youngster.id - Nilai transaksi bruto (Gross Merchandise Value/GMV) content commerce di Asia Tenggara diproyeksikan mencapai US$77,9 miliar pada tahun 2026. Pertumbuhan pesat ini didorong oleh integrasi fitur live streaming, video pendek, serta ekosistem affiliate berbasis konten yang kini menjadi bagian utama dalam lanskap e-commerce regional.
Berdasarkan laporan terbaru Momentum Works bertajuk Live Commerce in Southeast Asia 2026, gabungan GMV content commerce dari platform Shopee, TikTok Shop, dan Lazada mencatatkan nilai US$49,7 miliar pada tahun 2025, melonjak 98% secara tahunan (year-on-year).
Momentum Works mencatat nilai transaksi pada semester pertama (H1) 2026 saja telah menyentuh US$33,8 miliar. Dengan tren saat ini, total GMV sepanjang tahun 2026 diperkirakan berada di jalur yang tepat untuk mencapai target US$77,9 miliar. Porsi content commerce terhadap total GMV platform e-commerce di Asia Tenggara pun meningkat signifikan dari 20% pada 2024 menjadi 37% pada paruh pertama 2026.
Pergeseran Live Commerce dan Tantangan ROI
Live commerce kini bertransformasi dari sekadar saluran eksperimental menjadi bagian dari infrastruktur utama penjualan bagi para brand dan penjual (seller). Meski demikian, laporan Momentum Works mengingatkan bahwa tingkat imbal hasil investasi (Return on Investment/ROI) tinggi yang dirasakan saat ini akan makin sulit dipertahankan seiring ketatnya persaingan pasar.
“Tantangan jangka panjang bagi para brand bukan sekadar menjalankan live streaming secara efisien, melainkan menyatukan pembangunan merek (brand building) dan konversi penjualan—atau yang sering disebut brandformance,” tulis Momentum Works dalam laporannya, Selasa (8/9/2026).
Seiring berjalannya waktu, efisiensi operasional semata tidak lagi menjadi pembeda utama. Keberhasilan content commerce menuntut integrasi portofolio konten secara menyeluruh, mencakup live streaming, video pendek, ulasan produk, dan pemasaran affiliate.
Efisiensi Kecerdasan Buatan (AI) dan Strategi Lintas Kanal
Laporan ini juga mengungkit pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada aktivitas live streaming yang menawarkan efisiensi biaya secara struktural. Dalam beberapa skenario, operasional AI live hanya membutuhkan biaya sekitar 20% hingga 25% dari biaya operasional manusia, namun mampu menghasilkan rata-rata 80% GMV per jam dari kapabilitas penyiaran manusia.
Akses terhadap alat bantu berbasis teknologi yang makin terbuka membuat kapabilitas operasional makin mudah ditiru oleh kompetitor. Oleh karena itu, para pemilik merek dituntut menciptakan keunggulan kompetitif yang lebih mendalam di luar sekadar keahlian teknis operasional.
Selain itu, laporan tersebut menggarisbawahi bahwa ekosistem live commerce Tiongkok masih menjadi acuan paling matang dalam adopsi AI, otomatisasi, dan operasional berbasis data. Kendati demikian, model bisnis dari Tiongkok tidak bisa diterapkan mentah-mentah di Asia Tenggara mengingat dinamika kreator lokal, perilaku konsumen, dan struktur ekonomi saluran penjualan yang berbeda di tiap negara. (*AMBS)
















Discussion about this post