Komang Budi Aryasa : Telkom Terus Merangkul para Pengembang Lokal untuk Melahirkan Berbagai Layanan IoT

Komang Budi Aryasa, Deputy EGM Divisi Digital Service PT Telkom Indonesia Tbk. (Foto: Fahrul Anwar/Youngster.id)

YOUNGSTER.id - Anak muda dan gaya hidup digital merupakan hal tidak terpisahkan saat ini. Melalui teknologi digital, lahir berbagai usaha rintisan (startup) yang mampu memecahkan berbagai persoalan di sekitar. Belakangan, solusi teknologi digital ini berevolusi dengan hadirnya layanan Internet of Thing (IoT).

Layanan IoT terus berkembang seiring dengan semakin dikenalnya produk layanannya oleh masyarakat luas. Bahkan, IoT disebut-sebut akan menjadi masa depan dari bisnis digital di Indonesia. Pangsa pasar IoT di Indonesia diprediksi mencapai Rp 444 triliun pada 2022, dengan lebih dari 400 juta perangkat sensor terpasang. Secara rinci, angka ini terdiri dari konten dan aplikasi sebesar Rp 192,1 triliun, disusul platform sebesar Rp 156,8 triliun, perangkat IoT sebesar Rp56 triliun, serta network dan gateway sebesar Rp 39,1 triliun.

Menurut Komang Budi Aryasa, Deputy EGM Divisi Digital Service PT Telkom Indonesia Tbk, IoT adalah semacam sensor yang dapat bekerja dan mendeteksi secara baik dimanapun sensor itu berada. Kemudian dia mengumpulkan data dan mengumpulkan satu pengambilan keputusan. “IoT ini akan berkembang dengan berbagai turunan produknya, antara lain big data analytic. Dan di sini peran anak-anak muda,” tegasnya.

Untuk itu, PT Telkom terus merangkul para pengembang lokal untuk melahirlan layanan-layanan IoT yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Sejatinya, Telkom telah lama mengembangkan ekosistem IoT, dengan tujuan terus mendorong mitra lokal dari startup hingga pemain global dalam mengembangkan IoT.

Dengan prinsip simbiosis mutualisme yang terbangun melalui sebuah ekosistem, maka target Indonesia untuk menjadi pemain terbesar IoT di Asia Tenggara akan tercapai. Bahkan, Indonesia dapat menjadi king of digital Asia Pacific.

Seperti apa upaya Telkom dalam mendukung dan mengembangkan para startup, khususnya yang bergerak di bidang layanan IoT? Berikut petikan wawancara Wartawan Youngster.id, Fahrul Anwar, dengan Komang Budi :

 

Bagaimana Anda melihat perkembangan IoT di Indonesia? Apakah peran startup dalam hal ini?

IoT juga bagian dari digital business, selain e-commerce, fintech, dan banyak lagi. Saya percaya bisnis IoT itu nanti akan booming sama halnya dengan e-commerce dan fintech. Apalagi belakangan ini bermunculan banyak sekali anak muda yang pintar dan memiliki bakat menciptakan solusi-solusi digital dengan IoT. Mereka membangun startup-startup yang bergerak di bidang ini. Jadi IoT, Fintech, activity intelligent dan big data analytic akan berkembang ke depannya.

Ke depan yang akan menjadi tantangan itu adalah bagaimana menghadirkan perangkat-perangkat yang dinamakan IoT.

Pemanfaatan Big Data bukan hanya monopoli perusahaan besar. Startup bermodal kecil pun bisa asal tahu persis tujuan bisnisnya untuk memudahkan proses identifikasi data yang dibutuhkan. Karena pemanfaatan Big Data dalam pembuatan keputusan terbukti mampu meningkatkan finansial perusahaan hingga dua kali lipat.

Langkah apa yang dibutuhkan agar perusahaan rintisan alias startup dapat berkembang di bidang ini?

Ketika sudah terjun ke bidang ini, petama mereka harus mampu menghadirkan produk unik dan bisa memberikan solusi permasalahan yang dimiliki pelanggan di Indonesia. Jadi pada saat mereka bisa menemukan produk yang bisa memecahkan masalah tentu akan membuat mudah dan produk itu akan berkembang.

Kedua, di sisi akses ke market. Bagaimana mereka memasilitasi produk ini agar bisa masuk ke market dengan cepat. Agar bisa masuk ke market, tentu harus dengan bermitra dengan perusahaan-perusahaan besar, seperti Telkom. Tujuannya adalah bagaimana mereka mendapatkan dan masuk ke market. Pelanggan TelkomGrup sekitar 200 jutaan. Nah itu adalah market yang potensial sebenarnya pada saat produk ini diluncurkan ke khalayak.

 

Komang Budi Aryasa, Deputy EGM Divisi Digital Service PT Telkom Indonesia Tbk. : “IoT ini akan berkembang dengan berbagai turunan produknya, antara lain big data analytic. Dan di sini peran anak-anak muda.” (Foto: Fahrul Anwar/Youngster.id)

 

Bagaimana Anda melihat banyak startup yang tidak bertahan di bisnis ini?

Tantangannya, memang tidak banyak startup itu yang berhasil. Mungkin dari 1000 itu bisa tinggal satu atau dua, karena tidak mudah juga. Hanya yang diperlukan, pertama, harus memiliki ide yang unik yang dapat memecahkan masalah konsumen. Kalau dia nggak bisa memecahkan masalah, konsumen pasti tidak dipakai.

Bagaimana mencari cara untuk memecahkan (masalah) itu? Tentunya, bagi startup ini harus melakukan literasi-literasi atau vipot. Jika ternyata tidak berjalan baik dia harus cepat mengubah produknya. Di-develop lagi. Itu yang mereka harus lakukan untuk terus meng-improve untuk melakukan validasi. Setiap ada perubahan divalidasi ke market. Apakah ini yang diperlukan atau apakah ini yang dapat memecahkan masalah.

Waktu yang membuktikan mana startup yang kuat atau tidak. Bagi yang kuat mereka passion melakukan validasi terus menerus. Sampai ketemu bahwa hal iñi dapat memecahkan masalah pelanggan.

Bagaimana dukungan perusahaan seperti Telkom dalam mendukung startup di bidang ini agar dapat berkembang?

Sejak tiga – empat tahun lalu kami sadar harus transformasi ke digital, menjadi perusahaan digital telco. Sebab, enam perusahaan terkaya itu adalah perusahaan digital dan jika tidak bergerak ke digital, akan kena inovasi disrupt. Untuk itu kami terus membuka diri untuk memberikan peluang inkubasi kepada para startup di bidang IoT. Jadi kalau ide mereka bagus mereka pasti layak mendapatkan perhatian.

Dengan demikian akan membangun tatanan industri digital yang kuat, yang terdiri dari network, device, dan application. (SW)