Alibaba Cloud: Indonesia Raih Antusiasme AI Tertinggi di Asia, 100% Perusahaan Optimistis

adopsi AI Alibaba Cloud Indonesia

Alibaba Cloud: Indonesia Raih Antusiasme AI Tertinggi di Asia, 100% Perusahaan Optimistis (Foto: Ilustrasi)

youngster.id - Laporan riset terbaru dari Alibaba Cloud bertajuk “The AI Business Application Readiness and Accessibility Survey” mencatat bahwa Indonesia menjadi negara dengan tingkat optimisme dan antusiasme terhadap penerapan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) tertinggi di kawasan Asia.

Dalam laporan tersebut, seluruh responden asal Indonesia (100%) menyatakan optimistis terhadap penerapan AI di organisasi mereka, melampaui rata-rata regional Asia sebesar 90%. Indonesia juga mengukuhkan diri sebagai negara dengan tingkat adopsi infrastruktur cloud tertinggi, di mana 91% perusahaan di dalam negeri telah menjalankan sistem TI mereka secara penuh atau sebagian besar di atas cloud.

Berbeda dengan lanskap global yang kerap menempatkan AI sebatas instrumen efisiensi biaya, sebanyak 75% responden di Indonesia menegaskan bahwa tujuan utama mereka mengadopsi AI adalah untuk mendorong inovasi dan membuka peluang bisnis baru.

Chief Technology Officer dan President of International Business Alibaba Cloud Intelligence Group, Dr. Feifei Li, menjelaskan bahwa integrasi AI dan infrastruktur cloud kini menjadi tulang punggung teknologi global untuk dekade mendatang.

“Memasuki era agentic AI, fokus kami bergeser dari meningkatkan efisiensi model menjadi menghadirkan hasil yang dapat langsung diterapkan oleh perusahaan. Melalui pengembangan agentic cloud yang komprehensif, kami menyediakan infrastruktur penting sehingga perusahaan dapat membangun produk berbasis AI agent generasi berikutnya dengan lebih mudah,” ujar Dr. Feifei, Kamis (30/7/2026).

Rencana Peningkatan Investasi dan Dominasi Model Full-Stack

Secara regional di Asia, riset ini menunjukkan bahwa antusiasme terhadap AI mulai terealisasi dalam bentuk alokasi anggaran yang konkret. Sebanyak 95% perusahaan di Asia berencana meningkatkan investasi pada produk AI, dengan 69% di antaranya berencana menaikkan belanja infrastruktur (IaaS) lebih dari 20%.

Selain itu, 58% perusahaan juga berencana menaikkan anggaran untuk Model-as-a-Service (MaaS) lebih dari 20%. Dalam memilih penyedia solusi, mayoritas bisnis (45%) lebih menyukai arsitektur full-stack yang mengintegrasikan AI dan cloud secara penuh karena dinilai lebih memudahkan standarisasi data, keamanan terpusat, serta efisiensi biaya.

Meski demikian, laporan tersebut mencatat tiga tantangan utama yang masih dihadapi perusahaan di Asia, yaitu kekhawatiran privasi dan keamanan data (48%), tingginya biaya implementasi (42%), serta keterbatasan talenta internal (37%).

Pentingnya Dukungan Bahasa Lokal

Hal penting lain yang disoroti dalam riset ini adalah kebutuhan akan model AI yang mendukung bahasa lokal secara native. Di pasar seperti Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan Thailand, keterbatasan model AI berbahasa lokal berprestasi tinggi masih menjadi hambatan, mengingat hanya separuh responden yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama solusi AI mereka.

Guna menjawab tantangan tersebut serta mendukung adopsi AI dalam skala besar, induk usaha Alibaba Group telah menyiapkan investasi strategis senilai sedikitnya RMB380 miliar (sekitar Rp1.012,1 triliun) dalam tiga tahun ke depan untuk memperluas infrastruktur cloud dan pengembangan keluarga model AI proprietary mereka, seperti Qwen dan Wan.

 

STEVY WIDIA 

Exit mobile version