youngster.id - Di balik geliat ekonomi Indonesia, sektor UMKM memegang peran besar dengan kontribusi lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, mayoritas pelaku usaha—sekitar 99%—masih berada di level usaha mikro. Tantangan pun masih banyak, terutama bagi perempuan, mulai dari kesenjangan literasi keuangan dan digital, keterbatasan akses pembiayaan, hingga minimnya ruang dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Di tengah kondisi tersebut, DANA bersama Ant International kembali menghadirkan program SisBerdaya dan DisBerdaya 2026. Director of Communications DANA, Olavina Harahap mengatakan, DANA menargetkan dapat menjangkau menargetkan partisipasi hingga 6.000 UMKM perempuan pada 2026.
“Dalam tiga tahun terakhir, SisBerdaya dan DisBerdaya telah menjangkau sekitar 9.000 UMKM. Tahun ini kami menghadirkan kurikulum baru, termasuk pembekalan gaya hidup finansial sehat agar usaha bisa berkelanjutan,” ungkapnya dikutip Selasa (7/4/2026).
Program ini juga diharapkan dapat meningkat 20% dibandingkan tahun sebelumnya, serta menjangkau lebih banyak wilayah di luar Pulau Jawa.
“Dengan demikian dapat membuka lebih banyak peluang bagi perempuan pelaku UMKM agar bisa berkembang dan naik kelas serta dampaknya semakin besar,” ujar Olavina.
DANA berkolaborasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Wakil Menteri PPPA Veronica Tan menegaskan, perempuan memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi nasional.
“Program ini memberikan ruang bagi perempuan untuk tumbuh, belajar, dan mengembangkan usaha,” ujarnya.
Di balik program ini, ada banyak cerita nyata dari pelaku UMKM perempuan yang berhasil berkembang. Salah satunya adalah Aisyah Nur Asri, pemilik Mad Quinn Beauty. Ia membuktikan bahwa adaptasi teknologi bisa dimulai dari hal sederhana.
“Sebagai usaha kecil, kita harus pintar mencari tools yang mempermudah bisnis, seperti merapikan media sosial, membuat landing page, dan memanfaatkan AI untuk ide pemasaran,” kata pemenang SisBerdaya 2025.
Cerita lain datang dari Inne Viryani, yang mengalami lonjakan penjualan hingga 130% setelah mengikuti program SisBerdaya 2023. Bagi Inne, pelatihan bukan hanya soal ilmu, tapi juga membuka akses ke mentor dan cara berpikir baru dalam bisnis.
Sementara itu, Eka Shandy Andi Ishak, pelaku usaha kerajinan tangan asal Sulawesi, merasakan pentingnya jaringan dan komunitas. Keterlibatannya dalam berbagai komunitas membuatnya lebih percaya diri mengembangkan usaha dan memperluas pasar.
Tak hanya soal bisnis, UMKM perempuan juga mampu menciptakan dampak sosial. Hj. Nurlaela, melalui brand kain Cantika Sabbena, tidak hanya mengangkat budaya lokal Bugis, tetapi juga memberdayakan perempuan.
“Saat ini 90% karyawan saya perempuan. Saya ingin menciptakan ruang bagi mereka untuk bertumbuh,” katanya.
Kisah inspiratif juga datang dari Rani Mei Lestari, penyandang paraplegia yang mendirikan DISPROMAN Laundry. Usahanya bukan hanya soal layanan cuci pakaian, tetapi juga membuka peluang bagi perempuan disabilitas untuk bekerja dan berkembang. “Setiap cucian bukan sekadar pakaian bersih, tapi juga cara mengangkat martabat,” ujarnya.
Melalui berbagai cerita ini, terlihat bahwa ada benang merah yang sama: kemampuan beradaptasi, kemauan belajar, membangun jaringan, menciptakan dampak, serta konsistensi menjadi kunci utama dalam mengembangkan usaha.
Program SisBerdaya dan DisBerdaya sendiri terbuka bagi pelaku UMKM perempuan yang telah menjalankan usaha minimal enam bulan, dengan kategori pendapatan Rp1–10 juta (ultra mikro) dan Rp11–30 juta (mikro). Pendaftaran dibuka pada 1–28 April 2026, dilanjutkan pelatihan selama tiga bulan hingga puncak program pada 30 Juni 2026.
Didukung berbagai mitra strategis, program ini diharapkan mampu mencetak lebih banyak perempuan pelaku usaha yang tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh, berdaya, dan berkontribusi pada ekonomi digital Indonesia secara inklusif.
STEVY WIDIA
