youngster.id - Sektor kesehatan Indonesia kini tengah memacu digitalisasi guna menghadirkan layanan yang lebih efisien dan berkualitas. Transformasi menuju rumah sakit pintar (smart hospital) yang berkelanjutan menjadi urgent, mengingat operasional rumah sakit selama 24/7 mengonsumsi energi hingga 2,5 kali lebih besar dibandingkan bangunan komersial biasa.
President Director Schneider Electric Indonesia & Timor Leste, Martin Setiawan, menekankan bahwa transformasi smart hospital memerlukan pendekatan menyeluruh. Tidak hanya sekadar digitalisasi layanan, tetapi juga penguatan infrastruktur energi yang andal.
“Schneider Electric berkomitmen mendukung pemerintah melalui pendekatan terintegrasi yang menggabungkan elektrifikasi, otomasi, dan digitalisasi. Langkah ini bertujuan meningkatkan visibilitas operasional, efisiensi, serta ketahanan infrastruktur rumah sakit dalam jangka panjang,” ujar Martin, dalam acara Healthcare Leadership Forum 2026 di Jakarta, dikutip Sabtu (2/4/2026).
Sebagai mitra teknologi, Schneider Electric menghadirkan platform EcoStruxure for Healthcare sebagai solusi berbasis IoT yang dirancang khusus untuk menjawab berbagai tantangan kritis di lingkungan rumah sakit. Melalui fitur Pengelolaan Energi Kritikal, sistem ini mampu menjamin stabilitas pasokan listrik yang sangat vital bagi ruang operasi dan berbagai peralatan medis sensitif.
Selain itu, platform ini mengintegrasikan fungsi Asset Maintenance & Keamanan yang memanfaatkan data untuk melakukan pemeliharaan aset secara prediktif sekaligus memberikan perlindungan sistem secara menyeluruh atau end-to-end. Seluruh rangkaian solusi ini disempurnakan dengan Building Automation System (BAS), yang mendigitalisasi siklus hidup operasional guna memungkinkan optimalisasi sumber energi serta pengelolaan ruang klinis yang lebih efisien dan terukur.
Secara global, implementasi solusi ini terbukti mampu mengurangi konsumsi energi hingga 20% dan meningkatkan efisiensi operasional melalui analitik data secara real-time.
Beberapa institusi kesehatan di Indonesia telah membuktikan dampak positif dari adopsi teknologi ini. RS Kanker Dharmais menunjukkan bagaimana sistem informasi terintegrasi dan BAS mampu mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Sementara itu, RS Telogorejo melaporkan bahwa integrasi sistem digital berhasil meningkatkan efisiensi energi lebih dari 15%, sekaligus memperkuat visibilitas operasional secara real-time untuk layanan yang beroperasi nonstop.
Presiden Perkumpulan Teknik Pelayanan-Kesehatan Indonesia (PTPI), Eko Supriyanto, menambahkan bahwa sinergi antara regulasi, teknologi, dan sumber daya manusia adalah kunci utama.
“Transformasi menuju smart hospital membutuhkan sinergi yang kuat antara regulasi, sistem, pembiayaan, dan sumber daya manusia. Melalui pendekatan yang terintegrasi dan terstandardisasi, rumah sakit di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memastikan keberlanjutan layanan dalam jangka panjang, serta mendorong peningkatan mutu dan keterjangkauan layanan kesehatan,” jelas Eko.
Dengan standardisasi teknologi yang tepat, rumah sakit di Indonesia diharapkan mampu meningkatkan mutu layanan sekaligus menjaga keberlanjutan finansial.
STEVY WIDIA
















Discussion about this post