youngster.id - Google.org mengumumkan penyaluran dana hibah sebesar US$1,5 juta (sekitar Rp24,3 miliar) kepada Indonesia Open Network (ION). Dukungan ini dialokasikan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur digital publik (Digital Public Infrastructure/DPI) berbasis jaringan perdagangan terbuka (open digital commerce network) di Indonesia.
Inisiatif ini digagas ION bersama Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), serta para mitra strategis.
Sistem ION mengadaptasi konsep Open Network for Digital Commerce (ONDC) dari India. Berbeda dengan marketplace konvensional yang bersifat ekosistem tertutup (closed network), ION membangun jaringan terbuka yang menghubungkan penjual, pembeli, penyedia pembayaran, logistik, dan lembaga keuangan melalui satu standar teknologi yang sama. Pelaku usaha cukup mendaftarkan produknya satu kali untuk dapat ditemukan di berbagai aplikasi pembeli secara luas.
Presiden Direktur PT Indonesia Open Network, Bayu Prawira Hie, menegaskan bahwa ION hadir bukan sebagai saingan marketplace yang sudah ada.
“ION bukan marketplace. ION adalah jaringan digital terbuka yang memungkinkan seluruh pelaku ekosistem perdagangan digital saling terhubung. Yang kami bangun adalah infrastrukturnya,” tegas Bayu, dikutip Senin (27/7/2026).
Lewat alokasi hibah ini, ION menargetkan pemberdayaan hingga 100.000 usaha mikro pada tahun pertama, khususnya bagi pelaku usaha perdesaan agar dapat masuk ke pasar digital tanpa terbeban biaya awal yang besar.
AI Berpotensi Sumbang Rp910 Triliun bagi Ekonomi Indonesia
Momentum ini juga ditandai dengan peluncuran AI Economic Opportunity Report 2026 hasil kolaborasi Google, Public First, dan Kementerian Ekonomi Kreatif RI. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa pemanfaatan AI secara optimal berpotensi menyumbang nilai ekonomi hingga Rp910 triliun (US$55 miliar) atau setara 3,8% PDB Indonesia, apabila tingkat adopsi AI di sektor UMKM mampu menyamai perusahaan besar.
Vice President Government Affairs and Public Policy Centers of Excellence Google, Markham Erickson, menyoroti adanya kesenjangan yang menjadi peluang besar. Saat ini, baru 14,5% UMKM Indonesia yang memanfaatkan AI, dibandingkan 62,5% pada perusahaan skala besar.
“Peluang besar ada di depan kita. Jika adopsi AI UMKM setara dengan perusahaan besar, potensi nilai ekonomi Rp910 triliun ini dapat tercapai sekaligus membuka lebih dari 510.000 lapangan kerja baru,” kata Markham.
Secara khusus di sektor kreatif, penggunaan generative AI diperkirakan mampu menghasilkan dampak ekonomi Rp66 triliun per tahun dan menghemat rata-rata 390 jam kerja per pekerja kreatif. Selain itu, fitur lokalisasi berbasis AI seperti penerjemahan dan dubbing otomatis berpotensi membuka keran ekspor ekonomi kreatif hingga Rp6,7 triliun per tahun.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif / Wakil Kepala Bekraf, Irene Umar, menyambut positif kolaborasi ini untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global.
“Indonesia bukan hanya pasar dengan populasi besar, tetapi juga rumah bagi para kreator dan mesin kreatif yang mampu mengekspor karya ke dunia. Dunia membutuhkan produk yang datang dari Indonesia karena produk yang diciptakan dengan hati dapat menyentuh banyak orang,” ungkap Irene. (*AMBS)
















Discussion about this post