Jacqueline Karina : Kembangkan Bisnis Minuman Kekinian yang Inspiratif

Jacqueline Karina - Kokumi

Jacqueline Karina, Founder & CEO Kokumi (Foto: Dok. Pribadi)

youngster.id - Bisnis makanan dan minuman masih punya peluang besar untuk berkembang. Salah satunya adalah bisnis minuman kekinian. Beragam varian minuman bermunculan dengan rasa, kemasan dan konsep penjualan yang kreatif. Salah satunya adalah Kokumi yang mengusung konsep boba drink atau bubble tea.

Data dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut sepanjang tahun 2021, kinerja industri makanan dan minuman tumbuh positif sebesar 2,54% (yoy). Catatan ini dinilainya lebih baik dari tahun sebelumnya yang masih di angka 1,58%, dan lebih baik dari beberapa sektor industri lain. Selain itu, subsektor penyediaan makan minum selama 2021 juga mengalami pertumbuhan sebanyak 3,52% (yoy). Lebih tinggi dari tahun 2020 yang minus 6,88%.

Sebelumnya, data dari BPS menunjukkan total pendapatan dari makanan dan minuman di Indonesia pada 2019 yaitu sebesar Rp633 triliun pada 2019. Menariknya, 20% dari total pendapatan tersebut berasal dari produk minuman. Tak heran jika bisnis produk minuman, termasuk minuman kekinian terus bertumbuh.

Salah satu minuman kekinian yang masih terus popular adalah boba atau bubble tea. Data menunjukkan, Indonesia menempati peringkat pertama penjualan boba di Asia Tenggara sepanjang tahun 2021. Omzet penjualan boba di Indonesia diperkirakan mencapai US$1,6 miliar atau segara Rp23 triliun.

Besarnya peluang di bisnis produk minuman ini ditangkap Jacqueline Karina, dengan mendirikan PT Kokuminfo Berkat Makmur pada tahun 2018 dengan brand Kokumi. Startup F&B ini fokus pada minuman boba kekinian, dan kini telah memiliki kurang lebih 80 cabang di seluruh Indonesia, sebagian besar di antaranya adalah waralaba.

“Pada dasarnya Kokumi adalah brand inspiratif, sementara minuman boba dan produk apapun yang lahir dari Kokumi itu adalah media untuk mengirimkan inspirasi itu, khususnya kepada anak muda jadi the power of community. Itu jadi tujuan kami, sehingga ketika terpikirkan untuk kolaborasi, kami sudah siap,” ungkap Jacqueline, CEO dan Founder Kokumi saat ditemui pada event ICON 2022 baru-baru ini.

Jacqueline memaparkan, ada dua kriteria utama yang Kokumi pertimbangkan dalam menentukan brand atau influencer sebagai partner. Pertama, kesesuaian perilaku pelanggan (costumer behavior). Contohnya, untuk demografis, maka brand partner harus memiliki kemiripan demografis dengan Kokumi yang memang menyasar gen Z. Kedua, memiliki kesamaan spending power.

“Tidak semua kolaborasinya membuahkan hasil, sebagian ada yang mengalami kegagalan. Ada beberapa indikator yang dipakai untuk menilai keberhasilan kolaborasi, pertama adalah penjualan dan kedua adalah brand awareness. Untuk itu Kokumi menekankan pada pentingnya inovasi agar memiliki keunikan dan specialty,” ungkap Jacqueline.

Berkat strategi itu, Kokumi mampu mempertahankan revenue seluruh cabangnya di angka Rp41-95 miliar sepanjang 2019-2021, dan mempertahankan profitability di atas 30% prapandemi dan 10%-12% di masa pandemi.

 

Demografis Konsumen

Sebelum mendirikan Kokumi di tahun 2018, Jacqueline sesunggunya sudah memiliki segudang pengalaman di industri kuliner. Lulusan Food Science and Technology Universitas Pelita Harapan ini telah menjajal bisnis F&B sejak 2016. Dia bekerjasama dengan sejumlah rekannya membuka beberapa brand ritel F&B, seperti Ikkudo, Sumoboo, Carnivore, Sushi Sen, Poo Ice Cream, dan Superwings.

Dengan dasar pengalaman tersebut Jacqueline memberanikan diri untuk membuka bisnis sendiri.  Guna memastikan bisnis tersebut dapat berjalan sesuai dengan harapannya, Jacqueline mulai dengan mempelajari demografis dari konsumen di Indonesia.

