youngster.id - Konsumen Indonesia menjadi salah satu yang paling progresif di Asia Tenggara dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) generatif untuk merencanakan dan melakukan aktivitas belanja daring (e-commerce).
Berdasarkan laporan terbaru bertajuk E-commerce Influencer and Affiliate Marketing in Southeast Asia 2026 yang dirilis oleh impact.com, Cube, dan Dentsu, sebanyak 31% konsumen Indonesia kini rutin menggunakan perangkat AI seperti ChatGPT, Gemini, hingga Claude untuk menemukan produk dan mencari rekomendasi belanja. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi kedua tertinggi di kawasan, tepat di bawah Vietnam (34%), dan jauh melampaui Singapura (14%).
Secara regional, rata-rata 24% atau satu dari empat konsumen Asia Tenggara telah mengintegrasikan AI generatif ke dalam perjalanan belanja mereka. Tren ini menandai hadirnya AI sebagai kanal baru dalam tahap penemuan (discovery) dan pertimbangan (consideration) produk.
AI Mengubah Cara Penemuan, Kreator Memegang Kepercayaan
Meski teknologi AI kian marak digunakan, riset yang melibatkan 2.400 konsumen di Indonesia, Singapura, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Filipina ini menunjukkan bahwa rekomendasi pihak ketiga—seperti kreator konten, publisher, serta ulasan keluarga dan teman—tetap menjadi penentu utama keputusan pembelian.
Data menunjukkan bahwa rekomendasi keluarga dan teman masih meraih tingkat kepercayaan tertinggi (skor 2,42 dari 4), diikuti ulasan daring (2,36), dan rekomendasi kreator (1,98). Bahkan, 67% konsumen mengaku pernah membeli produk secara langsung karena rekomendasi spesifik dari seorang kreator.
AVP Customer Growth APJ impact.com, Nick Randall, menjelaskan bahwa AI tidak menggantikan peran kreator maupun media konvensional, melainkan bertindak sebagai lapisan baru (layer) yang memperkuat ekosistem perdagangan digital.
“Setiap pergeseran besar dalam e-commerce telah mengubah cara konsumen menemukan produk, dan AI mewakili evolusi berikutnya. Namun, meskipun proses penemuan terus berkembang, kepercayaan tetap sangat konsisten. Konsumen tetap mengandalkan kreator dan rekomendasi terpercaya untuk memvalidasi keputusan pembelian mereka,” jelas Nick, Senin (27/7/2026).
Temuan Utama Riset: Strategi Kemitraan Terintegrasi bagi Brand
Laporan riset ini menguraikan sejumlah aspek krusial yang wajib dicermati oleh pelaku industri dan brand di Indonesia dalam mengarungi lanskap e-commerce berbasis AI. Meskipun penggunaan AI kian marak, marketplace daring rupanya masih mendominasi sebagai kanal utama penemuan produk bagi 71% konsumen, disusul mesin pencari sebesar 57%, sebelum akhirnya konsumen memanfaatkan AI generatif. Hal ini turut menciptakan sinergi unik antara AI dan kreator, di mana 40% konsumen menyatakan kehadiran AI tidak mengurangi ketergantungan mereka pada rekomendasi kreator, sementara 38% lainnya menaruh tingkat kepercayaan yang seimbang di antara keduanya.
Di sisi lain, faktor autentisitas terbukti sukses mengalahkan sekadar penawaran harga. Hampir separuh konsumen (49%) memutuskan membeli produk melalui tautan afiliasi didorong oleh rasa percaya dan validasi ulasan yang jujur, jauh melampaui iming-iming diskon atau promo yang hanya mencapai 28%.
Dinamika ini mempertegas pentingnya pemasaran kemitraan yang saling terhubung. Seiring perjalanan belanja konsumen yang kian terfragmentasi—berpindah dari asisten AI, marketplace, hingga media sosial—brand membutuhkan strategi kemitraan terintegrasi yang selalu aktif (always-on) untuk dapat mengukur serta melacak performa pemasaran secara akurat.
Tingginya tingkat adopsi AI di Indonesia memberikan peluang besar bagi pelaku bisnis lokal untuk mengombinasikan strategi pemasaran berbasis influencer dengan optimasi konten berbasis AI guna menjangkau konsumen secara lebih efektif. (*AMBS)
















Discussion about this post