youngster.id - Perkembangan teknologi AI membuat kebutuhan terhadap jaringan kampus ikut berubah. Kampus tidak lagi hanya membutuhkan koneksi internet untuk mendukung aktivitas belajar, tetapi juga infrastruktur yang mampu menangani lalu lintas data tinggi, menjaga keamanan, dan mendukung berbagai layanan digital.
Melihat kebutuhan tersebut, Huawei bersama organisasi industri global dan para pelaku industri meluncurkan High-Quality 10 Gbps AI Campus Network Technical and Standard White Paper dalam Forum Inovasi AI Campus yang menjadi bagian dari Huawei Network Summit 2026 (HNS 2026) Asia Pacific.
White paper tersebut memberikan panduan untuk membangun jaringan kampus berbasis AI yang aman sekaligus mampu mendukung kebutuhan sektor pendidikan, pemerintahan, dan berbagai lingkungan kerja lainnya.
“Di era AI, jaringan kampus menghadapi tantangan seperti lonjakan lalu lintas, peningkatan risiko keamanan, dan kompleksitas O&M yang tinggi. Karena alasan ini, jaringan kampus harus berevolusi dari sekadar infrastruktur koneksi menjadi fondasi cerdas untuk produktivitas,” ujar Shawn Zhao, President of the Campus Network Domain di Data Communication Product Line, Huawei dikutip Selasa (1/9/2026).
Menurut Zhao, Huawei menilai jaringan AI Campus generasi berikutnya perlu memiliki enam kemampuan utama, yaitu jaringan otonom, konektivitas ultra-broadband 10 Gbps, konektivitas menyeluruh, pengalaman jaringan yang deterministik, efisiensi energi, serta keamanan menyeluruh.
Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah Wi-Fi 7. Huawei mengembangkan solusi Xinghe AI Campus dengan konektivitas nirkabel berkecepatan tinggi yang dirancang untuk mendukung semakin banyak perangkat dan aktivitas digital di lingkungan kampus.
Selain kecepatan, keamanan menjadi bagian penting. Teknologi berbasis AI dapat membantu mengenali perangkat, mendeteksi anomali, serta memperkuat perlindungan konektivitas. Huawei juga memperkenalkan teknologi penginderaan Wi-Fi untuk membantu mengamankan area sensitif.
Di sisi pengelolaan jaringan, AI digunakan untuk membantu mendeteksi gangguan dan menganalisis kualitas pengalaman pengguna. Huawei menyebut hingga 80% gangguan jaringan nirkabel dapat diatasi secara otomatis melalui kemampuan otonomi jaringan yang ditawarkan.
Kebutuhan terhadap jaringan berkapasitas tinggi juga dirasakan oleh institusi pendidikan. Wakil Rektor Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, Juliana Johari, mengatakan Wi-Fi 7 dan sistem pengelolaan jaringan menjadi pendorong konektivitas kampus generasi berikutnya.
“Jaringan yang andal dan berkapasitas tinggi mendukung kelancaran proses pengajaran, penelitian, dan operasional sehari-hari,” kata Juliana.
Dengan semakin banyaknya aktivitas digital di kampus, mulai dari pembelajaran berbasis cloud, video conference, riset, hingga pemanfaatan AI, jaringan pun dituntut berkembang dari sekadar penyedia akses internet menjadi fondasi ekosistem digital.
Melalui white paper tersebut, Huawei bersama para mitra industri mendorong penerapan jaringan AI Campus di kawasan Asia Pasifik untuk mendukung modernisasi infrastruktur digital di era AI.
STEVY WIDIA
















Discussion about this post