AI Agent Diprediksi Jadi Tren Teknologi, Pasar Asia Capai US$782 Juta pada 2025

Agentic AI

Dr. Feifei Li, Chief Technology Officer dan President of International Business Alibaba Cloud, pada Konferensi Qwen internasional pertama Alibaba Cloud di Singapura. (Foto: istimewa/alibabacloud)

youngster.id - Setelah era chatbot seperti ChatGPT, dunia teknologi kini mulai memasuki babak baru: AI Agent. Teknologi ini diprediksi menjadi generasi berikutnya dari kecerdasan buatan karena tak hanya mampu menjawab pertanyaan, tetapi juga menjalankan berbagai tugas secara mandiri.

Lembaga riset teknologi global Omdia memperkirakan pasar Agentic AI di kawasan Asia dan Oseania akan melonjak dari US$782 juta pada 2025 menjadi US$11,2 miliar pada 2030. Pertumbuhan tersebut setara dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 94%, menjadikan Asia dan Osenia salah satu pasar AI dengan perkembangan tercepat.

Berbeda dengan chatbot konvensional, AI Agent dirancang untuk bekerja lebih mandiri. Teknologi ini tidak hanya menjawab pertanyaan pengguna, tetapi juga mampu menjalankan serangkaian pekerjaan secara otomatis, seperti mencari data, menganalisis informasi, membuat keputusan sederhana, hingga menyelesaikan tugas yang terdiri dari beberapa langkah sekaligus.

Karena kemampuannya tersebut, AI Agent mulai banyak diterapkan di berbagai sektor industri. Menurut laporan Omdia, tiga sektor yang paling cepat mengadopsi teknologi ini adalah teknologi informasi (TI), layanan keuangan, dan ritel. Di sisi lain, meningkatnya penggunaan berbagai model AI open-source juga membuat AI Agent semakin mudah dimanfaatkan oleh developer maupun pengguna individu.

Melihat peluang tersebut, berbagai perusahaan teknologi mulai mengembangkan ekosistem AI Agent. Salah satunya Alibaba Cloud yang dinobatkan sebagai leader dalam “Omdia Market Radar: Agentic AI Cloud Titans in Asia & Oceania, 2026.

Chief Technology Officer sekaligus President of International Business Alibaba Cloud Intelligence, Dr. Feifei Li, mengatakan pengembangan AI kini tidak lagi berfokus pada pembuatan model semata, tetapi membangun ekosistem yang memungkinkan AI bekerja layaknya asisten digital yang mampu menyelesaikan pekerjaan secara mandiri.

“Sebagai penyedia cloud yang mengadopsi paradigma Agent, kami tidak lagi sekadar membangun alat, tetapi juga membentuk kembali ekosistem cloud. Melalui infrastruktur full-stack agentic yang lengkap, aman, dan native, kami ingin membantu enterprise dan developer menghadirkan agen cerdas dengan lebih mudah,” ucapnya dikutip Selasa (30/6/2026).

Untuk mendukung perkembangan tersebut, Alibaba Cloud memperkenalkan sejumlah pembaruan teknologi AI mereka. Mulai dari model AI terbaru Qwen3.7-Max yang mampu membantu proses coding dan penalaran kompleks, infrastruktur komputasi berperforma tinggi, hingga platform Qwen Cloud yang memudahkan developer membangun aplikasi berbasis AI.

Perusahaan juga menghadirkan portal Skills agar AI Agent dapat terhubung langsung dengan berbagai layanan cloud secara lebih efisien.Alibaba Cloud juga meluncurkan portal Skills yang memungkinkan AI Agent terhubung langsung dengan lebih dari 60 layanan cloud. Dengan pendekatan ini, agen AI dapat mengakses database, layanan keamanan, hingga sistem operasional cloud layaknya menjalankan sebuah fungsi secara otomatis.

Bagi mahasiswa, programmer, maupun talenta digital muda, tren AI Agent menunjukkan bahwa kebutuhan industri mulai bergeser. Tidak cukup hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami cara membangun sistem yang dapat bekerja secara mandiri. Kemampuan di bidang AI, cloud computing, dan automasi diperkirakan akan menjadi salah satu skill yang semakin banyak dicari dalam beberapa tahun ke depan.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version