youngster.id - Pertarungan AI vs AI bukan lagi sekadar konsep futuristik, melainkan realitas baru yang sedang terjadi di dunia digital saat ini. Pasalnya, di satu sisi, perusahaan memanfaatkan artificial intelligence (AI) untuk mempercepat inovasi dan efisiensi. Namun di sisi lain, para pelaku kejahatan siber juga menggunakan teknologi yang sama untuk melancarkan serangan dengan kecepatan dan presisi yang jauh lebih tinggi.
Data riset dari Unit 42 menunjukkan betapa cepatnya lanskap ancaman berubah. Sekitar 25% dari gangguan keamanan tercepat sepanjang 2025 mampu mencapai tahap eksfiltrasi data hanya dalam waktu sedikit lebih dari satu jam, jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata 4,8 jam pada tahun sebelumnya. Dalam konteks ini, kecepatan bukan lagi keunggulan—melainkan kebutuhan dasar untuk bertahan.
Namun, banyak organisasi masih bergantung pada sistem keamanan yang terfragmentasi. Alih-alih memperkuat pertahanan, kompleksitas ini justru memperlambat respons dan membuka celah baru bagi serangan yang semakin canggih.
Managing Director and Vice President, ASEAN, Palo Alto Networks Haji Munshi mengatakan, keamanan siber yang terfragmentasi tidak lagi efektif untuk mengimbangi kecepatan AI. Malah, kompleksitas ini merugikan organisasi, memperlambat responnya terhadap ancaman yang terus berkembang, dan menghentikan laju transformasi AI-nya masing-masing.
“Rata-rata organisasi kini menggunakan sebanyak 83 alat keamanan dari 29 penyedia. Hal ini tidak dapat terus berlangsung. Dengan permukaan serangan yang terus berkembang, organisasi di Indonesia harus bertindak sekarang atau menyerah kepada para penyerang yang sudah bergerak dengan kecepatan mesin,” ucapnya pada konferensi pers Ignite on Tour Jakarta, Rabu (22/4/2026) di Jakarta.
Di tengah situasi ini, kata Munsi, Palo Alto Networks mulai mengandalkan AI untuk melawan AI. Dia mengklaim, perusahaan telah memproses hingga 500 miliar kejadian dan menghentikan sekitar 30 miliar serangan setiap harinya.
“Pendekatan ini menunjukkan bahwa pertahanan siber kini harus bekerja dalam skala dan kecepatan yang setara dengan ancaman yang dihadapi,” ujarnya.
Sementara Country Manager Palo Alto Networks Indonesia Adi Rusli mengatakan, bagi Indonesia, percepatan adopsi AI yang didorong oleh Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi digital. Namun di saat yang sama, hal ini juga menuntut kesiapan yang lebih matang dalam aspek keamanan.
“Perusahaan perlu beralih dari solusi terpisah-pisah ke satu platform yang terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi dan mendapatkan wawasan yang lebih baik dengan bantuan AI,” ujarnya.
Pada akhirnya, era agentic AI mengubah cara perusahaan memandang teknologi. Bukan lagi sekadar alat pendukung, AI kini menjadi inti dari operasional bisnis. Dalam situasi ini, keamanan tidak bisa lagi dianggap sebagai lapisan tambahan, melainkan fondasi utama. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan diadopsi, tetapi seberapa cepat dan seberapa aman perusahaan dapat menggunakannya untuk tetap kompetitif di tengah lanskap digital yang terus berubah.
STEVY WIDIA



















Discussion about this post