youngster.id - Anggapan bahwa tekanan darah tinggi hanya menjadi masalah ketika usia bertambah mulai terbantahkan. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan hipertensi sudah ditemukan pada 10,7% penduduk usia 18–24 tahun berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. Angkanya meningkat menjadi 17,4% pada kelompok usia 25–34 tahun.
Menariknya, hanya 0,4% kelompok usia 18–24 tahun dan 1,8% kelompok usia 25–34 tahun yang melaporkan pernah didiagnosis hipertensi oleh dokter. Kesenjangan ini menunjukkan masih banyak orang muda yang mungkin belum mengetahui kondisi tekanan darahnya.
Karena itu, menjalani gaya hidup sehat saja belum tentu cukup. Kebiasaan memantau kondisi tubuh, termasuk tekanan darah dan detak jantung, juga penting mulai dibangun sejak muda. Hal inilah yang menjadi perhatian OMRON Healthcare Indonesia.
“Kami percaya bahwa menjaga kesehatan merupakan perjalanan yang dilakukan setiap hari, bukan hanya ketika seseorang membutuhkan perawatan. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami faktor risiko, membangun kebiasaan yang mendukung kesehatan, dan memiliki akses terhadap solusi yang dapat membantu mereka melakukan pemantauan secara rutin,” ucap Tomoaki Watanabe, Direktur OMRON Healthcare Indonesia pada Jumat (11/9/2026).
Untuk itu, OMRON Healthcare Indonesia memperkenalkan teknologi ECG (elektrokardiogram/EKG) portabel yang memungkinkan pengguna melakukan pemantauan irama jantung secara lebih praktis. Ada 2 perangkat yang diperkenalkan yaitu, OMRON Portable 1-Lead ECG Heart Rate Monitor HCG-8011B dan OMRON Portable 6-Lead ECG Heart Rate Monitor HCG-8060T.
Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia Fanny Himawan menjelaskan, membangun kebiasaan sehat perlu dibarengi dengan konsistensi dalam memantau kondisi tubuh. Menurutnya, satu kali pemeriksaan belum cukup untuk mengetahui bagaimana kondisi kesehatan seseorang dari waktu ke waktu.
“Kalau kita mengukur tensi sekali, terus kemudian kita enggak ada yang tahu, terutama untuk orang-orang yang mungkin ada genetik. Kita enggak ada yang tahu apakah sekarang oke, tapi besok tekanan darah kita bisa naik karena banyak makan, kurang olahraga, kurang tidur atau stres. Jadi, kenapa konsistensi di sini penting,” ujar Fanny.
Perangkat 1-Lead ECG dapat digunakan untuk melakukan perekaman aktivitas listrik jantung secara cepat. Sementara itu, perangkat 6-Lead ECG merekam beberapa sadapan untuk memberikan gambaran aktivitas listrik jantung yang lebih luas.
Hasil perekaman ECG juga dapat terhubung dengan aplikasi OMRON Connect. Dari hasil tersebut, pengguna dapat memperoleh informasi mengenai kemungkinan AFib maupun gangguan irama jantung lainnya, seperti bradikardia atau detak jantung yang terlalu lambat dan takikardia atau detak jantung yang terlalu cepat.
“Hasil rekaman tersebut juga dapat dikonversi ke dalam format PDF dan dibagikan kepada dokter. Dengan demikian, data dari pemantauan di rumah dapat menjadi informasi tambahan ketika seseorang melakukan konsultasi dengan tenaga Kesehatan,” katanya.
Menurut Fanny, teknologi pemantauan tersebut menjadi pelengkap dari kebiasaan hidup sehat. Pasalnya, seseorang dapat saja sudah berusaha menjaga pola hidup, tetapi belum mengetahui kondisi tekanan darah maupun irama jantungnya.
“Healthy habits itu penting, tapi kadang-kadang mungkin tidak cukup. Karena ketika kita merasa hidup sehat, tetapi kurang monitoring, kita tidak tahu ternyata tiba-tiba tekanan darah kita tinggi. Makanya perlu monitoring tekanan darah,” jelas Fanny.
Meski begitu, hasil ECG yang menunjukkan kemungkinan AFib bukanlah diagnosis. Pengguna tetap perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
STEVY WIDIA

















Discussion about this post