youngster.id - Kebiasaan belanja online masyarakat Indonesia yang kian intensif mendorong lonjakan nilai transaksi e-commerce di dalam negeri. Berdasarkan laporan riset pasar terbaru dari Cube (Tradewinds), transaksi Gross Merchandise Value (GMV) Shopee di Indonesia tumbuh 19% pada semester I-2026 dan menembus angka fantastis sebesar US$21,3 miliar (sekitar Rp340,8 triliun).
Capaian tersebut mengukuhkan posisi Indonesia sebagai penyumbang terbesar kinerja Shopee di Asia Tenggara, dengan porsi mencapai 40% dari total transaksi regional yang tercatat sebesar US$53,9 miliar pada enam bulan pertama tahun 2026.
Meskipun pertumbuhan persentase tertinggi Shopee diraih oleh Filipina (+40%), Thailand (+32%), dan Malaysia (+32%), Indonesia tetap menjadi pasar raksasa yang terus menunjukkan percepatan tren dibanding tahun sebelumnya (18%).
Frekuensi Belanja Online Melonjak Jadi 10 Kali per Kuartal
Laporan Cube mengungkapkan bahwa lonjakan nilai transaksi ini berbanding lurus dengan frekuensi belanja konsumen yang semakin loyal. Pada kuartal II-2026, rata-rata pembeli di Indonesia mencatatkan 10,3 kali transaksi per kuartal di platform Shopee.
Angka ini melonjak hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan kuartal I-2023 yang berada di level 5,9 kali per kuartal. Data ini membuktikan bahwa aktivitas belanja secara digital kini telah menjadi bagian dari pola konsumsi harian masyarakat (habitual buying).
Peta Persaingan: Shopee Memimpin, TikTok Shop Melesat, Lazada Tergerus
Selain merekam kebiasaan belanja konsumen, laporan riset pasar ini turut menyoroti pergeseran peta persaingan di antara tiga platform e-commerce utama—Shopee, TikTok Shop, dan Lazada—di enam negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Shopee terbukti masih kokoh mempertahankan takhta kepemimpinannya dengan menguasai 55% pangsa pasar GMV gabungan sepanjang kuartal pertama dan kedua tahun 2026. Secara nilai absolut di tingkat regional, GMV Shopee bahkan melesat 24% secara tahunan (year-on-year) hingga menyentuh angka US$53,9 miliar pada semester pertama 2026.
Di saat yang sama, TikTok Shop terus menunjukkan laju ekspansi yang sangat agresif. Platform ini berhasil mengamankan 39% pangsa pasar pada semester pertama 2026, melonjak tajam dibandingkan raihannya pada tahun 2023 yang hanya sebesar 17%, disokong oleh pertumbuhan nilai transaksi tahunan yang menembus 93%.
Sebaliknya, Lazada harus menghadapi tekanan berat akibat pergeseran peta persaingan ini. Pangsa pasar Lazada tergerus cukup drastis dari 22% pada tahun 2023 menjadi tersisa hanya 6% pada semester pertama tahun 2026.
Meski persentase pangsa pasar Shopee terkoreksi dari 61% (pada 2023) menjadi 55% akibat laju ekspansi TikTok Shop, skala bisnis absolut Shopee tetap bertambah sebesar US$10,4 miliar pada semester I-2026. Hal ini menunjukkan bahwa kue industri e-commerce Indonesia dan Asia Tenggara secara keseluruhan terus membesar. (*AMBS)
















Discussion about this post