youngster.id - Ancaman penipuan digital semakin berkembang dan memanfaatkan berbagai kanal online untuk menjangkau korban. The Global Scam Intelligence Report 2026 dari Bitdefender, yang menganalisis pola penipuan digital sepanjang 2025, menyebutkan bahwa satu dari tujuh orang menjadi korban penipuan dalam satu tahun terakhir. Sementara itu, iklan penipuan di platform media sosial dan video menjangkau 60 juta orang.
Di Indonesia, ancaman serupa juga menjadi perhatian. Data Global Anti Scam Alliance (GASA) yang dikutip Bitdefender menunjukkan bahwa 66% orang dewasa di Indonesia pernah mengalami penipuan dalam satu tahun terakhir. Kondisi ini memperlihatkan pentingnya perlindungan data pribadi dan identitas digital seiring meningkatnya aktivitas masyarakat di ruang online.
“Masyarakat saat ini melakukan aktivitas perbankan, berbelanja, dan tetap terhubung dengan teman secara online, sehingga perlindungan terhadap data pribadi dan identitas menjadi semakin penting,” kata Jack Chok, Direktur PT Gema Informatika Abadi (GIA), dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Jack menyebutkan bahwa risiko keamanan siber juga terlihat dari kebiasaan pengguna dalam melindungi perangkat mereka. Dalam survei global terhadap 7.000 konsumen yang dikutip Bitdefender, sebanyak 48% responden mengaku tidak menggunakan solusi keamanan pihak ketiga pada ponsel mereka. Padahal, 53% menggunakan perangkat tersebut untuk aktivitas sensitif, seperti membayar tagihan dan berbelanja online.
Selain malware dan phishing, perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk membuat penipuan yang semakin meyakinkan. Teknik rekayasa sosial (social engineering) yang didukung AI dapat digunakan untuk memancing korban menyerahkan informasi pribadi atau mengakses tautan berbahaya.
Untuk memperluas akses perlindungan terhadap ancaman tersebut, GIA menjalin kemitraan distribusi eksklusif dengan perusahaan keamanan siber Bitdefender. Melalui kerja sama ini, seluruh portofolio produk konsumen Bitdefender akan tersedia di Indonesia melalui jaringan reseller PT GIA.
Jack mengatakan kemitraan tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap solusi keamanan digital.
“Kemitraan dengan Bitdefender akan memberikan akses kepada masyarakat Indonesia terhadap perlindungan yang tepercaya dan canggih dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang. Rekam jejak inovasi Bitdefender serta kinerja keamanannya yang telah terbukti menjadikannya mitra ideal bagi kami dalam memperluas penawaran di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Business Development Manager, MEA & APAC Bitdefender, Julien Ribeyrolles, mengatakan Indonesia memiliki salah satu ekonomi digital terbesar dan tumbuh paling cepat di dunia. Menurutnya, kombinasi teknologi perlindungan Bitdefender dan jangkauan distribusi PT GIA diharapkan membantu masyarakat menjaga keamanan aktivitas digital mereka.
“Perlindungan Bitdefender yang dipadukan dengan jangkauan PT GIA akan membantu jutaan masyarakat tetap aman di mana pun aktivitas digital mereka berlangsung,” katanya.
Melalui kemitraan tersebut, PT GIA akan mendistribusikan seluruh portofolio produk konsumen Bitdefender, mulai dari keamanan komputer dan perangkat mobile, perlindungan identitas dan privasi, hingga teknologi antipenipuan dan pendeteksi deepfake. Produk tersedia dalam paket untuk individu maupun keluarga.
Sales & Business Development SEA Bitdefender, Gary Khan, menyoroti risiko yang muncul seiring pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan siber. Teknologi tersebut memungkinkan pelaku menjalankan kampanye penipuan yang meyakinkan dalam skala besar sekaligus menyebarkan malware.
“Pelaku kejahatan siber menggunakan AI untuk menjalankan kampanye penipuan yang meyakinkan dalam skala besar serta menyebarkan malware, sehingga konsumen menghadapi risiko yang semakin besar,” katanya.
Produk konsumen Bitdefender tersedia melalui PT GIA di berbagai toko fisik dan marketplace online di seluruh Indonesia. Melalui jaringan distribusi tersebut, kedua perusahaan berupaya memperluas akses konsumen terhadap perlindungan digital untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang.
STEVY WIDIA
