Tahun 2016 Menjadi Babak Baru Bagi Industri e-Commerce di Indonesia

Asosiasi eCommerce Indonesia (idEA). (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - YOUNGSTERS.id – Awal tahun 2016 ini merupakan tonggak sejarah bagi industri e-commerce di Indonesia. Pemerintah akhirnya mengeluarkan peta jalan yang akan menjadi landasan pembangunan ke depannya.

“Setelah berdiri selama hampir 4 tahun, Asosiasi E-Commerce Indonesia yang merupakan representasi ekosistem industri, menyaksikan arah pembangunan menuju kemajuan ekonomi digital di Indonesia. Dengan kerja keras dan sinergi berbagai elemen ekosistem, industri yang kini menjadi salah satu prioritas pembangunan negara, diharap dapat membawa Indonesia menjadi kekuatan baru ekonomi digital di dunia,” ujar Daniel Tumiwa, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA).

Peta jalan tersebut mencakup 7 aspek strategis, yakni logistik, pendanaan, perlindungan konsumen, infrastruktur komunikasi, perpajakan, pengembangan SDM, serta cyber security.

Menurut Daniel, seluruh komponen tersebut merupakan faktor krusial bagi kemajuan industri e-commerce nasional. Oleh karena itu, idEA berkomitmen untuk memberikan masukkan dan berperan aktif selama proses penyusunan, implementasi, hingga evaluasi ke depannya.

Dari sisi pendanaan, kabar positif didapat dari pembukaan Daftar Negatif Investasi untuk model bisnis e-commerce berbasis market place, price comparison, daily deals, dan iklan baris online. Ke depannya, diharapkan hal serupa juga diberlakukan untuk peritel online.

“Investasi asing sangat krusial bagi bisnis startup, karena dapat memberikan kesamaan kesempatan dengan usaha yang telah mendapat investasi sebelumnya (pra-pemberlakuan DNI), pilihan akses pendanaan yang tidak semata didominasi konglomerat lokal, serta yang terpenting adalah transfer of knowledgedan teknologi dari para pemain asing yang sudah lebih dahulu berkecimpung di industri ini,” jelas Daniel.

Selain investasi, para perintis usaha e-commerce ke depannya juga akan diberikan beberapa pilihan akses pendanaan seperti modal ventura, seed capital, hibah pemerintah, subsidi, Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan lainnya.

Mengenai optimalisasi KUR, idEA mengusulkan proses verifikasi khusus yang diadopsi dari prosedur yang berlaku di sektor konvensional. Dalam ekonomi digital, hampir semua data dan transaksi terkumpul dalam bentuk informasi digital, yang dapat diekstraksi sebagai basis empiris verifikasi tersebut. Hal ini bukan hanya akan mendorong pertumbuhan UMKM jauh lebih cepat, tetapi juga meningkatkan efektifitas kinerja industri perbankan penyalur KUR.

 

ANGGIE ADJIE SAPUTRA

Editor : STEVY WIDIA