youngster.id - GoTo (PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk) menetapkan arah baru dalam strategi investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan berfokus pada efisiensi biaya dan peningkatan konversi pelanggan. Langkah ini diambil menjelang peluncuran produk berbasis AI secara lebih luas pada tahun 2027.
President Director dan Group CEO GoTo, Hans Patuwo, menjelaskan bahwa setelah fase eksperimen sejak 2024, GoTo memilih kombinasi frontier models, teknologi open-source, serta model AI berukuran lebih kecil (seperti 7 miliar, 9 miliar, hingga 27 miliar parameter) yang dilatih khusus dengan data dan konteks bahasa Indonesia.
Penggunaan model yang lebih fleksibel dan terjangkau ini dinilai penting untuk menghemat biaya operasional, mengingat pendapatan perusahaan menggunakan rupiah sedangkan konsumsi token AI dari penyedia global umumnya berpatokan pada dolar AS.
“AI harus mentransformasi bisnis Anda, bukan mengubah Anda menjadi bisnis yang sepenuhnya berbeda. Kami tidak berupaya menyelesaikan semua masalah dunia, melainkan memilih model yang lebih kecil dan efisien untuk kebutuhan operasional harian,” ujar Hans, seperti dilansir Business Times, Kamis (17/9/2026).
Dampak AI Terhadap Kinerja Keuangan dan SDM
Penerapan AI di ekosistem GoTo telah menunjukkan hasil konkret di beberapa lini operasional. Pada pilar Penanganan Layanan Pelanggan, AI kini menangani 35% tiket keluhan pelanggan GoTo, dengan tingkat kepuasan (satisfaction score) 20% lebih tinggi dibandingkan metode biasa. Sementara itu, pada lini Penagihan Finansial, bot AI di bisnis jasa keuangan berhasil meningkatkan tingkat penagihan (collection rate) sebesar 3 percentage point, disusul oleh 10 hingga 15 aplikasi baru yang saat ini masih dalam tahap pengembangan.
Kinerja operasional tersebut memperkuat capaian finansial GoTo pada triwulan II 2026, yang membukukan laba bersih sebesar Rp252 billion (US$14.3 million), berbalik dari kerugian Rp375 billion pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan bersih naik 31% menjadi Rp5,7 trillion, sementara EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp1,01 trillion.
Terkait pengaruh AI pada sekitar 4.000 karyawan GoTo, Hans menegaskan perusahaan menerapkan pengetatan rekrutmen melalui natural attrition serta memfokuskan retraining SDM untuk pekerjaan yang membutuhkan interaksi manusia tinggi.
Ke depan, teknologi AI yang dikembangkan secara internal juga berpeluang komersialisasi sebagai produk teknologi ke pihak eksternal. (*AMBS)
















Discussion about this post