Edward Widjanarko : Bantu Permudah Akses Pembiayaan Bagi Mahasiwa

Yohanes Edward Widjanarko, Co-Founder & CEO Cicil.co.id (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Mahasiswa identik dengan perjuangan untuk bisa lulus dengan biaya hidup yang pas-pasan. Banyak juga di antara mereka berotak cerdas, tetapi berasal dari daerah dan dengan keadaan ekonomi yang minim. Sehingga tak jarang konsentrasinya pecah menjadi dua antara kuliah dan memenuhi biaya kuliah.

Hasil survei dari Higher Education Leadership and Management (HELM) terhadap 2.000 mahasiswa dari 71 perguruan tinggi mendapati sumber pendapatan mayoritas mahasiswa dari orang tua (88,16%) dan beasiswa (4,60 %). Ternyata, kiriman dari orang tua pun belum tentu murni berasal dari orang tua. Berdasarkan hasil survei tersebut, tak jarang orang tua juga meminjam kepada saudara (32%), bank (28%), dan Pegadaian (13%).

Kondisi ini tentu berpengaruh pada mahasiswa dalam hal mendapatkan pendidikan yang layak. Berangkat dari persoalan itulah Edward Widjanarko bersama Leslie Lim mendirikan Cicil.co.id, sebuah aplikasi yang memungkinkan para mahasiswa untuk membeli berbagai barang di platform mereka, dan membayarnya dengan metode cicilan tanpa harus mempunyai kartu kredit.

“Kami lihat akses untuk pembiayaan pendidikan di Indonesia masih sangat terbatas. Dari situlah hadirnya aplikasi ini,” ungkap Edward, CEO Cicil.co.id kepada Youngsters.id saat ditemui di kantornya kawasan Jakarta Barat belum lama ini.

Menurut Edward, sebelum mendirikan platform ini mereka melakukan riset pasar terlebih dahulu. Lalu menghadirkan aplikasi Cicil.co.id ini pada pertengahan September 2016.

“Sebelumnya kami banyak interview mahasiswa. Nah, dari hasil wawancara itu, ternyata masih banyak kebutuhan yang memang diperlukan oleh  mahasiswa untuk mendukung kegiatan belajar mereka salah satunya alat komputer. Karena kalau pinjam ke Bank, pertama pasti banyak persyaratannya. Paling tidak mereka pasti ditanya soal gaji, mereka pasti belum punya kalau ditanya soal itu.Kehadiran kami disini paling tidak dapat memberikan solusi bagi mahasiswa dalam mendapatkan pembiayaan pendidikan,” jelas Edward.

Menurut Edward, untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan dari Cicil, mahasiswa dapat mengajukan uang muka dan jangka waktu cicilan mulai dari 12 bulan hingga 24 bulan. Bahkan bisa lebih lama lagi untuk dapat menyesuaikan besaran cicilan dengan budget masing-masing.

“Karena kami bekerja dengan teknologi dan data. Biasanya kami juga memiliki data berupa hasil survei tentang produk apa yang dibutuhkan mahasiswa dalam setiap semester, serta menganalisasnya berdasarkan data diri mahasiswa tersebut. Jadi cukup ketat dan data yang kami miliki itu karena sebagai pondasi utama bagi kami untuk memastikan fasilitas yang diajukan oleh mahasiswa nantinya sesuai kebutuhan mereka,” ungkapnya.

Untuk menggunakan Cicil, mahasiswa hanya perlu mengisi formulir yang mereka sediakan di platform mereka. Setelah itu, Cicil akan memeriksa profil pendaftar apakah layak untuk diberi cicilan atau tidak. Jika disetujui, Cicil akan langsung membelikan barang yang diinginkan.

Diklaim Edward, yang membedakan Cicil dengan penyedia layanan peminjaman lainnya, selain memberi kredit produktif, sekaligus bisa mencegah pinjaman dari penyalahgunaan. “Jadi harus ada persetujuan dari pihak kami, karena kami juga tidak mau bantuan yang diberikan ini disalahgunakan oleh calon peminjam dan menyimpang dari kebutuhan kuliah,” ujar Edward. Saat ini Cicil telah mampu melayani di 20 universitas.

 

Misi

Sebelum mendirikan Cicil, anak bungsu dari dua bersaudara ini pernah bekerja di e-commerce perlengkapan bayi Bilna, serta AJ Capital Advisory. Berdasarkan pengalaman itu maka ia memiliki misi bagi Cicil.

“Misi kami untuk memberikan akses pembiayaan, juga meningkatkan financial literacy di kalangan kampus,” ucap pria kelahiran Bandung, 9 Februari 1987 itu.

Menurut Edward, salah satunya dengan melakukan edukasi mulai dari personal budgeting dan product financial. Mereka juga menggandeng beberapa pengajar dari universitas ternama untuk mengadakan workshop khusus bagi kalangan mahasiswa. Langkah ini diyakni dapat menanggulangi penyalahgunaan dana tersebut.

“Memang kami ini kan sifatnya sosial dan membantu, tetapi bagi para peminjam juga tidak boleh main-main dengan kepercayaan yang telah kami berikan,” imbuhnya mewanti-wanti.

