesia baru 18,84% yang memiliki pemahaman keuangan.

Peduli akan hal itu Visa, meluncurkan kampanye #IbuBerbagiBijak, sebuah program literasi keuangan. Kegiatan yang telah dimulai sejak 2017 ini bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Tahun ini, kampanye #IbuBerbagiBijak akan berkolaborasi dengan sejumlah komunitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Riko Abdurrahman selaku Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia mengatakan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan literasi keuangan para perempuan pelaku UMKM sekaligus mendorong inklusi keuangan ke komunitas yang mungkin masih belum memiliki akses ke layanan perbankan. Untuk itu, bersama OJK dan BI pihaknya ingin memperluas program #IbuBerbagiBijak dengan menggandeng para perempuan pelaku UMKM.

“Pertumbuhan wirausaha perempuan sangat menjanjikan dan membanggakan, dan kami ingin merayakannya dengan membekali para perempuan pelaku UMKM dengan manajemen keuangan yang lebih baik untuk memperluas bisnis mereka, dan ikut mengantarkan mereka menuju kesuksesan yang lebih lagi ke depannya,” kata Riko, pada peluncuran #IbuBerbagiBijak 2019, Selasa (23/7/2019) di Jakarta.

Baca juga :   IoT Masih Menanti Waktu

Menurut dia, sebelumnya program #IbuBerbagiBijak telah menjangkau lebih dari 300.000 perempuan di seluruh Indonesia. Kali ini, Visa menggandeng Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), dalam rangka memperluas sasaran programWorkshop #IbuBerbagiBijak kali ini akan diselenggarakan di dua kota besar, yakni Bandung dan Yogyakarta, yang memang terkenal dengan semangat kewirausahaannya.

Sementara itu, Sondang Martha Samosir, Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan, mengatakan bahwa perempuan pelaku UMKM terkadang menjadi korban lembaga fintech peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman daring yang tidak terdaftar/berizin OJK. Hal tersebut diduga karena tingkat literasi keuangan khususnya bagi para perempuan pelaku UMKM yang belum baik.

“Melalui program ini, kami bermaksud mengajak para perempuan pelaku UMKM untuk berhati-hati agar hanya mengakses pinjaman daring di perusahaan fintech P2P lending yang sudah resmi terdaftar/berizin dan berada di bawah pengawasan OJK (per Mei 2019 terdapat 113 perusahaan fintech P2P lending yang terdaftar/berizin di OJK). Kami juga berharap program ini dapat membantu mengedukasi para perempuan pelaku UMKM untuk memahami pentingnya mengelola keuangan secara lebih bijak agar mampu mengembangkan bisnisnya maupun keuangan rumah tangganya demi Indonesia yang lebih baik kedepannya,” ucap Sondang.

Baca juga :   Berkraf Gandeng Tiongkok Untuk Produksi Film

Sementara itu, Deputi Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Ricky Satria mengatakan bahwa pengembangan UMKM telah menjadi salah satu strategi utama Bank Indonesia dalam mendorong inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

“Seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia, kami sangat menggiatkan UMKM agar memanfaatkan teknologi digital dan segala instrumen non tunai yang tersedia untuk mendukung bisnis mereka. Program #IbuBerbagiBijak diharapkan dapat membekali perempuan pelaku UMKM dengan pengetahuan manajemen keuangan yang mereka butuhkan,” ungkap Ricky.

STEVY WIDIA