“Saat bisnis minuman kekinian sedang berkembang, kami memutuskan untuk membuka Kokumi. Minuman kekinian yang menjadi trendsetter dan punya ‘soul’-nya sendiri.  Alasannya karena kami merasa kebanyakan bisnis minuman di Indonesia itu tidak punya branding identity dan personality, dan jarang yang punya added value. Kebanyakan hanya FOMO (Fear Of Missing Out), profit oriented, dan hanya ikut-ikutan trend,” kata Jacqueline.

Di sisi lain berdasarkan demografi di Indonesia, kalangan yang paling potensial untuk membelanjakan uang atua potential spender adalah dari kalangan anak muda. Berdasarkan analisa demografis tersebut, Jacqueline memutuskan untuk mendirikan bisnis minuman dengan target konsumen kalangan millennial.

Nama Kokumi diambil dari bahasa Jepang yang memiliki arti rasa ketujuh atau seven sense of the tongue yang bisa dirasakan lidah setelah asin, manis, pedas, pahit, asam, umami dan kaya rasa yang bisa dirasakan lidah pada satu waktu. “Itulah rasa yang menginspirasi rasa produk-produk di Kokumi,” ujar Jacqueline.

Dia lalu memilih ikon unicorn dan tagline ‘Spread the Happiness’ sebagai brand identity Kokumi. Unicorn melambangkan magic, harapan dan ketulusan hati, sesuatu yang dibutuhkan target market Kokumi yang menyasar gen z dan milenial dari usia 6-35 tahun.

“Saya ingin memberikan kebahagiaan, spread the happiness. Saya lihat talenta bukanlah di menulis buku tetapi membuat makanan dan minuman. Nah dari situ saya mau sampaikan pesan kebahagiaan kepada banyak orang lewat produk minuman yang saya kreasikan,” ungkapnya.

 

Tanpa Pinjaman

Untuk membangun bisnis Kokumi Jacqueline mengaku membutuhkan modal sekitar Rp1,8 miliar. Menariknya, bisnis ini dimulai dengan self funding tanpa menggunakan jasa loan atau pinjaman. Menurut Jacqueline, keputusan itu agar Kokumi dapat berkembang dengan memberikan keuntungan secara langsung.

Tidak hanya membangun konsep bisnis yang menarget kaum milenial, Jacqueline juga mengupayakan tim yang bekerja di bisnisnya berasal dari kalangan milenial. Dengan begitu, Jacqueline percaya bisnisnya tetap bisa relevan dengan kondisi konsumen saat ini maupun masa yang akan datang.

Di awal memulai usaha, menurut Jacqueline, tantangan utama yang terjadi pada bisnisnya adalah sumber daya manusia. “Sebagai founder, saya juga membangun budaya perusahaan dan menciptakan situasi kerja yang sehat dengan terus mengomunikasikan visi dan misi perusahaan sampai karyawan memiliki sense of belonging agar bekerja dengan hati,” katanya.

Juara 3 Young Entrepreneur & Sociopreneur Indonesia Young Business Leaders 2022 ini juga berusaha untuk konsistensi dalam memberikan rasa dan kualitas yang selalu terjaga kepada setiap produk yang dijajakan. Hal ini untuk mengubah pandangan masyarakat yang masih pesimis pada pada bisnis lokal.

“Jika dibandingkan dengan brand asing, brand lokal memiliki kualitas yang lebih rendah. Jadi, brand lokal harus bisa berusaha ekstra keras untuk mematahkan anggapan tersebut dengan menjalankan SOP yang ketat agar kualitas produk terjaga secara konsisten,” ujarnya.

Oleh karena itu, Kokumi selalu merespon saran dan kritik dari para pelanggan. Jacqueline mengakui, pihaknya selalu berusaha menjawab setiap keluhan dan saran pelanggan di media sosial. Di samping itu, Kokumi kini memiliki 85,7 ribu follower di media sosial, dan menjadi perusahaan yang tidak punya pinjaman.

Di sisi lain, Jacqueline berpendapat sehebat apa pun perusahaan baik dari segi inovasi maupun marketing, namun jika kondisi finansialnya bobrok maka perusahaan tersebut berpotensi untuk bangkrut. Untuk itu, meski sebagai founder, ia memutuskan untuk digaji oleh perusahaannya sendiri.

