Visa, Mastercard dan Ant Kembangkan KYA untuk Amankan Transaksi Agen AI

Sovereign AI Indonesia

Perkembangan AI. (Foto: ilustrasi/istimewa)

youngster.id - Pada 2030, agen AI diproyeksikan akan mengelola transaksi belanja konsumen global senilai US$3 triliun hingga US$5 triliun. Namun, ketika AI mulai memiliki kemampuan melakukan transaksi, muncul kebutuhan baru. Bagaimana memastikan agen tersebut tepercaya dan benar-benar menjalankan tindakan sesuai kewenangan yang diberikan pengguna?

Bayangkan ketika ingin membeli barang secara online, pengguna tidak lagi harus mencari produk, membandingkan pilihan, memasukkan data pembayaran, hingga menyelesaikan transaksi sendiri. Semua proses tersebut nantinya dapat dilakukan oleh agen kecerdasan buatan (AI) atas nama pengguna. Perkembangan ini mengarah pada era agentic commerce, ketika AI tidak lagi hanya memberikan rekomendasi, tetapi juga dapat menjalankan transaksi.

“Seiring semakin besarnya peran agen AI dalam membantu masyarakat menemukan produk dan berbelanja, kepercayaan terhadap teknologi ini juga harus diperkuat,” ujar Rubail Birwadker, Global Head of Growth Products and Strategic Partnerships, Visa dikutip Sabtu (12/9/2026).

Untuk menjawab tantangan tersebut, Ant International, Mastercard, dan Visa mulai berkolaborasi mengembangkan kerangka interoperabilitas Know-Your-Agent (KYA). Kerangka ini dirancang agar jaringan kartu, dompet digital, platform agen AI, dan marketplace dapat mengenali serta melakukan onboarding agen AI lintas jaringan berdasarkan prinsip bersama.

Melalui KYA, setiap jaringan tetap menjalankan proses verifikasi dan pengambilan keputusan masing-masing. Namun, indikator kepercayaan terhadap agen AI dapat dikenali di berbagai jaringan sehingga proses integrasi dan verifikasi tidak perlu terus dilakukan secara terpisah.

Ketiga perusahaan sebelumnya telah memperkenalkan protokol masing-masing untuk mendukung agentic commerce. Visa memiliki Trusted Agent Protocol, Mastercard dengan Verifiable Intent, sementara Ant International mengembangkan Agentic Mobile Protocol. Kini, ketiganya menjajaki peluang untuk menyelaraskan prinsip-prinsip yang mendasari protokol tersebut.

Secara umum, KYA berfokus pada tiga hal. Pertama, memastikan agen AI dapat ditelusuri ke operator, pemegang kartu, bisnis, atau organisasi yang telah divalidasi. Kedua, agen dievaluasi berdasarkan persyaratan keamanan dan perilaku. Ketiga, aktivitas agen dipantau secara berkelanjutan melalui sinyal identitas dan data transaksi untuk membantu menilai tingkat kepercayaan serta risiko.

Pablo Fourez, Chief Digital Officer Mastercard, mengatakan interoperabilitas antar-KYA menjadi salah satu kunci agar agentic commerce dapat diterapkan secara lebih luas.

“Interoperabilitas antar kerangka Know-Your-Agent merupakan kunci penting agar agentic commerce dapat diterapkan secara luas. Dengan kemampuan ini, merchant, platform, dompet digital, dan penerbit kartu memiliki cara yang konsisten untuk mengenali agen AI tepercaya,” ungkap Pablo.

Dengan kerangka yang saling terhubung, layanan agentic commerce diharapkan dapat diluncurkan lebih cepat dengan kompleksitas integrasi yang lebih rendah. Di sisi lain, jaringan pembayaran juga dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai tingkat kepercayaan dan risiko agen AI.

Kolaborasi tersebut akan dikembangkan melalui BuildFin.ai di Singapura dengan mengacu pada kerangka Safeguards for Agentic Finance at Runtime (SAFR). Platform ini diprakarsai Monetary Authority of Singapore (MAS) untuk mempertemukan lembaga keuangan, penyedia teknologi, dan peneliti dalam pengembangan solusi AI yang bertanggung jawab untuk sektor keuangan.

Chief Innovation Officer Ant International Jiang-Ming Yang menilai, interoperabilitas KYA antara jaringan kartu dan dompet digital penting untuk membangun kepercayaan dalam ekosistem agentic commerce.

“Interoperabilitas KYA antara jaringan kartu dan dompet digital sangat penting untuk membangun kepercayaan dalam agentic commerce bagi mitra pembayaran, platform, dan merchant kami,” ujarnya.

Ke depan, kolaborasi Ant International, Mastercard, dan Visa diharapkan dapat membantu menciptakan ekosistem agentic commerce yang lebih aman dan terukur. Ketika AI mulai diberi kewenangan untuk berbelanja dan melakukan pembayaran atas nama manusia, kemampuan untuk mengenali agen, memastikan tindakannya sesuai persetujuan pengguna, serta mengetahui pihak yang bertanggung jawab menjadi semakin penting.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version