Yogyakarta Berpotensi Jadi Pusat Ekonomi Kreatif Indonesia

Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital gelar Ignition kedua Minggu, (18/9/2016) di Grha Sabha Pramana,Yogyakarta. (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Yogyakarta memiliki potensi besar untuk terus mengembangkan ekosistem digital agar menjadi pusat ekonomi kreatif Indonesia. Banyak talenta muda kreatif di kota gudeg tersebut yang mendorong munculnya komunitas kreatif yang bertambah setiap tahunnya.

Peran komunitas anak muda sangat besar di Yogyakarta. Hal itu membuat dunia startup dan industri game semakin berkembang. Ini dibuktikan dengan munculnya sejumlah startup digital baru di Yogyakarta seperti Sale Stock, Pasienia, Pijar Psikologi, Rumah Mimpi, dan lainnya. Bahkan, pengembang game dunia, Gameloft, melebarkan sayapnya hingga ke kota pelajar ini.

Untuk itu Gerakan Nasional 1000 Startup Digital (GNSD) juga digelar di Yogyakarta. Hal ini diharapkan dapat semakin menumbuhkan startup digital yang mampu memecahkan setiap permasalahan sosial. Dan menjadikan Yogyakarta sebagai pusat ekonomi kreatif terbesar di Indonesia.

“Yogyakarta sudah siap menjadi pusat ekonomi kreatif di Indonesia. Salah satu faktornya adalah human resource yang mumpuni, karena ada UGM, salah satu universitas terbaik di negeri ini. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa Yogyakarta bisa melahirkan founder-founder yang tidak sekadar bertaraf lokal, bahkan bertaraf internasional. Plus, kesadaran akan pentingnya perkembangan startup sudah diwujudkan dengan adanya Innovative Academy, inkubator startup yang diinisiasi oleh UGM dan KIBAR,” tutur Leonika Sari, CEO Reblood, dalam siaran pers GNSD Minggu (18/9/2016) di di Grha Sabha Pramana, Yogyakarta.

Terdapat lima sesi yang akan menjadi fokus Ignition kedua Yogyakarta yaitu The Startup Journey, Don”™t Start a Business, Solve a Problem, Think Like a Founder, Fail Fast, Fail Forward dan Building a Sustainable Startup. Tujuannya adalah untuk menanamkan mindset tentang startup founder kepada anak kreatif Yogyakarta untuk mengembangkan startup yang ingin mereka bangun.

Menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, jumlah entrepreneur non-pertanian di Yogyakarta hasil pendaftaran usaha Sensus Ekonomi 2016 (SE2016) mencapai 533,9 ribu usaha, meningkat sebesar 32,36 persen jika dibandingkan jumlah usaha hasil Sensus Ekonomi 2006 yang tercatat sebanyak 403,3 ribu usaha.

Hal ini juga dibuktikan dengan hadirnya 190 startup di kota pelajar ini dalam lima tahun terakhir. Dari 190 startup tersebut, 57 startup mengerjakan website development, 53 startup fokus pada proyek desain grafis, 40 startup bergerak di bidang internet marketing, dan 39 startup mampu menciptakan aplikasi mobile.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Jogja Digital Valley, sebanyak 32,33% startup mengaku memilih Yogyakarta karena biaya operasional yang murah. Selain itu, alasan lainnya adalah sumber daya manusia yang berkualitas, serta akses internet yang cukup baik.

Lahirnya anak muda kreatif Yogyakarta tak lepas dari peran universitas yang mengakselerasi pertumbuhan industri lokal, khususnya startup. Salah satunya adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mendorong mahasiswanya untuk terus mengembangkan diri menjadi socio-entrepreneur. Salah satu aksi nyata UGM adalah melalui Innovative Academy, program inkubator startup digital selama tiga bulan sejak 2014.

“UGM memiliki peran besar untuk memasukkan spirit socio-entrepreneurship dengan menanamkan semangat nasionalisme untuk menghasilkan entrepreneur yang sadar akan kedaulatan Indonesia dan bekerjasama dengan berbagai pihak,” tutur Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni Universitas Gadjah Mada, Dr. Paripurna P. Sugarda.

Saat ini, Innovative Academy telah menjadi mitra resmi penyelenggaraan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital di Yogyakarta.

STEVY WIDIA