Amartha Masuk Bisnis Investasi, Prosper Hubungkan Investor dengan UMKM Perempuan

Petugas lapangan Amartha mendampingi Ibu Wiwi, Petani Lobak Mitra Amartha di Pangalengan, Jawa Barat. (Foto: istimewa/amartha)

youngster.id - Perusahaan teknologi finansial (fintech) Amartha memperluas lini bisnis dengan menghadirkan Amartha Prosper. Ini adalah platform investasi Amartha yang menghubungkan investor ritel dengan pembiayaan produktif bagi pelaku UMKM perempuan di Indonesia.

Produk terbaru ini menjadi strategi Amartha untuk memperluas ekosistem bisnisnya, dari yang selama ini dikenal sebagai penyalur pembiayaan mikro menjadi penyedia alternatif investasi berbasis ekonomi riil.

Chief Funding Officer Amartha Julie Fauzie mengatakan, kehadiran Amartha Prosper merupakan respons terhadap meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi yang tidak hanya menawarkan potensi imbal hasil, tetapi juga memiliki dampak sosial.

“Di tengah kondisi pasar yang tidak menentu, masyarakat perlu semakin cermat memilih produk investasi. Melalui Amartha Prosper, masyarakat dapat berinvestasi sekaligus mendukung pembiayaan sektor riil, khususnya pembiayaan produktif UMKM perempuan di perdesaan. Investor bukan hanya memperoleh potensi imbal hasil, melainkan juga investasi yang disalurkan dapat memberi dampak ekonomi yang lebih luas dan inklusif,” ungkap Julie dikutip Selasa (14/7/2026).

Salah satu produk yang ditawarkan melalui Amartha Prosper adalah Grassroots Growth Series (GGS). Instrumen ini memungkinkan masyarakat menempatkan dana investasi yang kemudian disalurkan kepada pelaku UMKM perempuan binaan Amartha di lebih dari 50.000 desa di Indonesia.

Julie menjelaskan, Grassroots Growth Series menawarkan beberapa pilihan profil investasi, yakni Balanced-Flex, Balanced, Progressive, dan Dynamic, sehingga investor dapat menyesuaikan produk dengan tingkat toleransi risiko masing-masing.

Peluncuran Amartha Prosper juga menjadi upaya perusahaan menghadirkan diversifikasi investasi di luar instrumen konvensional. Sejak diluncurkan pada Januari 2026, perusahaan mengklaim produk tersebut mendapat respons positif dari investor ritel yang mulai mencari alternatif investasi berbasis sektor riil.

Selama lebih dari 16 tahun beroperasi, Amartha telah menyalurkan pembiayaan usaha senilai lebih dari Rp47 triliun kepada lebih dari 4 juta UMKM perempuan di wilayah perdesaan. Basis penerima pembiayaan tersebut kini menjadi fondasi bagi pengembangan bisnis investasi perusahaan.

Julie menilai investasi pada pembiayaan produktif UMKM memiliki karakter jangka menengah hingga panjang karena mengikuti siklus bisnis para pelaku usaha.

“Dengan berinvestasi melalui Amartha Prosper, masyarakat tidak hanya merencanakan masa depan keuangan mereka, tetapi juga turut memperluas akses pembiayaan bagi sektor riil yang mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Selain memberikan akses modal bagi pelaku usaha mikro, Amartha mengungkapkan pembiayaan yang disalurkan juga berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Pada 2025, UMKM binaan Amartha disebut menciptakan sekitar 90.000 lapangan pekerjaan baru melalui perekrutan karyawan pertama, dengan 86 persen di antaranya merupakan perempuan.

Sementara itu, Certified Financial Planner Lolita Setyawati menilai tren investasi masyarakat kini mulai bergeser. Jika sebelumnya investor lebih mengejar keuntungan dalam waktu singkat, kini semakin banyak yang mempertimbangkan profil risiko, tujuan keuangan, hingga transparansi pengelolaan dana.

Menurut Lolita, investor juga mulai ingin mengetahui ke mana dana mereka disalurkan, termasuk investasi yang terhubung dengan pembiayaan produktif bagi UMKM.

Ia mengingatkan masyarakat untuk tetap memperhatikan legalitas produk investasi, memahami mekanisme pengelolaan dana, serta menyesuaikan pilihan investasi dengan tujuan keuangan dan kemampuan finansial masing-masing.

 

STEVY WIDIA

Exit mobile version