youngster.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Google berkolaborasi lewat program Google for Startups Accelerator. Inisiatif ini merupakan bagian dari program besar Google Bangkit Bersama AI. Tujuannya memperkuat daya saing startup AI nasional mulai tahun 2025 hingga 2029.
Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Meutya Hafid mengatakan, potensi Indonesia sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Dengan populasi lebih dari 278 juta jiwa dan penetrasi internet 80,66%, lebih dari 2.500 startup aktif berkontribusi pada ekosistem digital.
“Ekosistem startup tidak cukup ditopang oleh modal. Penguatan membutuhkan mentorship, jejaring industri, akses pasar, eksposur investor, serta ruang eksperimen yang terstruktur. Namun, ekosistem harus diaktivasi melalui program konkret dan kolaborasi strategis. Salah satu bentuk aktivasi dilakukan melalui kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk kolaborasi dengan Google dalam program akselerasi startup, khususnya startup yang mengembangkan produk berbasis kecerdasan artifisial,” ungkapnya dikutip Jumat (27/2/2026).
Meutia menegaskan, tingkat adopsi AI di Indonesia telah mencapai 92%. Namun, pemerintah menilai pemanfaatannya untuk mendorong produktivitas dan penciptaan nilai tambah ekonomi masih perlu ditingkatkan.
“Walau dengan adopsi AI 92%, penggunaan AI untuk produktivitas di Indonesia masih minim. Karena itu kita berbahagia melihat lahirnya startup-startup baru yang siap memaksimalkan teknologi ini,” ucapnya lagi.
Kolaborasi jangka panjang ini bertujuan memperkuat kapasitas dan daya saing startup AI Indonesia dalam beberapa tahun ke depan (2025–2029). Melalui program ini, para founder mendapatkan dukungan teknologi, pendampingan, serta akses ekosistem untuk membangun solusi AI yang relevan dan berdampak.
Inisiatif Google for Startups Accelerator ini yang dimulai tahun 2025 telah meluluskan 63 startup, terdiri atas 43 startup tahap awal (early stage) dan 20 startup Series A.
Beberapa startup peserta telah melahirkan inovasi dengan memanfaatkan AI di berbagai sektor. Seperti startup Analitica di sektor pendidikan, DayaTani di sektor pertanian, dan Nexmedis di sektor kesehatan adalah contohnya.
Analitica mengembangkan Interactive Cognitive Assistant (ICA), ekosistem pembelajaran generatif multimodal dengan mengintegrasikan Gemini 3, Gemini TTS, serta Nano Banana Pro di atas Firebase.
ICA mampu menghasilkan podcast dan video penjelasan singkat, serta mengubah pertanyaan siswa menjadi penjelasan audio atau visual yang dipersonalisasi. Sementara itu, DayaTani menghadirkan Pak Dayat, asisten pertanian berbasis LLM yang terintegrasi dengan WhatsApp.
Dengan generative AI, petani dapat mengirimkan pesan suara terkait kondisi tanaman, gejala penyakit, input, hingga pola cuaca, dan sistem akan menyimpan informasi tersebut sebagai memori kontekstual jangka panjang untuk memberikan rekomendasi spesifik.
Di sektor kesehatan, Nexmedis menciptakan MCU AI, sistem berbasis AI yang mengotomatisasi pembuatan laporan medical check-up. Didukung oleh Gemini Flash 2.0, solusi ini menganalisis data klinis, mengidentifikasi temuan abnormal, dan menghasilkan rekomendasi tindak lanjut yang dipersonalisasi dan berbasis bukti. Nexmedis memanfaatkan Model Armor untuk mendukung proses de-identifikasi data pribadi.
Sebagai bagian dari penguatan ekosistem ini, Komdigi menghadirkan Garuda Spark Innovation Hub sebagai ruang kolaborasi antara startup AI, perusahaan teknologi global, serta investor modal ventura. Pemerintah menargetkan Indonesia dapat bertransformasi dari sekadar pasar digital menjadi pusat inovasi AI di kawasan ASEAN.
STEVY WIDIA
