youngster.id - Perusahaan teknologi kesehatan Tanah Air, Articura (PT Articura Tech Indonesia), meluncurkan Sovereign Healthcare AI Platform. Inisiatif ini menghimpun institusi dari sektor pelayanan klinis, akademis, riset, hingga industri untuk mendukung pengembangan kecerdasan buatan (AI) kesehatan yang bertanggung jawab di Indonesia.
Platform terintegrasi ini menghubungkan infrastruktur AI, kecerdasan medis berdaulat, aplikasi klinis, dan lembaga kesehatan dalam satu ekosistem. Melalui wadah ini, para mitra dapat mengidentifikasi kebutuhan lapangan, mengembangkan serta memvalidasi kapabilitas AI, hingga mentranslasikannya menjadi aplikasi praktis di rumah sakit dan klinik.
Sebagai langkah awal, Articura menandatangani nota kesepahaman (MOU) bersama lima organisasi lintas sektor yang saling melengkapi. Dari lini pelayanan rujukan nasional dan akademis, Articura menggandeng Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono di bawah Kementerian Kesehatan RI serta Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (FF Unpad) untuk memberikan dukungan riset klinis dan kefarmasian.
Sementara dari sektor pelayanan spesialis dan kesehatan primer, jaringan ini diperkuat oleh PT AXIS PERIFER SENTRAL yang bergerak di bidang layanan pediatrik dan endokrinologi anak, serta PT Pragati Klinik Medika (Fokus Medika) yang menyediakan layanan medis umum dan gigi. Melengkapi ekosistem tersebut, Orbiva Limited—anak perusahaan Home Control International Limited (HKEX: 1747) asal Hong Kong—hadir sebagai mitra industri pertama yang membawa keahlian internasional di bidang AIoT dan kesehatan digital (digital health).
Direktur Articura, Nathan Tirtana, menjelaskan bahwa kerja sama ini bertujuan untuk memberikan nilai tambah yang nyata bagi pelayanan medis.
“Kolaborasi kami dengan RSPON melampaui sekadar implementasi teknologi. Ini adalah inisiatif riset bersama untuk memastikan AI diuji secara ketat dan memberikan nilai nyata—mulai dari dokumentasi klinis, penapisan interaksi obat, hingga efisiensi operasional. Kami berharap ini menjadi awal transformasi berbasis AI yang memangkas beban operasional sehingga dokter memiliki lebih banyak waktu untuk merawat pasien,” ujar Nathan, Senin (27/7/2026).
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama RSPON, dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS, menyambut positif pemanfaatan data klinis langsung untuk penyempurnaan AI.
“Dengan memanfaatkan wawasan klinis dari RSPON, AI dapat terus disempurnakan. Di sisi lain, rumah sakit memperoleh masukan berharga untuk meningkatkan kualitas layanan dan memperkuat program pendidikan tenaga medis, termasuk Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Tujuan akhir kami sederhana: proses perawatan yang lebih cepat dan efisien agar dokter fokus memberikan hasil terbaik bagi pasien,” ungkap dr. Adin.
Penandatanganan kerja sama ini turut disaksikan oleh perwakilan dari Kementerian Kesehatan RI dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Solusi Modular dan Keamanan Data Medis
Untuk mendukung platform ini, Articura menghadirkan rangkaian perangkat lunak klinis modular yang disesuaikan dengan berbagai tingkatan fasilitas kesehatan, meliputi Articura Max (untuk rumah sakit besar), Articura Edge (untuk fasilitas kesehatan regional), serta Articura Mini (untuk klinik).
Sistem ini dirancang untuk mendokumentasikan data klinis, mendukung keputusan medis (clinical decision support), mengoptimalkan operasional rumah sakit, hingga memantau kesehatan pasien secara jarak jauh. Seluruh proses ini menempatkan keselamatan klinis dan kedaulatan data sebagai prioritas, sehingga data kesehatan masyarakat tetap berada di bawah kendali Indonesia. (*AMBS)
