Kevin Kumala : Terpanggil Untuk Melestarikan Alam Dengan Bioplastik

Kevin Kumala, Founder & Chief Green Officer Avani Eco (Foto: Fahrul Anwar/Youngsters.id)

YOUNGSTER.id - Selama ini sampah plastik punya reputasi sangat buruk. Bahkan, timbunan sampah plastik menjadi masalah dunia dan disebut-sebut sebagai penyebab pemanasan global, polusi, dan berbagai masalah lingkungan lainnya. Namun sebuah inovasi telah menghadirkan kantong plastik ramah lingkungan, bahkan bisa dimakan.

Publikasi di jurnal Science mengungkap, tahun 2010 saja dunia menghasilkan plastik sebanyak 12 juta ton. Bahkan, Indonesia tercatat sebagai penghasil sampah plastik terbesar kedua setelah China, yaitu 1,8 juta ton per tahun. Dan jika terus terjadi diperkirakan bumi akan segera menjadi planet yang dipenuhi plastik.

Toh, masalah sampah plastik ini tampaknya mulai dapat dipecahkan. Seorang anak muda melakukan inovasi: membuat tas plastik yang aman dikonsumsi. Dalam sebuah kampanye penggunaan bioplastik, dengan tagline “I am Not Plastic”, diperagakan: kantong plastik itu dipotong-potong, lalu diaduk dalam gelas berisi air panas. Hebatnya, secara instan potongan plastik itu larut, kemudian diminumnya.

“Produk bioplastik buatan Avani aman dan tidak beracun. Sebab, bahannya berasal dari singkong yang bisa menjadi sumber daya yang baik untuk produk-produk biodegradable. Dan, pastinya, produk itu dihasilkan melalui proses riset dan pengembangan yang cukup lama,” klaim Kevin Kumala, saat ditemui Youngsters.id baru-baru ini di Jakarta.

Kevin merupakan founder, sekaligus Chief Green Officer Avani Eco—sebuah perusahaan rintisan berbasis sains asal Bali yang menawarkan beragam produk ramah lingkungan. Termasuk kantong plastik yang dapat terurai dan tidak berbahaya bagi alam dan makhluk lainnya.

Menurut Kevin, saat ini banyak produk bioplastik yang dipasarkan sebagai produk “ramah lingkungan” namun tidak memberikan keuntungan kepada lingkungan. Kantong plastik yang bisa didaur ulang itu seringkali masih menghasilkan residu beracun yang membuatnya berbahaya untuk kehidupan laut dan tanaman. “Bahkan produk ini sering tidak terdaur ulang seperti klaim awalnya, yang pada akhirnya menghasilkan kematian bagi ribuan mahluk laut dan berbahaya jika dikonsumsi manusia,” ungkap Kevin.

Pertengahan Maret 2017, Kevin terpilih mewakili Indonesia di festival industri kreatif South by South West (SXSW) yang diadakan di Austin, Texas, Amerika Serikat. Di sana, ia menampilkan solusi bagi masalah plastik dunia, yaitu melalui produk biodegradable yang aman yang dikembangkan Avani Eco.

 

Karena Kecintaan Pada Alam

Niat dan semangat Kevin untuk mengembangkan produk ramah lingkungan, seperti kantong plastik biodegradable, bermula dari kecintaannya akan alam. Pemuda yang hobi surfing dan diving ini tidak terima melihat lokasi yang dia datangi ternyata tercemar oleh plastik.

“Waktu saya diving dan surfing yang saya temui bukan lagi pasir putih, bukan lagi ombak biru yang dilihat dan dinikmati. Tetapi ketika nyebur ke laut semua terumbu karang tersumbat oleh plastik. Bahkan saya berenang melawan arus plastik dan surfing di atas ombak plastik. Semua terganggu dan unsur utamanya adalah plastik,” kisah Kevin.

Hal itu juga membuat Kevin menyadari betapa besar dampak sampah plastik. “Bayangkan jika setiap hari, tiap warga Indonesia yang jumlahnya 250 juta menggunakan satu sedotan plastik sepanjang 20 cm dan langsung membuangnya. Sedotan yang semula cuma printilan ini jadi masalah karena sampah yang terakumulasi bila direntangkan bisa mencapai 5.000 kilometer, setara jarak Jakarta ke Sydney,” ucapnya lagi.

