youngster.id - Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, pasar kerja nasional justru diproyeksikan tetap solid. Jika tahun 2023 hingga 2025 adalah fase pengenalan, maka 2026 adalah fase optimalisasi. Artificial Intelligence (AI) tidak lagi sekadar alat bantu rekrutmen, tetapi telah mengubah definisi kompetensi itu sendiri.
Data dari laporan eksklusif hiring, Compensation, and Benefits 2025 dari Jobstreet by SEEK menemukan bahwa dengan meningkatnya penggunaan AI dalam beberapa tahun terakhir, 71% perusahaan di Indonesia saat ini juga mempertimbangkan pengetahuan AI kandidat saat merekrut.
Acting Managing Director untuk Indonesia Jobstreet by SEEK Wisnu Dharmawan mengungkapkan, dari perkembangan tersebut, keterampilan terkait AI tentunya akan semakin dibutuhkan lintas fungsi.
“AI tidak lagi eksklusif milik engineer, tetapi menjadi keharusan untuk berbagai divisi termasuk pemasaran, operasional, hingga keuangan. Kuncinya terletak pada AI literacy (kecakapan AI), data literacy, dan kemampuan mengintegrasikan AI ke alur kerja untuk mendongkrak produktivitas,” katanya dalam keterangan dikutip Kamis (29/1/2026).
Menurut Wisnu, sebagai dampaknya, kita akan melihat pergeseran relevansi keterampilan. Pekerjaan yang bersifat repetitif dan klerikal (administratif rutin) akan semakin tergerus otomatisasi.
Sebaliknya, nilai tambah manusia akan bergeser ke kemampuan analisis, pemecahan masalah yang kompleks, kreativitas, dan pengambilan keputusan berbasis data.
“Bagi pekerja, ini saatnya mengevaluasi apakah pekerjaan sehari-hari didominasi tugas rutin yang mudah di otomasi; jika ya, itu sinyal untuk mulai berinvestasi pada keterampilan baru,” ujarnya.
Di sisi lain, strategi perusahaan untuk mempertahankan pekerja tidak bisa lagi pasif. Identifikasi apakah tim di masing-masing perusahaan memiliki “sunset skills” yaitu keterampilan rutin yang mudah di otomasi. Jika hal ini dimiliki, maka perusahaan harus proaktif melakukan upskilling internal daripada sekadar merekrut pekerja baru. Fokus pada kombinasi skill teknis (seperti cloud atau cybersecurity) dan human skills (komunikasi dan kolaborasi).
“Cara sederhananya, bandingkan deskripsi pekerjaan di perusahaan dengan lowongan terkini di pasar tenaga kerja. Bila pasar mulai menuntut elemen AI, data, atau cloud yang belum dimiliki tim saat ini, itu sinyal perlunya program upskilling terarah dari perusahaan,” ungkap Wisnu.
Tantangan lain juga muncul dari lintas negara. Laporan Decoding Global Talent 2024 dari SEEK menunjukkan sekitar 67% pekerja Indonesia berminat untuk bekerja di luar negeri. Angka ini didorong oleh keinginan mengejar eksposur global serta kualitas hidup yang lebih baik.
Bagi perusahaan Indonesia, ini adalah peringatan sekaligus peluang. Penting untuk memperkuat strategi retensi agar talenta terbaik melihat masa depan karir di dalam negeri. Selain penyesuaian kompensasi, perusahaan perlu menawarkan jalur karir yang jelas, kesempatan pembelajaran global, dan fleksibilitas kerja yang kompetitif secara internasional.
Di sisi lain, perusahaan juga bisa mulai memanfaatkan cross-border recruitment melalui platform global seperti Jobstreet by SEEK untuk mengisi celah keterampilan khusus yang sulit ditemukan di pasar lokal.
“Tahun 2026 bukan sekadar tentang siapa yang merekrut paling cepat, tetapi siapa yang mampu memetakan potensi talenta paling akurat. Bagi pencari kerja, portofolio dan kredensial mikro (micro-credentials) akan menjadi bukti kompetensi yang lebih bernilai dibanding gelar semata,” tutup Wisnu.
STEVY WIDIA