Untuk menggunakan Cicil, mahasiswa hanya perlu mengisi formulir yang tesedia di platform Cicil. Setelah itu, Cicil akan memeriksa profil mahasiswa itu: apakah layak untuk diberi cicilan atau tidak. Jika disetujui, Cicil akan langsung membelikan barang yang diinginkan.

Pasalnya, meski belum lama berdiri Cicil sudah mengalami berbagai kendala. Antara lain mengenai keterlambatan pembayaran dari para penerima bantuan. Namun, menurut Edward, keadaan ini segera dapat diatasi oleh tim yang dipercaya Cicil.co.id agar si penerima bantuan dapat menyelesaikan administrasinya.

“Keterlambatan pembayaran ada, dan pernah kami temui. Tapi di situ kami juga kasih efek jera sama yang bersangkutan, sekaligus memberikan solusinya buat mereka setelah kami melakukan analisa. Cuma pendekatannya tetap humanis. Karena kami ini bukan sebagai debt collector. Kami juga ada denda bagi yang terlambat, besarannya Rp 50 ribu per minggu. Tetapi kalau penerima bantuan masih bisa berkomunikasi baik dengan kami, denda itu masih bisa kami berikan toleransi,” tuturnya.

Hanya saja putra dari pasangan Widjanarko Tanuwibowo dan Indrariani Soelaiman itu enggan mengungkapkan jumlah debitur dan besaran pinjaman yang telah disalurkan. Namun layanan ini telah tersedia di Jakarta dan Bandung. Rencananya Cicil akan mengembangkan layanan ke kota lain, seperti Yogyakarta dan Surabaya.

“Kami saat ini memang belum bisa melakukan kerjasama di beberapa daerah di luar Jawa, karena lokasi dan memang butuh waktu. Untuk saat ini kami fokus dulu di dua kota, yakni Jakarta dan Bandung. Namun, ke depan kami pasti lakukan pengembangan ke kota lain seperti Yogyakarta dan Surabaya,” ungkap Edward.

Selain itu, Cicil juga bekerja sama dengan sejumlah merchant agar harga produk yang diinginkan jadi lebih terjangkau.

 

Edward Widjanarko dan tim Cicil.co.id turut membantu mempermudah akses pembiayaan bagi mahasiswa (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

 

Kepuasan Hati

Edward mengaku ide untuk mendirikan perusahaan penyedia layanan peminjaman ini terbersit ketika ia bersama Leslie masih mengenyam pendidikan di MBA INSEAD Singapura dan Perancis 2016. Menurut dia, dengan layanan tersebut mereka paling tidak dapat meringankan beban orang lain. Dan itu menyenangkan.

“Yang membedakan bisnis ini dengan yang lain adalah kepuasan batinnya. Ada rasa senang bisa membantu orang. Karena itu dalam bisnis ini kami juga punya sisi sosial, jadi bukan semata-mata mencari profit saja,” imbuhnya.

Meski demikian, penggemar olah raga diving ini tetap memperhitungkan sisi bisnis. Apalagi bisnis financial technology (fintech) yang mereka garap sedang bertumbuh pesat.

“Persaingan memang belum terlihat, ya. Karena sekarang Cicil ini adalah satu-satunya platform penyedia layanan peminjaman pertama yang ada di negeri ini. Kami percaya dengan pendaan itu serta foundasi yang kami miliki sekarang Cicil bisa bersaing dan berkembang sesuai dengan trending scoring yang kami miliki,” ujarnya menjelaskan.

Potensi Cicil ini juga dilihat oleh investor. Pada 17 November 2016, platform pinjaman untuk mahasiswa  Cicil mengumumkan kalau mereka telah mendapat pendanaan tahap awal (seed funding) dari East Ventures. Meski enggan menyebutkan nominal pendanaan yang mereka terima (dan omzet yang diperoleh setiap bulannya), namun Cicil berencana akan menggunakan dana segar tersebut untuk mengembangkan bisnis mereka di kalangan para mahasiswa.

“Intinya bukan itu aja sih. Yang pasti sudah senang bisa menolong orang. Sekaligus bisa menghidupi 15 karyawan kami ini. Cuma kalau modal dan berapa omset yang didapat, saya belum bisa sampaikan. Pastinya, kalau puluhan juta modalnya lebih karena kami ini adalah financial company,” kilahnya.

Dengan pendaan awal itu, Edward mengaku ia bersama Leslie terus bergerak untuk menghadirkan inovasi baru, agar Cicil bisa lebih berkembang. Dalam waktu rencananya mereka akan meluncurkan aplikasi mobile.

“Harapannya kehadiran Cicil.co.id ini bisa menjadi sebuah bisnis model baru dan seiring perjalanannya bisnis yang kami tekuni ini bisa terus tumbuh dan bisa membantu sekaligus solusi bagi para mahasiswa yang ingin mendapatan bantuan pembiayaan dalam hal pendidikan,” pungkas Edward.

 

===========================================

Yohanes Edward Widjanarko

  • Tempat Tanggal Lahir      : Bandung 9 Februari 1987
  • Pendidikan                         : School Of Business Management ITB 2008, MBA INSEAD IGJ Singapura & Perancis 2016
  • Jabatan                                : Co-founder & CEO Cicil.co.id
  • Mulai Usaha                       : September 2016
  • Jumlah Karyawan             : 15 orang

==========================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia