Sugeng Handoko : Pejuang Air yang Mengubah Desa Kering Jadi Ekowisata

Sugeng Handoko, Perintis dan Pengelola Desa Ekowisata Nglanggeran Yogyakarta (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

youngster.id - Air merupakan satu hajat dasar manusia. Ketersediaan air bersih di masa datang merupakan hal penting yang menjamin keberlangsungan hidup umat manusia. Tentu akan menjadi petaka bila krisis air terjadi. Untuk mencegah hal itu tampil para pejuang air.

Lebih dari 780 juta orang di seluruh dunia kekurangan air bersih, termasuk di Indonesia. Kondisi ketersediaan air di Indonesia saat ini adalah 56 meterkubik per kapita per tahun. Jumlah tersebut masih rendah. Bahkan, hampir menyerupai Ethiopia yang ketersediaan air hanya berkisar 38 meterkubik per kapita per tahun.

Oleh karena itu, tak bisa dipungkiri bahwa ketahanan air sama penting dengan ketahanan pangan dan energi nasional. Kesadaran akan hal itu yang membuat Sugeng Handoko memutuskan untuk memulai langkah sederhana untuk mengembalikan kelestarian alam di desanya, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Langkah sederhana itu dimulai pada tahun 1999, bersama Karang Taruna pemuda Desa Sugeng menginisisi penanaman pohon di kawasan sekitar desa. Lingkungan yang berada di kaki Gunung Kidul ini yang tadinya kering dan gersang perlahan berubah menjadi hijau. Bahkan kemudian langkah ini berhasil menghidupkan kegiatan ekonomi desa dengan menjadi desa ekowisata yang edukatif dan menginsipirasi banyak orang.

“Waktu itu kami dianggap anak kemarin sore. Tapi perubahan itu harus ada pembuktian. Beberapa kali kami diapresiasi. Ini pembuktian bahwa ada orang di luar sana yang memperhatikan usaha kami. Sampai akhirnya langkah sederhana kami ini membuahkan hasil. Bahkan membawa penghidupan baik bagi warga,” ucap Sugeng saat ditemui youngster.id belum lama ini di Jakarta.

Salah satu apresiasi yang diperoleh Sugeng adalah dari PT Cocaola Indonesia dan The Nature Conservancy (TNC) Indonesia. Dia bahkan mendapat julukan sebagai “pejuang air”.

“Sekarang apa yang kami pernah lakukan ini bisa menjadi contoh. Karena ada rencana program ini akan direplikasi ke daerah lain. Bahkan sampai ke luar Yogyakarta. Saya merasa terhormat dan berterima kasih kepada Ades, salah satunya karena telah memberikan apresiasi bagi upaya swasembada kami dalam melestarikan perjalanan air serta pengembangan ekowisata yang telah kami lakukan,” kata Sugeng lagi.

Ketua Karang Taruna ini berkisah, salah satu konservasi yang dilakukan bersama rekannya di Desa Nglanggeran dalam bentuk desa ekowisata melalui pengelolaan embung.

Baca juga :   Walikota Risma Ajak Ibu-ibu di Surabaya Berwirausaha

“Embung atau waduk mini di atas bukit merupakan cekungan penampung yang digunakan untuk menampung suplai air hujan di musim penghujan untuk dialirkan pada musim kemarau. Embung berukuran 0,34 hektar ini telah dimanfaatkan untuk mengairi 20 hektar perkebunan durian dan kelengkeng,” jelas Sugeng.

Menurut  Sugeng, embung ini dibangun pada tahun 2012 melalui dana hibah Gubernur D.I Yogyakarta sebesar Rp 1 milyar, dan diresmikan pada tahun 2013. Ini merupakan embung pertama di Yogyakarta, sehingga menjadi salah satu daya tarik terutama Desa Wisata Nglanggeran bagi para wisatawan.

 

Langkah Sederhana

Sebagai anak yang lahir di desa berjarak 25 Km dari kota Yogayakarta, Sugeng sudah terbiasa melihat warga menebangi hutan di sekitar desa untuk lahan pertanian ataupun untuk dijual. Tetapi semakin besar dia melihat bahwa perilaku itu membawa dampak negatif terhadap kehidupan warga itu sendiri.

“Terus terang saja, sumber air di desa kami langsung habis terkuras. Padahal baru disedot dengan pakai empat pompa saja,” ungkap lelaki berusia 30 tahun itu.

Tentu saja, kondisi itu langsung dirasakan oleh Desa Nglanggeran, yang 90% mata pencahariannya sebagai petani. Kondisi desa yang kurang berkembang juga membuat banyak anak muda di desa memilih berurbanisasi. Bahkan jumlah pemuda yang tergabung dalam karang taruna menyusut dari 40 orang menjadi tinggal delapan orang.

“Kondisi kekurangan air membuat sawah hanya bisa ditanami saat musim hujan. Dari situ saya mencoba memutar otak bersama teman-teman untuk mulai melakukan penanaman pohon kembali. Karena saya yakin akar pohon akan dapat menahan air lebih banyak,” ungkapnya.

Awalnya, aksi Sugeng dan teman-temannya kurang diterima warga. Apalagi mereka hanya dianggap sebagai anak kemarin sore yang tidak mungkin dapat mengubah keadaaan. Namun dengan tekad dan semangat untuk mengubah nasib, Sugeng terus berusaha.

“Pelan-pelan kami terus mendekati orang tua masing-masing. Intinya kasih pengaruh ke orang-orang terdekat dahulu. Cara ini akhirnya berhasil, dan perlahan warga mulai meninggalkan kebiasaannya menjual hasil hutan dan kami pun bisa menamam pohon,” kisahnya sambil tersenyum.

Baca juga :   Andhika Mahardika : Dedikasikan Hidupnya Untuk Pertanian

Setelah mendapat dukungan warga, Sugeng dan rekan-rekannya pun segera melakukan aksi penanaman pohon yang dilakukan pada area seluas 45 hektar. Perlahan kawasan Gunung Kidul yang dulunya kering, kini jadi tempat yang hijau.

Aksi dari Sugeng dan warga desa mendapat perhatian dari Gubernur DI Yogyakarta. Pada tahun 2012 mereka mendapat dana hibah sebesar Rp 1 miliar. Dana itu digunakan untuk membangun embung. Sugeng menjelaskan, embung digunakan untuk menampung air selama musim hujan dan dipanen kala musim kemarau. Dengan embung maka warga desa dijamin tidak akan lagi kekurangan air.

Embung pun telah dimanfaatkan warga untuk mengairi 20 hektar perkebunan durian dan kelengkeng. Buah manis konservasi dimanfaatkan Sugeng bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Nglanggeran untuk membangun dan mengelola Desa Ekowisata Nglanggeran.

 

Berkat kegigihannya, selain dijuluki sebagai Pejuang Air, Sugeng Handoko juga mampu meningkatkan perekonomian desanya dengan mengembangkan Desa Ekowisata Nglanggeran Yogyakarta (Foto: Fahrul Anwar/youngster.id)

 

Dampak Ekowisata

Ternyata langkah sederhana yang dilakuan Sugeng itu membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat di sekitar. Selain membuat kawasan desa menjadi hijau, kehadiran embung desa menjadi daya tarik tersendiri.

“Embung yang diresmikan pada tahun 2013 ini merupakan embung pertama di Yogyakarta. Oleh karenanya menjadi salah satu daya tarik, terutama Desa Wisata Nglanggeran bagi para wisatawan,” kata Sugeng bangga.

Alhasil, desa Nglanggeran pun menjadi desa ekowisata. Bahkan, setiap tahun desa ini dikunjungi lebi dari 150 ribu wisatawan. “Dari pariwisata penghasilan masyarakat pun meningkat jauh lebih banyak dibandingkan ketika mereka berjualan kayu hasil penebangan hutan,” ujarnya.

