Twitter Raup Pendapatan US$ 758,1 Juta

Twitter (Foto: Ilustrasi/Youngsters.id)

youngster.id - Perusahaan teknologi Twitter mencatatkan pendapatan sebesar US$ 758,1 juta atau Rp 11,53 triliun per Kuartal III-2018. Pencapaian itu melebihi ekspektasi pasar yang memperkirakan pendapatan Twitter hanya US$ 700 juta.

Twitter pun membukukan laba sebesar US$ 789 juta. Alhasil laba per sahamnya mencapai US$ 0,21. “Kami mencapai kemajuan yang berarti dalam upaya kami untuk menjadikan Twitter sebagai layanan sehari-hari yang lebih sehat dan berharga,” kata Jack Dorsey CEO Twitter dalam keterangannya baru-baru ini.

CFO Twitter Ned Segal menambahkan, pendapatan dari iklan melebihi ekspektasi perusahaan. Menurutnya, pencapaian ini merupakan hasil dari upaya Twitter memprioritaskan kesehatan layanan untuk jangka panjang. “Kami menumbuhkan (minat) sejumlah orang yang berpartisipasi dalam percakapan publik,” ujarnya.

Pada Kuartal II-2018, harga saham Twitter turun 19% karena penghapusan akun palsu tersebut. “Langkah itu (terbukti) benar-benar baik untuk kesehatan platform secara keseluruhan. Yang pasti, lebih menarik untuk pengiklan,” kata Brian Wieser analis Pivotal Research Group dikutip dari Reuters.

Pasar juga merespons positif aksi Twitter yang menghapus sekitar 70 juta akun penyebar konten negatif. Terbukti, harga saham Twitter naik 16%.

Baca juga :   Tahun Depan Twitter Fokus ke Video

Setelah aksi ‘bersih-bersih’ itu, CEO Twitter Jack Dorsey mengatakan bahwa perusahaannya fokus menjaga kesehatan layanan. “Kami bekerja lebih baik dalam mendeteksi dan menghapus akun yang berisi spam dan mencurigakan ketika mendaftar,” kata dia dikutip dari New York Times, akhir pekan lalu.

Penghapusan akun palsu itu memang berdampak pada penurunan jumlah pengguna aktif Twitter dari 335 juta di Kuartal II menjadi 326 juta per bulan pada Kuartal III-2018. Namun pendapatan dari iklan meningkat sekitar 29% secara tahunan (yoy) menjadi US$ 650 juta. Alhasil, pendapatan Twitter melebihi perkiraan Wall Street sebesar US$ 703 juta.

STEVY WIDIA