youngster.id - Tren transaksi digital di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan positif, bahkan di tengah kondisi ekonomi global yang penuh tantangan. Salah satu yang paling mencolok adalah penggunaan QRIS, yang menjadi andalan masyarakat untuk berbagai kebutuhan transaksi sehari-hari.
CEO PT ALTO Network, Gretel Griselda, menilai bahwa tren ini mencerminkan ketahanan ekonomi domestik yang cukup kuat.
“Di tengah kondisi ekonomi global saat ini yang cenderung memiliki volatilitas tinggi, kami melihat tren pembayaran di Indonesia masih stabil bahkan cenderung menguat,” katanya pada jumpa pers, Kamis (9/4/2026) di Jakarta.
Gretel memaparkan, perusahaan mencatat pertumbuhan volume transaksi hingga 50% secara tahunan (year-on-year).
“Hal ini menandakan daya beli masyarakat yang masih kuat di tengah situasi global. Momentum ini juga terlihat selama periode Lebaran 2026, di mana aktivitas transaksi tetap meningkat. Salah satu pendorong utamanya datang dari layanan QRIS yang semakin luas digunakan,” ungkapnya.
ALTO Network mencatat transaksi QRIS yang mereka proses tumbuh signifikan, dengan volume naik 89,56% dan nilai transaksi meningkat 94,18% dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal ini menunjukkan bahwa QRIS bukan lagi sekadar alternatif, tapi sudah menjadi bagian penting dalam ekosistem pembayaran digital di Indonesia—mulai dari transaksi UMKM, belanja harian, hingga kebutuhan gaya hidup.
Gretel menambahkan, peningkatan ini terlihat dari jumlah dan volume transaksi yang terus tumbuh.
“Ini dapat menjadi indikasi bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki daya konsumsi yang baik. Saat ini ALTO Network memproses hingga 30 juta transaksi per harinya,” ujarnya.
Menariknya, tingginya penggunaan QRIS juga membawa tantangan baru, terutama dalam mengelola volume transaksi yang besar dan beragam. Banyak institusi keuangan masih menggunakan sistem yang terpisah-pisah, yang berpotensi memperlambat proses monitoring dan pengambilan keputusan.
Chief Business Officer ALTO Network, Rangga Wiseno, menegaskan tantangan industri bukan hanya soal kecepatan transaksi. “Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana memproses transaksi dengan cepat, tetapi bagaimana memastikan seluruh proses di belakangnya—mulai dari monitoring, koordinasi, hingga penanganan kendala—bisa berjalan secara terintegrasi dan efisien,” katanya.
Untuk menjawab tantangan ini, ALTO Network menghadirkan inovasi terbaru. Pertama ASKARA Connect yang menyatukan berbagai proses operasional dalam satu sistem terintegrasi.
“Dengan visibilitas yang lebih menyeluruh, tim operasional dapat merespons isu dengan lebih cepat dan mengambil keputusan berbasis data,” kata Rangga.
Sedang untuk tantangan komunikasi, perusahaan teknologi finansial ini menghadirkan pendekatan berbasis interactive assistant dengan layanan ASKARA Collab. Platform ini menggabungkan automasi dengan peran manusia untuk memastikan proses koordinasi tetap cepat, terstruktur, dan mudah dilacak.
“Transformasi operasional ini tidak hanya berdampak pada pelaku industri, tetapi juga pada masyarakat sebagai pengguna akhir. Dengan sistem yang lebih terintegrasi, potensi gangguan transaksi dapat dideteksi lebih dini, waktu penanganan menjadi lebih cepat, dan risiko kegagalan transaksi dapat diminimalkan. Hal ini pada akhirnya menciptakan pengalaman transaksi yang lebih lancar, aman, dan andal,” ungkapnya.
Bagi pengguna, perkembangan ini membawa dampak langsung. Dengan sistem yang semakin terintegrasi, potensi gangguan bisa dideteksi lebih cepat, risiko gagal transaksi menurun, dan pengalaman pembayaran jadi lebih mulus.
Ke depan, integrasi teknologi, operasional, dan komunikasi akan jadi kunci dalam membangun sistem pembayaran digital yang bukan cuma cepat, tapi juga aman dan berkelanjutan. Melihat tren saat ini, QRIS diprediksi akan terus jadi motor utama pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
STEVY WIDIA
