youngster.id - Platform pinjaman daring (pindar) Easycash memperkuat komitmennya dalam meningkatkan literasi keuangan generasi muda. Berkolaborasi dengan IARFC Indonesia, Easycash menggelar kegiatan edukasi bertajuk “Literasi Keuangan Generasi Muda di Era Digital” di Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Langkah ini diambil guna merespons data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang menunjukkan adanya kesenjangan signifikan. Meski inklusi keuangan Gen Z mencapai 89,96%, tingkat literasi mereka masih tertinggal di angka 73,22%. Hal ini menandakan banyak anak muda sudah menggunakan layanan digital namun belum sepenuhnya memahami risiko yang ada.
Dalam kegiatan ini, Easycash memperkenalkan dua inisiatif utama: Modul Bijak Keuangan (MOJANG) dan ChatPindar. MOJANG hadir dalam versi zine dengan gaya visual yang relevan bagi anak muda, membahas topik manajemen arus kas hingga cara membedakan platform legal dan ilegal.
Sementara itu, ChatPindar merupakan teknologi AI berbasis chat hasil kolaborasi dengan AFTECH. Fitur ini berfungsi sebagai “teman ngobrol” always-on yang dapat menjawab pertanyaan seputar industri pindar menggunakan bahasa sehari-hari, termasuk penjelasan mengenai reputasi kredit atau credit scoring.
Head of Corporate Affairs Easycash, Wildan Kesuma, menekankan pentingnya menjaga rekam jejak keuangan sejak dini.
“Reputasi kredit adalah aset masa depan. Sekali seseorang mengalami gagal bayar (galbay) karena kurangnya pemahaman, rekam jejak tersebut akan menghambat akses mereka ke layanan keuangan lainnya di masa depan,” ujar Wildan, dikutip Jum’at (24/4/2026).
Ia menambahkan bahwa Surabaya sebagai pusat ekonomi dengan populasi muda yang dinamis sangat rentan terhadap risiko finansial. Melalui pendekatan #JadiLebihPaham, Easycash ingin mendorong mahasiswa Surabaya untuk lebih bijak mengatur keuangan secara sehat.
Director of General Financial Planning Program IARFC Indonesia, Mirzan Hasan, turut menyoroti tantangan Gen Z yang kerap terjebak dalam lifestyle inflation akibat pengaruh media sosial. Menurutnya, masalah utama mahasiswa sering kali bukan pada jumlah uang, melainkan penentuan prioritas.
“Kami mengajarkan mahasiswa untuk mulai mencatat arus kas dan memahami bahwa pinjaman harus digunakan secara produktif, bukan impulsif,” jelas Mirzan.
Melalui sinergi antara teknologi AI dan modul edukasi kontekstual, kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan generasi yang cerdas finansial. Mahasiswa yang memahami manajemen utang dan reputasi kredit diharapkan menjadi penggerak ekonomi nasional yang lebih tangguh dan terhindar dari risiko pinjaman ilegal.
.
STEVY WIDIA


















Discussion about this post