Hal ini untuk menjaga kondisi finansial perusahaan tetap baik. Bahkan, keuntungan perusahaan sama sekali tidak ia usik. Keuntungan yang didapatkan perusahaan benar-benar dialokasikan untuk pengembangan bisnis. “Saya berpegang pada prinsip: jangan besar pasak daripada tiang,” tegasnya.

Oleh karenanya, ia menegaskan selalu mempergunakan uang yang ia miliki untuk dialokasikan lagi ke sektor-sektor yang produktif.

 

Menurut Jacqueline, Kokumi bukan barang komoditi yang customers beli hanya dari harga tetapi customers membeli kokumi karena ada asosiasi emosional yang didapat ketika minum Kokumi dan beli merchandise-nya. Nilai lebih terletak pada keunikan, identitas brandnya (Foto: Dok. Pribadi)

 

Intelektual Properti

Jacqueline mengakui pandemi Covid-19 berdampak langsung kepada bisnis Kokumi. “Sebelum pandemi, pembeli 60% offline dan impulse buyers karena lokasi Kokumi sangat strategis. Setelah pandemi beralih menjadi 60% online. Pandemi ini sangat memengaruhi bisnis Kokumi, terutama dalam sisi marketing. Saat ini kami meminimalisasi operational cost dan lebih membudgetkan dana ke digital marketing,” katanya.

Untuk tetap bertahan, Kokumi menjadikan brand lain sebagai rekan bisnis. Hal ini lumrah dalam industri minuman kekinian, dimana para pelaku bisnis harus bisa membangun business culture yang seiring. Tujuannya agar konsumen menjadi familiar dengan jenis minuman tersebut.

Deretan brand yang telah diajak KOKUMI berkolaborasi antara lain dengan merek kosmetik lokal, Jarte Beauty, menghadirkan produk lipstik dengan aroma boba, yang sama persis dengan aroma minuman Kokumi, yaitu Okinawa dan Unicorn. Selanjutnya, bersama Teh Sosro, KOKUMI menghadirkan menu khusus bernama Sunrise Tehbotol Sosro dan Okinawa Tehbotol Sosro.

“Berbagai kolaborasi tersebut merupakan upaya problem solving, mengatasi overstock inventori menjadi menu baru melalui kreativitas, yang dipromosikan dengan limited edition/seasonal collaboration dengan ikon terkenal yang memiliki fan base tersendiri,” katanya

Di sisi lain, logo unicorn dengan desain yang sangat atraktif kini didaulat Kokumi sebagai Intelektual Property (IP) mereka. Ikon ini telah digunakan sebagai IP dan berkolaborasi dengan brand-brand lintas industri seperti kosmetik, fashion dan museum mainan (museum of toys).

“Pada dasarnya Kokumi adalah brand inspiratif, sementara minuman boba dan produk apapun yang lahir dari Kokumi itu adalah media untuk mengirimkan inspirasi itu, khususnya kepada anak muda jadi the power of community. Itu jadi tujuan kami, sehingga ketika terpikirkan untuk kolaborasi, kami sudah siap,” jelas Jacqueline.

Semangat Jacqueline untuk terus membangun bisnisnya seperti sekarang ini juga karena rasa percaya dirinya dari setiap produk yang ditawarkan. Jacqueline mengaku bangga bisa memproduksi produk lokal dan akan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas produk serta fasilitas yang dimiliki di brand yang dimilikinya.

Sejak awal mendirikan Kokumi dia telah bertekad memiliki national brand awareness dan punya emotional attachment bagi pelanggan. Jacqueline mengungkapkan, Kokumi ingin menjadi trendsetter minuman kekinian di Indonesia, terutama pada kategori brown sugar boba dan unicorn drink (jus buah bergradasi).

Di samping itu, lulusan cum laude Teknologi Pangan UPH ini ingin Kokumi menjadi produsen artisan boba ice cream pertama di Indonesia. Bahkan, pada aspek brand identity, logo awan dan unicorn yang dimiliki Kokumi adalah inovasi yang bisa dikembangkan menjadi animasi atau ikon yang sudah banyak dibeli royaltinya oleh perusahaan yang bergerak di bidang lain.

“Kokumi seperti halnya Apple dan Starbucks punya penggemar fanatiknya sendiri sehingga bisa bersaing dalam market. Kokumi bukan barang komoditi yang customers beli hanya dari harga tetapi customers membeli kokumi karena ada asosiasi emosional yang didapat ketika minum Kokumi dan beli merchandise-nya. Nilai lebih terletak pada keunikan, identitas brandnya,” pungkasnya.

 

============================

Jacqueline Karina

==========================

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version