Sektor Finansial dan Ritel di Indonesia Paling Berisiko Serangan Siber

cybercrime

Waspada Ancaman Cybercrime: Kenali Modus Penipuannya (Foto : Ilustrasi)

youngster.id - Digitalisasi telah menyentuh berbagai kegiatan bisnis. Namun sektor finansial dan ritel di Indonesia dinilai paling berisiko terhadap serangan siber.

Presiden Cisco Asia Tenggara Naveen Menon mengatakan sektor finansial dan ritel menjadi contoh sektor yang memimpin digitalisasi. Namun, digitalisasi masih harus dibarengi dengan upaya menjaga keamanan siber. Pasalnya, kerugiannya bisa menyentuh banyak sisi seperti kepercayaan konsumen.

Sebagai contoh, bila transaksi online pada bank tak aman, kemungkinan besar tingkat kepercayaan nasabah menurun dan memberikan dampak negatif terhadap potensi pengembangan bisnis perusahaan.

“Kita telah melihat transformasi digital terjadi di berbagai sektor seperti pelayanan kesehatan, keuangan dan ritel. Sektor-sektor tersebur juga termasuk yang paling berisiko terkena serangan siber,” kata Neveen baru-baru ini di Jakarta.

Oleh karena itu, dia menilai digitalisasi harus berlanjut pada tahap antisipasi dari aspek keamanan siber. Dari data Indonesian Security Incident Response Team on the Internet Infrastructure/Coordinator Center (Id-SIRTII/CC) terjadi 205,50 juta serangan siber tehitung sejak Januari hingga November 2017.

Di sisi lain, Manager Communications, Media and Technology Practice AT Kearney Germaine Hoe mengatakan kerugian secara riil akibat masalah keamanan siber sulit diketahui karena kerap perusahaan tidak melaporkan. Oleh karena itu, pihaknya hanya mendapatkan informasi dari laporan yang tercatat pada bursa.

Secara umum, dari hasil risetnya, kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan ternama se-Asia Tenggara bisa berkurang sebesar US$750 miliar karena masalah keamanan siber. Contohnya, Yahoo yang tergerus kapitalisasi pasarnya sebesar 35% akibat serangan siber.
“Kerugian pastinya sulit didapatkan karena banyak perusahaan enggan melaporkannya. Pastinya, kami mengestimasi risiko kapitalisasi pasar di Asia Tenggara turun US$750 miliar,” katanya.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version