youngster.id - Platform e-commerce mobil bekas terintegrasi di Asia Tenggara, Carsome, membukukan rekor pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$8,3 juta (sekitar Rp131 miliar) pada kuartal kedua 2026. Capaian ini tumbuh 38% secara tahunan (year-on-year) sekaligus mencatatkan rekor profitabilitas EBITDA selama sepuluh kuartal berturut-turut.
Secara volume, Carsome menjual 35.903 unit kendaraan sepanjang kuartal yang berakhir pada 30 Juni 2026, naik 11% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan laba kotor tercatat lebih cepat dengan kenaikan 15% menjadi US$43,8 juta. Lonjakan kinerja ini didorong oleh peningkatan transaksi penjualan ritel dan layanan pembiayaan (financing).
Co-Founder dan Group CEO Carsome, Eric Cheng, menegaskan bahwa hasil kuartal II 2026 mencerminkan efisiensi operasional (operating leverage) yang matang, di mana pertumbuhan laba bersih dan EBITDA melaju lebih cepat dibandingkan pertumbuhan volume penjualan kendaraan.
“Kuartal kedua memberikan hasil yang sesuai dengan target kami awal tahun. Kami menjual 11% lebih banyak mobil, menumbuhkan laba kotor sebesar 15%, dan meningkatkan EBITDA sebesar 38%. Setiap lini yang tumbuh lebih cepat dari lini sebelumnya adalah bentuk nyata dari efisiensi operasional,” ujar Eric, dikutip Jum’at (4/9/2026).
Ekspansi Agresif di Jabodetabek dan Pasar Indonesia
Dalam memperkuat penetrasi regional, pasar Indonesia—sebagai perekonomian terbesar di Asia Tenggara—menjadi fokus utama penguatan ekosistem Carsome. Pada kuartal ini, Carsome meresmikan empat lokasi baru di area Jabodetabek. Dengan penambahan tersebut, Carsome kini mengoperasikan total 10 pusat inspeksi dan showroom di wilayah metropolitan Jakarta dan sekitarnya.
Langkah ekspansi ini melengkapi penguatan jaringan di pasar utamanya, Malaysia, yang kini telah didukung oleh 55 pusat inspeksi dan showroom setelah pembukaan lokasi baru di Sungai Petani, Bukit Tinggi (Klang), serta Sungai Buloh.
Kendati kepemilikan mobil di Indonesia masih lebih rendah dibanding Malaysia atau Thailand, jumlah populasi yang besar menjadikan Indonesia pasar strategis dengan potensi pertumbuhan jangka panjang yang masif.
Model bisnis terintegrasi yang menggabungkan inspeksi transparan, penentuan harga pasti, hingga kemudahan akses pembiayaan dinilai menjadi solusi atas kompleksitas dan ketimpangan informasi di pasar mobil bekas domestik.
Fokus Pada Penjualan Ritel dan Pembiayaan Otomotif
Strategi Carsome untuk bertransisi dari sekadar transaksi wholesale menuju ekosistem ritel dan layanan keuangan menjadi kunci peningkatan margin usaha. Layanan pembiayaan, garansi, serta layanan purna jual memberikan nilai ekonomi per unit (unit economics) yang lebih tinggi dibanding sekadar mengejar volume penjualan unit.
“Prioritas kami hingga akhir tahun tetap fokus pada pertumbuhan volume transaksi, perluasan unit economics, dan pembuktian efisiensi operasional,” tambah Cheng.
Kinerja positif Carsome ini menunjukkan transisi industri startup di Asia Tenggara dari fase ekspansi agresif menuju pembuktian profitabilitas yang berkelanjutan. Di Indonesia, pasar mobil bekas terus tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat serta adaptasi akses kredit yang makin ramah pengguna. (*AMBS)


















Discussion about this post