Shadow AI Jadi Tantangan Baru Perusahaan di Tengah Tren Penggunaan AI

Shadow AI

CEO Mekari, Suwandi Soh (Foto: Stevy Widia/youngster)

youngster.id - Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di dunia kerja semakin berkembang. Teknologi ini membantu pekerja menyelesaikan tugas lebih cepat, mengolah informasi, hingga meningkatkan produktivitas. Namun, ketika perusahaan belum menyediakan perangkat AI yang sesuai kebutuhan, karyawan berpotensi menggunakan aplikasi sendiri tanpa pengawasan resmi.

Praktik yang dikenal sebagai Shadow AI ini menjadi tantangan baru bagi perusahaan. Selain berkaitan dengan efektivitas kerja, penggunaan AI tanpa kontrol yang memadai juga dapat meningkatkan risiko keamanan data dan menyulitkan perusahaan memastikan teknologi digunakan secara bertanggung jawab.

Chief Executive Officer (CEO) Mekari, Suwandi Soh, mengatakan tantangan perusahaan saat ini bukan lagi menentukan apakah AI perlu digunakan, melainkan bagaimana memastikan penerapannya berlangsung secara aman dan bertanggung jawab.

“Antusiasme pekerja Indonesia terhadap AI cukup tinggi. Namun, ketika perusahaan belum menyediakan infrastruktur yang memadai, karyawan cenderung mencari solusi sendiri untuk membantu pekerjaan mereka. Kondisi ini dapat memunculkan risiko Shadow AI,” ungkapnya dikutip Rabu (7/10/2026).

Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Mekari Conference 2026 bertajuk “AI at Work”  baru-baru ini di Jakarta. Acara ini dihadiri lebih dari 700 pemimpin perusahaan, pemilik bisnis, praktisi teknologi, dan profesional lintas industri untuk membahas pemanfaatan AI dalam dunia bisnis Indonesia.

Menurut Suwandi, untuk itu, perusahaan perlu membangun lingkungan kerja yang memungkinkan karyawan memanfaatkan AI secara aman, terintegrasi, dan sesuai kebutuhan bisnis, alih-alih sekadar membatasi penggunaannya.

“Melalui Mekari Airene, kami membawa AI langsung ke dalam alur kerja bisnis sehari-hari dengan fondasi keamanan yang didukung sertifikasi ISO/IEC 27001 dan ISO/IEC 27701,” ujarnya.

Suwandi juga menekankan bahwa AI seharusnya tidak menggantikan peran manusia. Sebaliknya, teknologi ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan profesional dalam berpikir kritis, menganalisis informasi, dan mengambil keputusan.

Pertumbuhan penggunaan AI juga terlihat dalam data internal Mekari AI Intelligence Report. Penggunaan fitur AI pada Mekari Qontak untuk fungsi Sales dan Customer Relationship Management (CRM) meningkat hingga 7,8 kali lipat. Sementara itu, penggunaan AI pada Mekari Talenta tumbuh 138% untuk mendukung proses rekrutmen.

Di bidang keuangan dan operasional, fitur Airene Anomaly Checker pada Mekari Jurnal dan Expense/XPM digunakan untuk membantu mendeteksi potensi ketidakwajaran transaksi. Penerapan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dapat meluas ke berbagai fungsi bisnis, tidak hanya untuk membuat konten atau membantu pekerjaan administratif.

Salah satu contoh penerapannya datang dari jaringan klinik estetika Dermaster. Perusahaan tersebut memanfaatkan Conversational AI melalui Mekari Qontak untuk menangani ribuan interaksi pelanggan.

Director of Sales & Operational Dermaster Dicky Ie mengatakan, teknologi AI membantu timnya mempercepat respons kepada pelanggan sekaligus mengurangi pekerjaan administratif yang berulang.

“Kecepatan dan presisi merupakan fondasi kepercayaan pelanggan. Dengan dukungan AI, tim kami dapat mengurangi pekerjaan administratif yang berulang dan lebih fokus menghadirkan pengalaman pelanggan yang personal,” katanya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa penerapan AI dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi sekaligus memberi ruang bagi karyawan untuk berfokus pada pekerjaan yang membutuhkan penilaian dan interaksi manusia.

Melalui Mekari Conference 2026, Mekari mendorong perusahaan untuk beralih dari sekadar bereksperimen dengan AI menuju penerapan yang memberikan dampak nyata. Di tengah meningkatnya adopsi teknologi ini, tantangannya bukan hanya memilih solusi AI yang tepat, tetapi juga membangun tata kelola dan keamanan agar pemanfaatannya tetap terkendali.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version