youngster.id - Bank digital milik Grab di Indonesia, Superbank, mencatatkan pencapaian penting dengan resmi mengantongi keuntungan (profitability). Laporan terbaru dari Tech in Asia mengungkapkan bahwa Superbank menjadi satu-satunya entitas bank digital milik Grab di Asia Tenggara yang berhasil mencetak laba, di saat entitas serupa di Singapura dan Malaysia masih mencatatkan kerugian.
Sejak melantai di bursa (go public) pada akhir 2021, divisi layanan keuangan Grab secara akumulatif telah mencatat rugi EBITDA yang disesuaikan melebihi US$1,2 miliar. Namun, Superbank berhasil membalikkan keadaan dengan membukukan laba sebesar US$8,4 juta (sekitar Rp135 miliar) pada tahun 2025, disusul laba sebelum pajak sebesar US$5,8 juta pada awal 2026, serta melayani lebih dari 6 juta nasabah.
Kinerja positif Superbank berbanding terbalik dengan bank digital Grab lainnya di kawasan regional. Di Singapura, GXS Bank masih menanggung kerugian hingga S$214 juta (sekitar US$165,9 juta) pada tahun 2025, meskipun beroperasi di pasar utama dengan portofolio pinjaman yang mulai menunjukkan perbaikan. Sementara itu di Malaysia, GXBank masih berada dalam fase awal pengembangan dan belum mampu mencatatkan profitabilitas.
Integrasi Ekosistem Ovo Jadi Kunci Sukses Utama
Kunci utama di balik profitabilitas Superbank terletak pada integrasi mulus (seamless) dengan platform dompet digital Ovo, yang 90% sahamnya dikuasai oleh Grab. Pengguna Ovo dapat meningkatkan (upgrade) saldo dompet mereka secara langsung menjadi rekening tabungan Superbank tanpa perlu mengunduh aplikasi baru atau mentransfer dana secara manual.
Kemudahan alur kerja ini makin diminati berkat penawaran bunga tabungan sebesar 5% per tahun tanpa biaya administrasi maupun batasan maksimum deposit. Strategi ini terbukti memangkas hambatan akuisisi nasabah (onboarding) dibandingkan model bank digital tradisional.
Aset Superbank tercatat melonjak hingga 72% seiring dengan pesatnya adopsi pengguna dari ekosistem Grab dan Ovo.
“Keberhasilan ini menegaskan bahwa kunci keberlanjutan bisnis bank digital di Asia Tenggara terletak pada solusi produk yang tepat guna, bukan sekadar mengandalkan kekuatan merek,” kata Tech in Asia menyimpulkan, Kamis (23/7/2026). (*AMBS)

















Discussion about this post