youngster.id - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan bisnis semakin berkembang, termasuk melalui penggunaan AI agent atau agen AI yang mampu menjalankan tugas secara otomatis. Teknologi ini membantu perusahaan mempercepat pekerjaan, mengolah informasi, hingga mendukung proses pengambilan keputusan.
Namun, meningkatnya penggunaan agen AI juga menghadirkan tantangan baru bagi perusahaan. Semakin banyak agen yang beroperasi di berbagai platform, semakin sulit pula bagi organisasi untuk mengetahui jumlah agen yang digunakan, siapa yang bertanggung jawab, serta bagaimana kinerja dan risiko yang ditimbulkannya.
Menjawab tantangan tersebut, Dataiku meluncurkan Dataiku Agent Management, produk yang dirancang untuk membantu perusahaan memantau dan mengelola agen AI dari berbagai platform. Solusi ini memungkinkan organisasi mengidentifikasi agen yang beroperasi, mengukur nilai bisnis dan kinerjanya, sekaligus mendeteksi agen dengan tingkat risiko tinggi.
Co-Founder dan CEO Dataiku, Florian Douetteau, mengatakan banyak perusahaan belum memiliki sistem inventarisasi yang memadai untuk mengetahui seluruh agen AI yang mereka gunakan.
“Jika bertanya kepada sebuah bank berapa banyak server yang mereka operasikan, mereka mungkin dapat memberikan jawaban hingga angka desimalnya. Namun, jika bertanya berapa banyak agen AI yang sedang berjalan, jawabannya mungkin hanya berupa anggukan bahu atau sekadar perkiraan,” kata Florian dikutip Jumat (5/11/2026).
Ia menjelaskan, perkembangan penggunaan agen AI sering kali lebih cepat dibandingkan kemampuan organisasi untuk mengidentifikasi dan mengelolanya.
“Tidak ada yang sejak awal berniat membangun sistem seperti ini. Tim TI mengembangkan agen AI lebih cepat daripada kemampuan organisasi untuk menginventarisasinya. Dataiku Agent Management membantu perusahaan memahami apa saja yang sebenarnya sudah digunakan dan seberapa besar nilai dari agen-agen tersebut,” tambahnya.
Peluncuran yang diumumkan pada 2 November 2026 ini diperkenalkan dalam konferensi tahunan Dataiku Succeed. Produk tersebut menyasar kebutuhan perusahaan yang mulai menghadapi kompleksitas pengelolaan agen AI seiring semakin cepatnya adopsi teknologi tersebut di lingkungan kerja.
Pantau Agen AI dari Berbagai Platform
Salah satu tantangan dalam pengelolaan agen AI adalah keterbatasan sistem pemantauan yang umumnya hanya dapat mengawasi agen dalam ekosistem platform tertentu. Kondisi ini membuat perusahaan kesulitan memperoleh gambaran menyeluruh mengenai seluruh agen yang beroperasi di lingkungan mereka.
Dataiku Agent Management dirancang untuk mengatasi keterbatasan tersebut melalui pendekatan agnostik terhadap platform. Solusi ini dapat terhubung dengan sejumlah layanan yang digunakan perusahaan untuk mengembangkan dan menjalankan agen AI, termasuk AWS Bedrock, Databricks Agents, Google Vertex, Microsoft Copilot Studio, Azure Foundry, Salesforce Agentforce, dan Snowflake Cortex.
Selain itu, platform ini mendukung OpenTelemetry untuk mengintegrasikan lingkungan kustom serta platform Dataiku sendiri ke dalam satu inventaris terpusat.
Melalui integrasi tersebut, perusahaan dapat melihat struktur setiap agen AI, termasuk perangkat, model, dan komponen yang digunakan. Informasi ini memberikan gambaran lebih lengkap mengenai cara kerja agen, bukan sekadar menunjukkan keberadaannya.
Identifikasi Risiko dan Ukur Nilai Bisnis Agen AI
Selain pemantauan, Dataiku Agent Management juga dirancang untuk membantu perusahaan mengidentifikasi risiko penggunaan agen AI. Perhatian khusus diberikan kepada agen yang menangani interaksi pelanggan, data sensitif, maupun transaksi secara langsung.
Untuk agen dengan tingkat risiko tinggi, sistem ini menyimpan dokumentasi berkelanjutan mengenai status sertifikasi, risiko yang teridentifikasi, serta hasil pengujian yang dilakukan secara berkala.
Dokumentasi tersebut dapat menjadi bahan pendukung ketika perusahaan perlu menunjukkan bukti pengelolaan dan pengawasan kepada manajemen, auditor, maupun regulator.
Dataiku juga memungkinkan tim perusahaan mengajukan pertanyaan menggunakan bahasa sehari-hari untuk memperoleh gambaran mengenai keseluruhan portofolio agen AI. Dengan pendekatan ini, organisasi dapat mengetahui agen mana yang belum terpantau, lokasi konsentrasi risiko, serta agen yang memberikan nilai bisnis sebanding dengan biaya operasionalnya.
Melalui Dataiku Agent Management, perusahaan diharapkan tidak hanya dapat memperluas penggunaan agen AI, tetapi juga memastikan teknologi tersebut berjalan dengan pengawasan yang lebih terstruktur. Langkah ini menjadi semakin penting ketika agen AI mulai mengambil peran lebih besar dalam proses operasional dan pengambilan keputusan bisnis.
STEVY WIDIA
