Transportasi Online Harus Utamakan Keselamatan

Menkominfo Rudiantara Forum Diskusi Bisnis dalam rangka HUT Lalu Lintas ke-61. (Foto: Kominfo/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Teknologi tak bisa dipandang sebagai sesuatu yang independen, tetapi harus diposisikan sebagai enabler pertumbuhan berbagai aktivitas. Untuk itu, penyelenggara transportasi berbasis aplikasi dihibau tak hanya berfokus pada kepentingan bisnis, tetapi juga harus memprioritaskan keselamatan.

Demikian disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara. Dia menegaskan, untuk memastikan transportasi berbasis aplikasi yang mendukung keselamatan penggunanya, pemerintah saling berkoordinasi untuk menerbitkan aturan.

“Legislasi, Peraturan Pemerintah, Undang-Undang (tentang transportasi berbasis aplikasi) semuanya ada di Kementerian Perhubungan, bukan Kemkominfo,” kata Menkomnfo Rudiantara pada acara Diskusi HUT Lalu Lintas ke-61 Kamis (8/9/2016) di Jakarta.

Meski begitu, Rudiantara menjelaskan perusahaan penyelenggara aplikasi seperti Grab, Uber, hingga Go-car tak masuk ke kategori sebagai perusahaan yang perlu memiliki izin untuk menjadi transportasi umum.

Pasalnya, perusahaan penyedia aplikasi perlu bermitra dengan badan usaha seperti koperasi. Usaha berbadan hukum lah yang bisa memiliki izin menyelenggarakan transportasi umum.Namun, untuk memenuhi keamanan penggunanya, usaha berbadan hukum ini perlu memenuhi beberapa hal, yakni pengemudi memiliki SIM A umum (untuk bisa mengangkut penumpang) dan armada yang lolos uji kelaikan (KIR).

“SIM harus umum karena ini masalah keselamatan. Lalu kendaraan harus (lulus) KIR, juga untuk keselamatan. Keduanya diatur dalam regulasi kita, jadi harus diikuti,” ujar pria yang karib disapa Chief RA itu.

Menanggapi peraturan itu, Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata mengatakan Grab di Indonesia tegaskan jadi platform layanan transportasi teraman. “Keamanan adalah nomor satu bagi kami,” katanya di kesempatan sama.

Untuk mendukung keamanan pengguna, pihaknya pun sepakat untuk menjalankan aturan yang ditetapkan pemerintah.

“Grab mendukung soal kebijakan KIR dan SIM A umum. Itu tugas kami untuk memberi layanan terbaik dan paling mudah untuk mitra-mitra kami. Kami sangat berusaha untuk bisa membantu mitra kami memenuhi hal tersebut,” kata Ridzki.

Misi selanjutnya adalah memberi kemudahan akses untuk pengguna, dan ketiga adalah memperbaiki kesejahteraan bagi mitra perusahaan.

Sementara itu, Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Syamsul Bahri menuturkan bahwa dalam pengelolaan angkutan umum perlu sistem kontrol dari aparat, asuransi, dan perlindungan pelanggan.

“Sebagai penegak hukum, kepolisian dalam transisi transportasi online ada di ranah penegakan hukum yang tegas, namun humanis,” katanya.

 

 

STEVY WIDIA