Konservasi alam Desa Nglanggeran terbukti memberikan kehidupan dan penghidupan lebih baik untuk warga. Inspirasi untuk melestarikan alam juga ditularkan lewat ekowisata yang dikembangkan.

Namun dibalik keberhasilannya mengembangkan desa ekowisata itu, Sugeng mengaku sempat merasakan dampak negatif dari kedatangan pengunjung. Terutama karena mereka melupakan aspek kebersihan terhadap lingkungan. Akibatnya, sampah pun terlihat berceceran di mana-mana.

“Lingkungan jadi rusak, belum lagi air yang terpakai juga lebih banyak. Akhirnya kami mencoba putuskan untuk mengurangi jumlah pengunjung,” ujarnya.

Menurut Sugeng, walaupun para anggota Pokdarwis sepakat mengurangi jumlah pengunjung, toh pendapatan warga di Desa Ekowisata Nglanggeran tidak berkurang.

“Malah dengan jumlah penurunan pengunjung, desa mendapat Rp 1,9 miliar. Bagaimana bisa? Di situ kami bikin inovasi, salah satunya melalui paket wisata. Jadi wisatawan yang datang tak hanya foto-foto, tapi juga homestay di sini. Kami tidak ingin orang ke sini sekadar kasih uang, sementara dampaknya malah bisa membuat alam rusak. Pada prinsipnya, ekowisata Nglanggeran harus membuat bahagia semua orang termasuk alamnya. Jadi wisatawan, tuan rumah dan alam, semuanya harus terlihat bahagia,” jelas sarjana Teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta itu sambil tersenyum.

Baca juga :   Resika Caesaria : Berdayakan Ekonomi Masyarakat Dengan “Cimol”

Sugeng menjelaskan, pihaknya membuat paket wisata yang membawa pengunjung tak hanya melakukan kegiatan jelajah perbukitan dan keliling Gunung Api Purba, tetapi membuat wahana seperti panjat tebing, flying fox, dan juga ada fasilitas belajar kesenian tradisonal. Melalui kegiatan tersebut wisatawan yang datang tak sekadar menikmati kesegaran udara dan pemandangan indah desa. “Mereka juga diberi nilai dan spirit konservasi. Wisatawan juga dijelaskan berbagai aturan apa saja yang tidak boleh mereka lakukan selama berwisata,” ujarnya.

Kini Sugeng berharap upaya yang dilakukannya dapat menginspirasi masyarakat di Indonesia, terutama para anak muda untuk turut berkontribusi dalam menjaga pelestarian air. Mengingat pentingnya peran air bagi kehidupan yang tentunya tidak hanya dikonsumsi, ataupun sebagai irigasi, namun bisa juga menjadi sumber penghidupan untuk pengembangan ekowisata.

“Harapan saya, apa yang sudah dilakukan selama ini bersama rekan-rekan bisa menginspirasi dan mengajak anak muda lainnya. Kita perlu menjaga kelesatarian lingkungan guna menjaga bumi yang lebih baik,” pungkas Sugeng.

 

====================================

Sugeng Handoko

  • Tempat Tanggal Lahir : Gunung Kidul 28 Februari 1988
  • Pendidikan                 : S1 Tehnik Industri Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
  • Pekerjaan                  : Sekrataris Karang Taruna Desa Nglanggeran Yogyakarta

Prestasi  :

  • Young Change Maker (YCM) dari Ashoka Indonesia (2011),
  • Pemuda Pelopor Tingkat Nasional dalam bidang seni budaya dan pariwisata (2011),
  • Pelaku PNPM Terbaik Kemekokesra (2014),
  • Penerima Penghargaan Kader Konservasi Teladan 2013 dari Kemenhut RI,
  • Penerima Penghargaan Desa Wisata Terbaik ASEAN 2016,
  • Penerima Penghargaan ASTA (Asean Sustainable Tourism Award 2017)

=====================================

 

FAHRUL ANWAR

Editor : Stevy Widia