youngster.id - Bagi jutaan anak di kota-kota besar Indonesia, mengakses materi belajar digital semudah mengklik layar ponsel. Namun, di ribuan sekolah yang tersebar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), ketiadaan sinyal internet adalah tembok tebal yang memutus akses mereka terhadap ilmu pengetahuan. Menolak pasrah pada lambatnya pembangunan infrastruktur, Steffina Yuli hadir membawa solusi nyata melalui Kipin Edutech.
Steffina adalah sosok di balik platform pembelajaran hybrid yang mendemokratisasi pendidikan di Indonesia. Berkat dedikasi dan dampak sosial yang diciptakannya, alumnus Yale University ini sukses masuk dalam daftar bergengsi Forbes 30 Under 30 Asia pada tahun 2023 untuk kategori Social Impact di usia 29 tahun.
Perjalanan Steffina membangun Kipin dimulai pada tahun 2016. Saat itu, ia melihat kenyataan pahit bahwa mayoritas sekolah di daerah pelosok sama sekali belum terjamah internet. Sadar bahwa para siswa tidak bisa menunggu hingga infrastruktur telekomunikasi merata, Steffina memutar otak dan mengembangkan sistem perpustakaan digital unik yang tetap dapat diakses secara maksimal tanpa koneksi internet (offline).
Membuka Akses 60 Ribu Konten dan Menghemat Miliaran Rupiah
Melalui Kipin Edutech, Steffina menyediakan ekosistem pembelajaran digital yang sangat kaya dan komprehensif. Platform ini memuat lebih dari 60.000 sumber daya gratis, termasuk 5.000 lebih buku sekolah resmi, 2.000 video pembelajaran interaktif, 50.000 latihan soal tryout, serta 500 komik literasi yang menarik bagi anak-anak.
Inovasi Kipin tidak hanya memotong ketergantungan pada kuota internet, tetapi juga memangkas beban finansial. Setiap tahunnya, lebih dari 35.000 sekolah mengunduh konten edukasi dari Kipin, menciptakan efisiensi pengadaan logistik cetak dengan nilai penghematan mencapai Rp1 bakar per konten tiap tahunnya.
Bagi Steffina, pendidikan bukan sekadar urusan teknologi, melainkan sebuah gerakan kemanusiaan.
“Kipin Edutech adalah cahaya bagi mereka yang hidup dalam kegelapan pendidikan. Banyak anak di daerah sulit meraih mimpi karena terhalang akses terbatas, masalah internet, dan biaya yang tinggi. Kami ingin mematahkan belenggu itu,” ungkap Steffina.
Memberdayakan Guru Lewat Asesmen Digital Modern
Fokus Steffina tidak hanya terpaku pada siswa. Menjabat sebagai Chief Business Officer (CBO) Kipin sejak April 2021, ia memastikan para pendidik di daerah terpencil mendapatkan alat kerja yang layak. Melalui program Kipin Edutech Classroom, guru dibekali dengan software asesmen modern untuk pembuatan soal ujian, penilaian otomatis, dan pengelolaan nilai digital.

Pelatihan literasi digital ini memberikan kepercayaan diri baru bagi para guru yang sebelumnya terkendala keterbatasan fasilitas fisik. Dengan presentasi multimedia interaktif dan simulasi virtual dari Kipin, kualitas pengajaran di ruang kelas meningkat drastis.
Rekam jejak kepemimpinan Steffina sendiri dibentuk oleh portofolio karier yang kuat. Sebelum membesarkan Kipin, ia tercatat pernah mengasah kemampuan strategisnya di Boston Consulting Group (BCG) dan menjabat posisi Senior Lead di Tokopedia. Dedikasinya pada sektor edukasi juga teermin dari posisinya sebagai anggota Komite Pendidikan Dasar dan Menengah di Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, serta kiprahnya sebagai penulis buku anak-anak.
Diakui Dunia dan Bersiap Ekspansi ke Kancah Global
Dampak sosial yang digerakkan Kipin kini telah diadopsi secara luas dalam berbagai proyek strategis sektor pendidikan pemerintah. Hingga kini, platform Kipin telah menjangkau lebih dari 3.500 sekolah, 1 juta siswa, serta 367.000 guru di berbagai wilayah marginal nusantara.
Prestasi ini membawa Kipin meraih pengakuan internasional, di antaranya memenangkan Octava Social Innovation Challenge dari MIT Solve pada 2022 serta menyabet penghargaan di ajang World Summit Awards (WSA) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Komitmen Steffina semakin diperkuat setelah menghadiri perhelatan global One Young World Summit di Montréal. Terinspirasi dari lokakarya Deloitte yang diikutinya, ia mempertajam strategi komunikasi dan pemasaran Kipin untuk memperluas jangkauan sosialnya. Pertemuan tersebut juga mempertegas prinsip kepemimpinannya untuk selalu dekat dengan masyarakat bawah.
“KTT tersebut mengajarkan saya untuk menjadi pemimpin yang tulus dan terhubung. Seorang pemimpin yang bergerak di bidang dampak sosial harus mengetahui dan merasakan langsung kisah-kisah dari orang yang ia bantu,” pungkas Steffina.
Kini, Kipin bersiap untuk mereplikasi model sukses edukasi offline ini ke skala internasional demi membantu komunitas marginal di berbagai belahan dunia. Steffina terus membuka ruang kolaborasi dengan instansi pemerintah, BUMN, maupun sektor swasta agar akselerasi pemenuhan hak pendidikan berkualitas bagi generasi muda dapat tercapai lebih cepat. (*AMBS)


















Discussion about this post