youngster.id - Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia semakin dekat dengan aktivitas kreatif. Google mencatat Indonesia kini masuk dalam lima besar negara dengan penggunaan Gemini tertinggi di dunia. Bahkan, 32% penggunaan Gemini di Indonesia berkaitan dengan aktivitas kreatif, mulai dari membuat gambar, video, hingga musik.
Kreativitas tersebut juga terlihat dari tingginya penggunaan fitur multimodal. Sekitar satu dari dua prompt Gemini di Indonesia memadukan teks dengan gambar atau video. Setiap harinya, pengguna di Indonesia bahkan menghasilkan hampir 9 juta gambar melalui aplikasi Gemini.
Di sisi lain, industri mode menjadi salah satu bagian penting dalam ekonomi kreatif Indonesia. Pada awal 2026, sektor ini menyumbang 58,55% dari total ekspor barang kreatif Indonesia. Mode juga termasuk subsektor ekonomi kreatif yang memiliki peran besar dalam penyerapan tenaga kerja.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu alasan Google mengeksplorasi penggunaan Gemini dalam industri mode melalui “With Gemini, In Craft”. Inisiatif ini memperlihatkan bagaimana AI dapat digunakan sebagai partner kreatif bagi rumah mode, studio kreatif, dan pelaku usaha fashion, tanpa menghilangkan peran manusia sebagai pusat penciptaan karya.
“Proyek ini kita lakukan untuk mengeksplorasi, gimana sih Gemini bisa membantu pekerjaan-pekerjaan kreatif, terutama di dunia mode untuk melahirkan hal-hal yang baru,” ujar Mira Sumanti, Brand and Creative Lead Google South East Asia pada gelar Mind, Thread, Vision – With Gemini, In Craft, Kamis (3/9/2026) di Galeri Cipta 1, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Menurut Mira, penggunaan Gemini di Indonesia memang memiliki karakter yang cukup kreatif dan personal. Karena itu, Google ingin melihat lebih jauh bagaimana teknologi tersebut dapat membantu pekerja kreatif mengeksplorasi berbagai kemungkinan baru dalam proses berkarya.
Mia menegaskan, bagi Google, penggunaan AI dalam fashion bukan tentang menggantikan desainer. Justru, teknologi ditempatkan sebagai partner yang membantu kreator melakukan riset, mengeksplorasi ide, dan mempercepat pekerjaan teknis.
“Kami percaya bahwa AI itu paling penting adalah intensi orang-orang di baliknya, benar-benar human-centered,” katanya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika AI mulai masuk ke berbagai bidang kreatif. Teknologi dapat membantu menghasilkan visual, mengolah informasi, atau membuat simulasi, tetapi ide dan keputusan mengenai karya tetap berasal dari kreatornya.
Melalui “With Gemini, In Craft”, Google ingin menunjukkan bagaimana AI dapat membuka ruang eksplorasi baru bagi desainer Indonesia. Dari riset warisan budaya, pengembangan karakter, hingga proses produksi, Gemini digunakan untuk memperluas kemungkinan berkarya tanpa menghilangkan sentuhan manusia yang menjadi identitas sebuah karya.
Eksplorasi tersebut dilakukan bersama tiga label fashion Indonesia, yakni KRATON Auguste Soesastro, STELLARISSA by Stella Rissa, dan TWO STITCHES.
Bagi KRATON Auguste Soesastro, Gemini digunakan sebagai partner riset ketika mengembangkan koleksi bespoke couture untuk Kenya Kamalashila Soekarno, putri seniman Enrico Soekarno.
Melalui Gemini Deep Research, Auguste dapat mengakses arsip internasional, menerjemahkan dokumen sejarah berbahasa asing, serta memverifikasi silsilah antargenerasi dari enam wilayah leluhur.
Hasil riset tersebut kemudian menjadi bagian dari narasi dan dokumentasi koleksi couture. Dengan demikian, AI membantu memperluas proses pencarian informasi, sementara keahlian dan keputusan kreatif tetap berada di tangan desainer.
Eksplorasi berbeda dilakukan Stella Rissa melalui STELLARISSA. Ia memanfaatkan Gemini untuk mengembangkan karakter orisinal bernama Starlet yang awalnya dibuat melalui lukisan tangan.
Dengan bantuan AI, Starlet dikembangkan menjadi konsep visual 360 derajat dan virtual runway fitting. Karakter tersebut kemudian diperluas ke berbagai bentuk, termasuk rencana serial animasi podcast hingga koleksi figur seni fisik 3D.
Pengalaman ini menunjukkan bagaimana AI dapat membantu kreator membawa sebuah ide keluar dari medium awalnya dan mengembangkannya menjadi ekosistem kreatif yang lebih luas.
Sementara itu, TWO STITCHES memanfaatkan Gemini dalam pengembangan koleksi “MRTYNY”. Brand yang digawangi Andy Tan dan Jerome Kurnia ini memiliki tim yang tersebar di Jakarta, Bali, dan Berlin.
Sketsa konseptual dapat dikembangkan menjadi simulasi jatuh kain 3D dan virtual fitting pada model. Proses tersebut membantu memangkas waktu pembuatan sampel fisik dari hitungan bulan menjadi hitungan hari.
Gemini juga dimanfaatkan untuk membantu analisis pasar dan tolok ukur harga. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu brand meminimalkan pemborosan akibat produksi berlebih.
STEVY WIDIA
















Discussion about this post