Alumni Biology Science, University Of Student California itu tak rela hal itu terus terjadi. Tak memilih cara protes yang lantang, Kevin lebih berusaha mencari solusi bagaimana menggantikan sampah plastik itu menjadi produk yang lebih ramah lingkungan. Bagaimana plastik yang memiliki nilai praktis dan kuat untuk digunakan sekaligus dapat terurai dan tidak berbahaya bagi alam dan makhluk hidup lainnya.

Setelah melalui riset yang cukup panjang, Kevin pun memberanikan diri membangun Avani Eco pada tahun 2014. Selain membuat kantong plastik yang bisa dimakan ini, Avani juga sudah memiliki beberapa produk ramah lingkungan lain, seperti jas hujan plastik ramah lingkungan, dan sedotan plastik dari pati jagung.

Dan, tentunya, bukan hanya berkutat di bahan plastik ramah lingkungan, Avani juga memiliki produk beberapa produk ramah lingkungan lainnya (non-plastic). Antara lain: styrofoam dari bahan ampas tebu, yang terdekomposisi dalam 90 hari, papercup dari pati jagung dan sendok makan dari bahan kayu yang biodegradable. “Banyak produk lain yang temanya disposable plastic,” ungkap Kevin.

 

Riset yang Panjang

Sejatinya, produk bioplastik yang dikembangkan Kevin tersebut bukanlah barang baru. Sejak tahun 1990, perusahaan di Eropa sudah memproduksi bioplastik dari jagung, serat bunga matahari. Namun, jika memproduksi bioplastik dari bahan yang sama, maka biayanya akan mahal.

Bahkan, banyak mahasiswa Indonesia telah melakukan penelitian pembuatan plastik dari pati singkong, ganyong, gembili, bahkan kulit pisang. Namun Kevin ingin mewujudkan gagasan itu menjadi nyata. Untuk itu, sejak tahun 2013 ia serius melakukan penelitian laboratorium guna menghasilkan bioplastik dengan ketahanan tinggi. Kandungan dalam pati yang memengaruhi kualitas bioplastik adalah kandungan selulosa dan amilosa.

Kevin pun mencari alternatif, dan menganggap singkong adalah bahan bagus. Apalagi tanaman ini banyak tersedia di Indonesia. “Di Indonesia produksi singkong 20 sampai 25 ton per tahun,” jelasnya.

Menariknya, pemuda yang juga mengambil pendidikan Dokter Gigi itu tidak menggunakan singkong mentah. Melainkan yang sudah berbentuk tepung. Jenis tepung yang dipakai adalah industrial grade yang biasa dipakai untuk pakan ternak. Bisa dikatakan, tepung itu adalah buangan karena kadar patinya minim.

Menurut Kevin, ada tantangan besar untuk mewujudkan gagasannya tersebut. Selain butuh riset yang tekun untuk menghasilkan bioplastik berkualitas, juga biayanya tinggi. Kevin mengaku sempat kesulitan mendapatkan dana untuk risetnya. Toh, tanpa mau menyebut sumber pendanaan, Kevin menyebutkan ia mesti mengucurkan modal awal hingga Rp 200 juta.

Kendati begitu, ketekunan Kevin dalam melakukan riset berbuah hasil. Bioplastik buatan Avani Eco berhasil mendapat sertifikasi legal dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Bahkan, bioplastik Avani juga sudah mengantongi sertifikasi Oral Toxicity Test.

“Produk Avani ini sama sekali aman. Bahkan tidak hanya ramah bagi lingkungan di atas tanah, tapi juga ramah bagi lautan,” ujar Kevin bangga. “Teknologinya mungkin tidak baru, tetapi ada satu keunggulan yang kami banggakan yaitu produk kami sudah lulus toxicity test sehingga aman jika terkonsumsi oleh hewan laut,” klaim Kevin bangga.

Lebih dari itu, produk Avani pun mulai dilirik pasar. Ketika Kevin merasa produknya sudah siap dipasarkan, ia pun menawarkannya kepada para pelaku industri, seperti perhotelan dan restoran. Hasilnya, pada Februari 2017 Ritz Carlton Hotel menjadi klien pertamanya.

Hasil itu kian menambah semangat Kevin. Ia pun menggencarkan promosinya melalui sosial media. Pemasaran produk Avani yang semakin meluas turut mendorong perusahaan penerbangan milik BUMN Garuda Indonesia ikut menggunakan bioplastik Avani untuk pembelanjaan dalam penerbangannya.

