WhatsApp Gandeng Komdigi, Edukasi 2.100 Orang Tua soal Pengasuhan Digital

Kelas Pengasuhan Digital WhatsApp

Victoria Grand, VP Business Operations and External Affairs WhatsApp. (Foto: istimewa/whatsapp)

youngster.id - Aktivitas remaja di dunia digital menghadirkan tantangan baru bagi orang tua, mulai dari menjaga keamanan saat berinteraksi secara online hingga memahami dampak konten digital terhadap kesehatan mental anak. Pendampingan pun tidak cukup dilakukan dengan membatasi penggunaan teknologi, tetapi juga perlu disertai komunikasi terbuka dan pemahaman tentang keamanan digital.

Untuk menjawab tantangan tersebut, WhatsApp meluncurkan Kelas Pengasuhan Digital, sebuah program edukasi selama tiga bulan yang berlangsung pada Oktober hingga Desember 2026. Program ini dijalankan bersama ICT Watch dan Keluarga Kita, dengan berkolaborasi bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Victoria Grand, VP Business Operations and External Affairs WhatsApp, mengatakan orang tua ingin tetap dekat dengan anak remajanya tanpa menghilangkan hak privasi mereka. Karena itu, WhatsApp menghadirkan fitur kontrol orang tua yang memungkinkan keluarga mengelola pengaturan penggunaan aplikasi tanpa harus membaca percakapan pribadi remaja.

“Fitur kontrol ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dan tersedia bagi keluarga di Indonesia dan di negara lainnya. Orang tua dapat mengelola pengaturan WhatsApp untuk anak remajanya, sementara pesan pribadi anak remaja tetap terlindungi dengan enkripsi secara end-to-end,” ujar Victoria, dikutip Senin (19/10/2026).

Menurutnya, pengenalan fitur keamanan perlu disertai edukasi agar orang tua mengetahui keberadaan fitur tersebut dan memahami cara menggunakannya. Atas dasar itu, WhatsApp menghadirkan fitur kontrol orang tua bersamaan dengan program edukasi yang melibatkan mitra yang telah dipercaya oleh keluarga di Indonesia.

Fitur kontrol orang tua memungkinkan orang tua mengelola pengaturan dan batasan tertentu dalam penggunaan WhatsApp oleh remaja. Fitur ini mencakup pengaturan privasi, termasuk menentukan siapa yang dapat menambahkan remaja ke dalam grup, notifikasi aktivitas grup dan Saluran yang diikuti, serta pengaturan Saluran yang dapat diakses remaja.

Orang tua juga dapat mengatur visibilitas Status dan membatasi interaksi dengan Meta AI. Fitur ini bersifat opsional dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing keluarga.

Sementara itu, pesan pribadi di WhatsApp tetap dilindungi dengan enkripsi end-to-end secara default. Dengan sistem ini, isi pesan hanya dapat dibaca oleh pengirim dan penerima, bukan oleh WhatsApp.

Untuk mendukung pelaksanaan program, Meta, WhatsApp, ICT Watch, Keluarga Kita, dan Komdigi mengembangkan parental learning kit yang terdiri atas modul, buku saku, video edukasi, dan dua permainan edukatif.

Sementara itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Nezar Patria mengatakan, Pemerintah hadir melalui PP TUNAS untuk memperkuat pelindungan anak di ruang digital. Namun, pelindungan anak bukan sekadar kewajiban kepatuhan, melainkan gerakan bersama seluruh ekosistem digital.

“Pendampingan dan literasi digital perlu terus diperkuat agar anak tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga warga digital yang tangguh, beretika, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk masa depan yang lebih baik,” katanya.

Program ini juga mencakup pelatihan bagi para pelatih atau Training of Trainers (ToT), serta sesi pendampingan lanjutan yang dipandu oleh Parent Champions, yakni orang tua yang berperan sebagai penggerak edukasi di komunitas.

Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti, mengatakan fitur keamanan digital akan lebih efektif apabila orang tua memahami cara menggunakannya dan mampu membangun komunikasi yang baik dengan anak.

“Karena itu, kami menyusun modul ini dengan menitikberatkan pada praktik, bukan sekadar teori. Setelah mengikuti kelas ini, orang tua tidak hanya mendengar penjelasan tentang pengaturan keamanan, tetapi juga telah mempraktikkan cara mengaturnya sendiri, termasuk cara membangun komunikasi yang baik dengan anak,” kata Indriyatno.

Sementara itu, Co-Founder Keluarga Kita, Yulia Indriati, menilai kesulitan orang tua dalam mendampingi anak di dunia digital tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kepedulian. Banyak orang tua justru belum mengetahui langkah awal yang dapat dilakukan untuk membantu anak menghadapi risiko di ruang digital.

Karena itu, orang tua membutuhkan panduan praktis yang dapat meningkatkan kepercayaan diri dalam membangun komunikasi terbuka dengan anak. Pendampingan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan setiap keluarga, termasuk dalam memanfaatkan fitur kontrol orang tua yang bersifat opsional.

Program Kelas Pengasuhan Digital dimulai di Jakarta dengan melibatkan 100 orang tua. Selanjutnya, pelatihan akan diperluas ke Padang dan Cirebon dengan membekali penggerak komunitas lokal agar dapat menjangkau total 2.100 orang tua di ketiga kota tersebut.

Selain pelatihan langsung, materi edukasi keamanan digital dalam bentuk parental learning kit akan didistribusikan melalui kanal komunitas mitra. Melalui pendekatan ini, program tersebut ditargetkan dapat menjangkau sekitar 179.000 orang tua hingga Desember 2026.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version