youngster.id - Sistem pelayanan kesehatan di kawasan Asia-Pasifik (APAC) kini menghadapi tekanan berat. Lonjakan ekspektasi pasien yang tinggi berbenturan langsung dengan keterbatasan jumlah tenaga medis di lapangan. Fenomena ini mempercepat pergeseran ke arah model perawatan baru dan pemanfaatan dukungan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Temuan tersebut dirangkum dalam laporan terbaru Bain & Company bertajuk 2026 Asia-Pacific Front Line of Healthcare Report. Laporan ini menangkap adanya tiga ketegangan utama yang saat ini tengah melanda sistem pelayanan kesehatan regional.
Pertama, konsumen kini menjadi jauh lebih proaktif dalam mengelola kesehatan mereka. Sebanyak 84% konsumen menuntut kenyamanan yang lebih tinggi dalam pelayanan, sementara 71% di antaranya berharap para dokter dapat lebih responsif melalui berbagai saluran digital, seperti WhatsApp, telepon, maupun email. Kesadaran akan kesehatan ini juga terlihat dari perubahan perilaku, di mana 3 dari 5 konsumen kini rutin melakukan medical check-up, melonjak signifikan dibandingkan data pada tahun 2023 yang hanya menyentuh angka 47%.
Ketegangan kedua terlihat dari adanya pergeseran minat masyarakat ke arah tren perawatan alternatif. Sebanyak 57% konsumen dilaporkan mulai beralih memanfaatkan layanan medis di luar rumah sakit tradisional, seperti layanan telehealth, klinik mandiri (walk-in clinics), hingga perawatan medis langsung di rumah (home-based care). Maraknya pilihan ini memicu fragmentasi layanan, sehingga berdampak pada melonjaknya keinginan konsumen—hingga mencapai 95% responden—yang kini mendambakan adanya satu pintu integrasi (single touchpoint) demi mengelola seluruh kebutuhan kesehatan mereka dengan lebih praktis.
Di sisi lain, sistem kesehatan regional juga dihantam ketegangan ketiga yang tidak kalah mengkhawatirkan, yaitu krisis tenaga medis yang kian menguat. Saat ini, satu dari lima dokter di kawasan Asia-Pasifik secara aktif mulai mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Krisis ini dipicu oleh akumulasi beban kerja yang berlebihan, minimnya bentuk apresiasi dari institusi, hingga kejenuhan ekstrem (burnout) di tempat kerja. Kondisi tersebut diperparah oleh laporan dari sekitar sepertiga dokter yang mengeluhkan tingginya inefisiensi waktu akibat urusan administrasi serta birokrasi dokumen yang dinilai terlalu menyita fokus klinis mereka.
“Sistem kesehatan di kawasan ini sedang mendekati titik kritis di mana lonjakan permintaan, kelangkaan tenaga kerja, dan fragmentasi model layanan terjadi secara bersamaan. Tantangannya bukan lagi sekadar memperluas akses, melainkan merombak total bagaimana perawatan itu dikoordinasikan dan disampaikan,” ujar Vikram Kapur, Head of Bain & Company’s Global Healthcare & Life Sciences, Rabu (17/6/2026).
Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) dinilai menjadi angin segar untuk memangkas beban kerja administratif dokter. Sisi baiknya, hampir tiga perempat konsumen di Asia-Pasifik menyatakan sudah merasa nyaman dengan aplikasi kesehatan berbasis AI.
Meski demikian, adopsi AI skala besar masih terbentur dinding pembatas (bottleneck). Satu dari tiga dokter mengungkapkan bahwa institusi tempat mereka bekerja belum siap menerapkan AI secara massal akibat strategi yang tidak jelas, minimnya pelatihan, serta kurangnya keterlibatan tenaga medis dalam pengembangan sistem.
Bain & Company juga menggarisbawahi bahwa aspek humanis tetap tidak tergantikan. Pertemuan tatap muka langsung (in-person) masih menjadi pilihan utama pasien untuk gejala penyakit non-akut. Baik dokter maupun konsumen sepakat memandang telehealth hanya sebagai pelengkap, bukan pengganti utuh fungsi dokter fisik.
Untuk menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks, Bain & Company merumuskan lima peluang strategis yang dapat diadopsi oleh para pemangku kepentingan di sektor kesehatan. Langkah pertama adalah menjadi titik koordinasi yang tepercaya bagi pasien dengan cara mengelola hubungan secara menyeluruh dari hulu ke hilir, baik melalui saluran digital maupun interaksi fisik. Sejalan dengan hal tersebut, institusi medis juga perlu mendesain ulang alur perawatan (care journeys) dengan menempatkan kenyamanan serta pengalaman pasien sebagai jantung utama dari strategi bisnis mereka.
Selain berfokus pada pasien, transformasi ini menuntut perubahan struktural dalam sistem finansial melalui penerapan prinsip value-based care. Model ini menggeser orientasi pembayaran tradisional yang awalnya berbasis kuantitas layanan (volume) menjadi berbasis pada hasil kesembuhan dan kualitas kesehatan pasien (outcomes). Di sisi teknologi, para pelaku industri kesehatan diimbau untuk memperlakukan kecerdasan buatan (AI) sebagai sebuah transformasi bisnis yang fundamental. Artinya, AI harus diintegrasikan secara mendalam ke dalam model operasional inti dan alur kerja baru, bukan sekadar ditempelkan sebagai fitur pelengkap pada proses kerja lama yang sudah tidak efektif.
Terakhir, seluruh upaya pembaruan ini tidak akan berjalan optimal tanpa adanya langkah untuk meningkatkan keterlibatan dokter. Pihak manajemen harus berkomitmen memberikan pengalaman kerja yang lebih baik bagi para tenaga medis guna menekan angka burnout, sekaligus membekali serta memosisikan mereka sebagai motor penggerak utama yang memimpin transformasi kesehatan di masa depan. (*AMBS)