“Bersyukur, semakin hari produksi selalu meningkat. Aku lupa jumlahnya kalau sekarang, tetapi kami sudah bisa mengekspor untuk 26 negara,” klaim Kevin dengan bangga.

Kapasitas produksi Avani meningkat pesat dalam setahun. Jika pada awal 2016 produksinya 0,2 ton per hari, saat ini produksinya mencapai 4 ton per, dengan memperkejakan 130 orang karyawan. Dari total hasil produksi tersebut, sekitar 80%-nya diekspor. Menariknya, kini tujuan ekspornya bukan hanya ke negara-negara barat, tetapi juga ke negara seperti Rwanda, Kaledonia Baru, Madagaskar, Tanzania, dan sebagainya. Secara keseluruhan ekspor produk Avani masuk ke negara-negara di kawasan Asia, Eropa hingga Afrika.

 

Produk bioplastik Avani Eco yang aman dan ramah lingkungan (Foto: Istimewa/Youngsters.id)

 

Ingin Ikut Melestarikan ALam

Keunggulan produk Avani ini, selain aman dan ramah lingkungan, harga jualnya juga cukup kompetitif. Jika kantong plastik biasa butuh waktu ratusan tahun untuk bisa terurai, kantong plastik milik Avani bisa larut secara instan dalam air jika menggunakan air panas. Tetapi, dalam air dingin bioplastik ini akan menjadi lunak dan kemudian terurai atau berubah menjadi karbondioksida, air dan biomassa dalam hitungan beberapa bulan (90 hari) secara alami.

Kendati begitu, dengan semua keunggulan itu, harga kantong bioplastik Avani tak jauh berbeda dengan kantong plastik biasa. Menurut Kevin selisih harga untuk kantong plastik bioplastik dengan kantong plastik polyester berkisar Rp 2000 – Rp 3000. Sementara untuk sedotan, selisih harganya cuma Rp 80.

“Boleh dibilang harga mahal tak bisa dibohongi, namun uang dalam jumlah sedikit itu bisa memberi dampak besar. Dampak positifnya adalah kematian hewan laut dan akumulasi racun tak terduga akibat penggunaan plastik polystyrene dapat berkurang drastis,” ucap Kevin.

Menurut Kevin, ke depan ada banyak rencana pengembangan yang akan dilakukannya. Hanya saja belum dalam waktu dekat. “Pengembangan sudah ada. Melihat keberhasilan ini, tentunya membuat kami terus berupaya melakukan inovasi baru,” tegas Kevin.

Disebutkan Kevin, beberapa rencana pengembangan produk yang akan dibuatnya, seperti: membuat sisir dari sekam padi, membuat sendok dan garpu dari bahan brem sehingga bisa juga untuk dimakan.

“Jadi banyak banget prototype yang masih bisa kami lakukan ke depannya. Termasuk alternatif energi, mikro alga, dan alternatif fuel, yang nanti akan kami kembangkan juga, “ jelasnya.

Meskipun sekarang telah bisa dikatakan sebagai pengusaha sukses, Kevin mengaku tak melulu memikirkan profit. Terpenting bagi dia, jika lebih banyak orang lagi di dunia mau menggunakan bioplastik, maka kematian hewan laut dan akumulasi racun tak terduga akibat penggunaan plastik polystyrene dapat berkurang drastis.

“Bukan hanya profit, tapi di sini ada purpose yang ingin saya capai sebagai pengusaha sosial. Panggilan saya di dunia ini adalah untuk melestarikan alam, kreasi buatan-Nya agar generasi berikutnya juga bisa menikmati,” pungkasnya.

 

================================================

Kevin Kumala

  • Tempat Tanggal Lahir     : Jakarta 21 Mei 1985
  • Pendidikan                         : S1, Biology Science, University Of Student California,  S2, BSM Program (Dokter Gigi), & MM, Bisnis Management, Bina Nusantara
  • Nama Usaha                      : Avani Eco
  • Jabatan                            : Founder & Chief Green Officer
  • Mulai Usaha                       : Februari 2014
  • Modal                                   : Rp. 200 juta
  • Jumlah Karyawan             : 130 orang

Prestasi           :

  • Most Avalaible Bisnis Indonesia
  • Startup Unicorn
  • Terpilih mewakili Indonesia pada festival industri kreatif South by South West (SXSW) di Austin, Texas, Amerika Serikat, Maret 2017

============================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia