Sabtu, 4 Juli 2026
No Result
View All Result
youngster.id
Pratesis Ads
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development
No Result
View All Result
youngster.id
No Result
View All Result
Home Headline Digital Business

Momentum Works: Pasar Quick Commerce Asia Tenggara Tembus Rp113 Triliun

20 Mei 2026
in Digital Business
Reading Time: 3 mins read
Pasar Quick Commerce Asia Tenggara

Momentum Works: Pasar Quick Commerce Asia Tenggara Tembus Rp113 Triliun (Foto: Istimewa/youngster.id)

0
SHARES
0
VIEWS

youngster.id - Pasar layanan belanja cepat atau quick commerce di Asia Tenggara mencatatkan pertumbuhan signifikan dengan nilai transaksi bruto (Gross Merchandise Value/GMV) mencapai US$7,3 miliar (sekitar Rp113,8 triliun) sepanjang tahun 2025.

Berdasarkan laporan riset terbaru dari Momentum Works, angka tersebut kini berkontribusi sebesar 4,6% terhadap total pasar belanja daring (e-commerce) di regional. Meski demikian, porsinya masih berada di bawah 1% dari total keseluruhan industri ritel konvensional.

Data ini mengonfirmasi realitas baru di industri digital: infrastruktur pengiriman cepat di Asia Tenggara sudah sangat siap, namun kebiasaan atau perilaku konsumen (consumer habits) masih belum sepenuhnya beralih dari belanja luring (offline).

Berbeda dengan India yang mengandalkan jaringan dark store (gudang mikro) mandiri, atau China yang ditopang oleh kepadatan kurir pengantar makanan selama satu dekade, pertumbuhan quick commerce di Asia Tenggara menghadapi lanskap ritel fisik yang sudah sangat padat dan efisien.

Riset ini mencatat bahwa quick commerce di kawasan regional tumbuh dari sektor bahan pokok (grocery). Namun, penetrasi belanja bahan pokok daring di Asia Tenggara baru mencapai 4.2%. Singapura memimpin dengan 9,7%, sementara Indonesia berada di angka 2,8%.

Faktor utamanya adalah keberadaan jaringan ritel fisik yang sangat kuat. Di Indonesia, kota-kota besar telah dikepung oleh jaringan minimarket modern seperti Alfamart dan Indomaret. Sementara di Thailand, ekosistem toko kelontong dikuasai oleh konglomerat besar yang minim insentif untuk mendisrupsi jaringan offline mereka sendiri.

Untuk menyiasatinya, platform quick commerce kini mulai beralih strategi dengan berekspansi agresif di luar bahan makanan, seperti menyediakan kategori barang umum (general merchandise), perawatan pribadi (personal care), hingga farmasi.

Layanan pengiriman instan di bawah satu jam kini menjadi medan pertempuran baru bagi para raksasa teknologi regional. Momentum Works mencatat beberapa pergerakan strategis platform besar. Shopee, memanfaatkan infrastruktur pengiriman ShopeeFood untuk meluncurkan layanan instan di berbagai negara.

Lazada, menghadirkan layanan pemenuhan bahan pokok on-demand melalui RedMart Now di Singapura. Sementara itu, Grab, memperluas kategori produk pada GrabMart mulai dari kosmetik hingga barang umum lewat kemitraan bersama jaringan supermarket lokal.

Berbeda dengan wilayah global lainnya, platform di Asia Tenggara tidak membangun jaringan gudang dark store dari nol secara masif. Mereka memilih model bisnis yang lebih ringan aset (asset-light) melalui integrasi langsung dengan supermarket, minimarket, dan peritel fisik yang sudah ada.

Strategi ini dinilai lebih berkelanjutan secara finansial karena menghindari pengeluaran modal (capex) yang besar untuk penyewaan gudang baru, meski memiliki kompleksitas operasional dan koordinasi yang jauh lebih tinggi.

Laporan tersebut menegaskan bahwa formula bisnis quick commerce di Asia Tenggara tidak bisa disamaratakan dalam satu strategi regional, melainkan harus berbasis pendekatan lokal yang sangat spesifik di enam pasar utama.

Di Indonesia, pertumbuhan diproyeksikan akan lebih banyak didorong oleh platform e-commerce besar ketimbang jaringan minimarket seperti Alfamart atau Indomaret. Sementara di Thailand, peluang justru lebih condong ke arah pemain vertikal di kategori produk spesifik karena pasar minimarket umum sudah dikuasai oleh konglomerat.

Di sisi lain, Singapura sebenarnya memiliki kondisi struktural ideal seperti pendapatan tinggi dan wilayah yang padat, namun perkembangannya terbentur batasan skala pasar geografis yang kecil. Kondisi berbeda terlihat di Vietnam, di mana ritel modern terus berkembang tetapi kebiasaan membeli bahan makanan segar masyarakatnya tetap berpusat pada pasar tradisional.

Terakhir, Filipina dan Malaysia menyajikan tantangan ritel tersendiri; Filipina tercatat memiliki penetrasi ritel modern terendah yang masih berpusat di mal, sedangkan Malaysia harus menghadapi lanskap ritel yang terfragmentasi tanpa adanya satu pemain yang dominan.

“Tantangan terbesar industri quick commerce saat ini bukan lagi masalah pasokan atau ketersediaan kurir, melainkan densitas permintaan masyarakat,” kata Momentum Works menyimoulkan, Rabu (20/5/2026).

Untuk mengubah kebiasaan konsumen agar beralih ke layanan instan, dibutuhkan modal yang kuat guna menyamakan harga produk daring dengan toko offline. Kecepatan pengiriman memang menjadi nilai jual utama, namun bagi pasar Asia Tenggara yang sensitif terhadap harga, subsidi tarif tetap menjadi penentu adopsi pasar secara massal. (*AMBS)

 

Tags: AlfamartAsia Tenggarae-commerceekonomi digitalGrabMartIndomaretLazadaMomentum Worksquick commerceritel modernShopeetren digital
Previous Post

Atasi Celah Keamanan AI, Palo Alto Networks Luncurkan Platform Identitas ‘Idira’

Next Post

Atasi Kesepian Gen Z, Cove Luncurkan Fitur Media Sosial Pertama di Aplikasi Co-Living

Related Posts

pendanaan startup Asia Tenggara
Startup & Entrepreneurship

Cetak Rekor Baru, Pendanaan Startup Asia Tenggara Juni 2026 Meroket Tembus US$3,84 Miliar

4 Juli 2026
0
Grab-AI-assistant
Digital Business

Bantu UMKM, Asisten AI GrabMerchant Sukses Proses 1,08 Juta Pesan dalam 5 Bulan

4 Juli 2026
0
Indosat x Arsari Group
Industry

Indosat dan Arsari Group Resmikan PT Infra Fiber Teknologi, Nilai Transaksi Rp11,7 Triliun

3 Juli 2026
0
Load More
Next Post
Aplikasi Co-Living Cove App

Atasi Kesepian Gen Z, Cove Luncurkan Fitur Media Sosial Pertama di Aplikasi Co-Living

Oki Ramadhana CEO INA

Resmi! Oki Ramadhana Ditunjuk Jadi CEO INA Periode 2026-2031

Pendanaan Startup Asia Tenggara

Peta Baru Pendanaan Startup Asia Tenggara

Discussion about this post

Recent Updates

Program She Can

Program She Can, Gelar Literasi Keuangan bagi 1.200 Pasang Calon Pengantin di Pontianak

4 Juli 2026
Privy Digital Identity

Atasi Penipuan Tiket Konser, Privy Segera Integrasikan Digital ID ke Ekosistem Ticketing

4 Juli 2026
Platform SCF ICX

Catat Kinerja Impresif, Platform SCF ICX Fasilitasi Buyback Saham Investor Hingga Rp71 Miliar

4 Juli 2026
pendanaan startup Asia Tenggara

Cetak Rekor Baru, Pendanaan Startup Asia Tenggara Juni 2026 Meroket Tembus US$3,84 Miliar

4 Juli 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

Dera Perdana Shopian : Ajak Milenial Berdonasi Digital

27 Juni 2019
Sayurbox x Blitz

Sayurbox Gunakan Motor Listrik Blitz untuk Layanan Pengiriman

10 Januari 2024
Startup Hayokerja

Startup HayoKerja Hadirkan Solusi PHL bagi Perusahaan Pencari Tenaga Kerja

25 September 2023
fraud KoinP2P - KoinWorks

Gara-Gara Kasus Fraud KoinP2P, Rusak KoinWorks Sebelanga

22 November 2025
Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

Junaidi : Bikin Bimbel Karena Cinta Jadi Guru

0
Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

Brother Indonesia Rilis Aplikasi Mobile Brother iShop

0
Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

Bangun Bagian Dapur, IKEA Dukung Pembuatan Film “Ini Kisah Tiga Dara”

0
Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

Ferdian Yosa : Menangkap Tren di Bisnis Kuliner

0
Program She Can

Program She Can, Gelar Literasi Keuangan bagi 1.200 Pasang Calon Pengantin di Pontianak

4 Juli 2026
Privy Digital Identity

Atasi Penipuan Tiket Konser, Privy Segera Integrasikan Digital ID ke Ekosistem Ticketing

4 Juli 2026
Platform SCF ICX

Catat Kinerja Impresif, Platform SCF ICX Fasilitasi Buyback Saham Investor Hingga Rp71 Miliar

4 Juli 2026
pendanaan startup Asia Tenggara

Cetak Rekor Baru, Pendanaan Startup Asia Tenggara Juni 2026 Meroket Tembus US$3,84 Miliar

4 Juli 2026
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Layanan Bisnis
Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved
No Result
View All Result
  • News
  • Technopreneur
  • Creativepreneur
  • Sociopreneur
  • Innovation
  • Youth Development

Copyright © 2016 - PT Inovasi Muda Mandiri. All rights reserved

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.
Go to mobile version