youngster.id - Transformasi AI di Indonesia kini memasuki babak baru. Teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai benar-benar digunakan untuk menjalankan bisnis. Potensi ini mendorong Huawei Cloud meluncurkan layanan Model-as-a-Service (MaaS) di Indonesia. Langkah ini juga sejalan dengan tren global, di mana AI tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi mulai berperan sebagai “pekerja digital” yang mampu menjalankan tugas kompleks dalam operasional bisnis.
CEO Huawei Cloud Indonesia Leon Fang mengatakan, lewat MaaS perusahaan kini bisa mengakses model AI siap pakai hanya dengan satu klik, tanpa harus membangun infrastruktur kompleks dari nol. Artinya, hambatan teknis yang selama ini menjadi penghalang adopsi AI perlahan mulai dihilangkan.
“Saat ini, kita menyaksikan adanya pergeseran fundamental dari AI sebagai alat bantu menjadi AI sebagai ‘pekerja digital’ yang mampu mengeksekusi tugas-tugas kompleks dalam ekosistem perusahaan. Dengan menghadirkan Model-as-a-Service (MaaS) di Indonesia, kami menyediakan fondasi berperforma tinggi yang diperlukan bagi pelaku bisnis untuk beranjak dari sekadar proyek percontohan menuju dampak bisnis yang nyata,” ucapnya dikutip dari keterangan pers, Selasa (21/4/2026).
Ia menambahkan, peluncuran ini menandai langkah penting dalam mendorong adopsi kecerdasan buatan (AI) oleh bisnis di Indonesia, membawa perusahaan-perusahaan beralih dari tahap percobaan ke penerapan AI secara luas di dunia nyata. Kehadiran layanan ini juga menjadi sinyal kuat bahwa adopsi AI di Tanah Air mulai bergerak ke tahap yang lebih serius.
“Tujuan kami adalah menjadikan AI semudah dan seandal layanan listrik, memberdayakan industri di Indonesia untuk bekerja lebih cerdas dan berinovasi lebih cepat melalui infrastruktur cloud native yang aman,” kata Fang lagi.
Layanan MaaS dari Huawei Cloud dirancang untuk mempermudah perusahaan dalam mengembangkan solusi berbasis AI. Platform ini sudah terintegrasi dengan berbagai model AI kelas dunia seperti GLM, DeepSeek, dan Qwen, yang dioptimalkan untuk kebutuhan seperti tanya jawab cerdas (Intelligent Q&A) hingga AI Coding.
Dengan pendekatan ini, pengembang tidak lagi harus pusing mengelola infrastruktur, karena seluruh siklus hidup model—mulai dari deployment hingga evaluasi—sudah ditangani dalam satu sistem.
Di level regional, Huawei Cloud juga telah membangun infrastruktur yang kuat di Asia Pasifik, dengan jaringan yang mencakup beberapa region dan availability zone untuk memastikan performa tetap optimal dengan latensi rendah.
Implementasinya pun sudah terlihat di berbagai negara. Di Singapura, perusahaan teknologi iFLYTEK berhasil memanfaatkan komputasi AI Huawei Cloud untuk melatih model bahasa besar hanya dalam waktu dua minggu. Sementara di Vietnam, Green and Smart Mobility menggunakan teknologi ini untuk meningkatkan keselamatan armada melalui sistem peringatan risiko secara real-time.
“Inovasi di era AI memerlukan komitmen yang kuat pada fondasi teknologi. Huawei terus menginvestasikan sekitar 20% pendapatannya untuk riset dan pengembangan guna membangun ekosistem digital yang berkelanjutan,” pungkas Fang.
STEVY WIDIA
















Discussion about this post